Sandwich Americano

Brown Sugar
Chapter #7

Bab 7 Senior galak!

Hal yang membuat betah di tempat kerja itu bukan gaji, melainkan lingkungan pertemanan yang saling merangkul. Tidak ada SENIORITAS!

~Jennaira Cantik


.

.

Sudah pukul setengah dua siang, anak-anak shift dua mulai berdatangan berbarengan. Mereka berjumlah lima orang dengan kepala shift. Beriringan sambil cekikikan , aku tidak mau tau apa yang mereka bahas. Tidak ada yang terlalu suka dengan mereka, terutama aku. Mereka toxic, playing victim, tidak suka menerima saran dan kritikan. Juga, sangat senioritas!

Hari itu, aku memiliki dua pilihan atas keterlambatan ku. Pertama, pulang pada jam tiga sore dengan upah harian dipotong atau pulang malam dengan hitungan upah harian penuh. Tentu, aku memilih pulang jam tiga sore di bandingkan harus bekerja dengan kompeni.

"Minggir dong! Mau absen." Salah satu seniorku menyenggol bahuku. Perawakannya kurus berkulit lebih cerah dariku, jika dia berlalu akan tercium aroma bau tak sedap dari sela-sela ketiaknya dan aroma matahari yang kuat. Aku rasa dia butuh mandi parfum.

Aku minggir sebentar sembari memegangi lembaran uang seratus ribuan yang tengah ku hitung. Bau nya makin tajam, seperti bau bawang daun dan bawang merah. Aku bukan diskriminatif, jujur itu sangat menganggu indera penciuman.

"Kenapa lu liatin gua?" tanya nya seraya menatapku melotot.

"Enggak," jawabku menggulirkan bola mata.

Setelah selesai absen, senior ku yang bernama Miftah itu langsung berlalu dengan wajah sok garang nya itu menuju ruangan belakang. Syukurlah! Aku bisa menghirup aroma segar lagi.

Uang yang ku hitung sudah pas, sesuai dengan jumlah yang keluar dari struk. Akun juga sudah menyusun modal mulai dari uang pecahan besar hingga kecil dan recehan. Tugasku saat tutup shift menghitung uang bersama Kak Yura sampai benar-benar tidak ada minus ataupun plus. Gendis mengisi snack di gondola, kak Imam membersihkan meja kursi juga mengepel, sedangkan kak Eza mengurus administrasi return barang, order dan lainnya.

Ruangan admin begitu penuh, anak lawan shift tengah merapikan diri sambil ngoceh tak jelas. Terbahak-bahak dengan lelucon yang garing. Ada cipratan air liur yang keluar dari mulut salah satu seniorku. Mulutku menahan getir. Aku dan kak Yura saling bertatapan risih mendengarnya.

"Ada orang tuh!" kata Kak Eza menatap kesal kearah mereka. Ia masih berkutat dengan layar komputer di depannya.

"Yuk! keluar yuk," ajak kak Rena suaranya menyebalkan.

Lihat selengkapnya