SANDYAKALA

NIRustika
Chapter #1

Kala SUNYA

Semarang

1 Mei 1998


Kumpulan bintang memenuhi langit malam, bulan sabit bersinar redup di antara mereka ...

"Apa yang sedang kamu lihat, Li?” suara lembut Cece[1] Juan membuyarkan lamunanku, seorang wanita berumur 25 tahun dengan rambut panjang lurus terurai juga bermata sipit sama denganku dan hidung bangir serta kulit putih menawannya berjalan masuk ke dalam kamar. Tubuh mungilnya menghampiriku yang duduk di pinggir jendela, kedua tangannya berada di belakang punggung.

”Hanya langit, Ce. Malam ini langit penuh bintang, Didi[2] jadi bisa melihatnya karena sinar bulan enggak terlalu terang.”

”Oh ya? Mungkin karena enggak ada Chandani di sini, cahaya bulannya enggak bisa bersinar,” gurau Cece Juan, aku tersentak.

”Ih, Cece ...” rajukku tersipu malu, Cece Juan tertawa karena telah berhasil menggoda adiknya.

”Di, apa enggak mau coba buat pesawat untuk terbang ke bulan dan kasih cahaya di sana supaya selalu bersinar setiap malam?” aku mengeryitkan dahi mendengar pertanyaan aneh Cece Juan.

”Apa maksud Cece Juan? Didi mboten ngertos[3].”

”Nanti sampeyan bakal ngerti, maka itu Cece belikan teleskop kecil ini untuk Didi karena Cece berhasil menjual banyak Lumpia Semarang di Jakarta.” kedua mataku terbelalak lebar saat melihat Cece Juan menyodorkan sebuah kotak panjang berukuran cukup besar, aku lekas mengambil dan membukanya. Aku menatap tidak percaya teleskop kecil hitam di genggamanku, pandanganku beralih ke Cece Juan.

”Ini benar untuk Didi, Ce?” Cece Juan mengangguk sambil tersenyum.

”Matur sembah nuwun[4], Ce. Nanti Didi gunakan di teras atas rumah Chandani sama Alvin, Casildo juga dengan Chandani. Akhirnya kami bisa lihat bulan, bintang dan planet-planet di luar bumi lebih dekat!” sorakku gembira, sebelumnya aku bersama ketiga sahabatku hanya membicarakan tentang ilmu astronomi melalui buku dan melihat taburan langit beserta bulan pada teras atas rumah Chandani. Kami berempat sangat menyukai suasana langit malam, terkadang adik laki-laki Chandani yaitu Yuwana ikut bergabung.

”Jangan lupa Ujian Nasional-nya, loh. Bukankah kalian ngincar Universitas Satya?”

”Ya, sebab itu Casildo rela pindah sekolah dari Jakarta ke Semarang karena kampus top itu.”

Lihat selengkapnya