Sandwich Americano

Brown Sugar
Chapter #9

Bab 9 Orang-orang mata duitan

Kepalaku sakit,mata masih berat untuk melek. Aku memandangi jam dinding setengah sadar. Sudah pukul empat, suara orang murotal di masjid sudah terdengar. Rasanya, baru beberapa menit tidur sudah harus bangun lagi.

Aku menoleh kearah hp, di charger. Dengan rasa malas di tingkat seratus persen, aku berdiri. Rambut acak-acakan, mataku terasa bengkak. Saat bercermin benar saja, sembab. Aku tak mengingat apa yang ku tangisi semalam.


Segera ku masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Air dingin begitu terasa, tumben. Biasanya, mandi pada jam berapapun air tidak membuatku menggigil. Tetapi,pagi itu bagai mandi di air terjun. Aku tidak mau berlama-lama takut membeku.

Kegiatan pagi hari untukku begitu monoton, bangun, mandi dan berangkat kerja. Kalau sempat sarapan dulu, karena mama ku memang selalu bangun dini hari untuk memasak dan beres-beres rumah. Sesekali aku membantu, kalau lagi mood.

“Jenna, bangun!” teriak Mama dari luar kamar,di susul suara dentingan wajan.

“Udah,” sahutku mengencangkan suara.

Tak lama adzan subuh berkumandang, aku lekas memakai mukena sebelum buang angin lagi. Hal yang membuatku jengkel selepas berwudhu, apalagi ketika wajah sudah dipoles makeup.

Setelah menunaikan dua rakaat, aku melanjutkan merapikan rambut yang belum sempat ku sisir. Sambil bercermin, wajahku tampak lelah, mata panda kian menebal, beberapa jerawat muncul di area keningku. Usia ku masih dua puluhan tapi begitu banyak beban yang harus ku tanggung. Aku tidak mau menua sebelum waktunya.


“Mau makan dulu?” tanya Mama saat tahu aku keluar dari kamar.

“Di bawa aja,” sahutku.

Aku menyiapkan ompreng plastik warna pink yang sudah ada sejak zaman SMP. Bahannya awet, berkali-kali terjatuh pun tidak rusak, hanya ada sedikit goresan saja. Katanya, ada isu jika perusahaan ompreng ku akan tutup.

“Nanti mama ada arisan di rumah bu RT, bulan depan di rumah ini,” jelas mama membuatku tak enak hati.

Aku hanya diam, sambil menaruh beberapa lauk ke dalam ompreng. Hanya yang tumis saja, sebetulnya ada sop sayuran kesukaanku. Tetapi, tidak ada tempat untuk membawanya.

“Mama pinjam lima ratus ribu Jen, buat arisan nanti,” pintanya dengan nada melas.

Sudah kuduga!

“Jenna semalam habis transfer tunggakan SPP Fadilla, sisa uang Jenna tinggal sedikit,” ujarku.

Aku menutup ompreng dengan sangat kuat, karena kesal. Mama tidak merespon apapun, apa tidak mendengar jawabanku karena bergelut dengan suara mesin cuci.

“Bulan depan mama ganti,” bujuk mama.

Lihat selengkapnya