Satu kata untuk langit yang menghitam tanpa bintang. Lelah!
Mataku sepet, ingin segera merebahkan diri. Kaki pegal, lima jam berjalan mengelilingi Gancit menuruti permintaan mas Bayu demi membahagiakan calon istrinya.
Ke toko emas, toko sepatu dan tas branded bahkan pakaian yang serba di atas seratus ribu. Aku pun di belikannya satu, kaos katun biasa yang sebenarnya tidak aku perlukan. Baju ku sudah numpuk, hanya saja mas Bayu selalu memaksa untuk menerima apapun yang ia hendak belikan. Rejeki tidak boleh ditolak!
"Terimakasih ya mas Bayu yang baik hati," puji ku saat hendak turun dari mobil Brio warna merahnya itu. Aku menutup hidung, bau pengharum rasa jeruk membuatku mual dan ingin muntah.
"Sama-sama, titip salam buat Mama Papa sama Fadilla, jangan lupa makanan nya di kasih ke mereka,"
"Aman," tutur ku meniti kan kaki ke tanah.
Udara segar bersemilir, serasa keluar dari penjara. Hanya tinggal lima langkah menuju gerbang rumah. Namun, aku teralihkan oleh dua sepeda motor yang parkir di depan rumah. Aku mendekat, merem kendaraan yang sering dipakai oleh debt colector atau Bank keliling.
Pintu gerbang pun terbuka sedikit, samar terdengar suara laki-laki saling menggerutu. Aku terbelalak kaget, mereka bertiga duduk di teras. Seragam mengenakan jaket kulit, tas selempang depan di dada. Menggunakan sarung tangan yang jarinya kelihatan, rahang tegas dan kotak. DC Pinjol? Mataku seakan mau copot, jantungku mulai kencang berdegup, tangan gemetar.
"Ca-ri ... Siapa?" tanyaku ciut.
"Bu Elva ada?" tanya salah satu dari mereka dengan logat khas Sumatra.
Aku tidak langsung menjawab, memandangi mereka satu persatu, melihat dari atas kebawah. Perawakan tinggi besar hampir setara, badan kekar berotot kalau kena pukul bisa mati.
"Woy Dek! Jawablah, bu Elva ada tidak?"
"Emh ... Emang ada apa cari bu Elva?"
"Kami mau tagih utangnya, dari pagi belum ada kabar, sudah nunggak dua bulan," jelasnya tegas.
"Memangnya berapa?" tanyaku.
"Cuman lima ratus ribu bunga sepuluh persen," keluhnya dengan suara gemetar.
"Kenapa gak besok aja kesini?"
Aku membuka kedua sepatu lalu menaruhnya di rak seperti biasa, hal monoton yang aku lakukan saat pertama kali tiba di rumah.
"Kami tidak di perbolehkan pulang,sebelum bu Elva bayar," jelas nya.
"Sama siapa?" tanyaku sedikit menggoda.