Semarang
4 Februari 2024
Mendung mulai memenuhi langit senja, segerombolan awan hitam berkerumun seolah-olah siap menumpahkan air turun ke tanah...
Bola mata cokelat Li memerhatikan pemandangan sore hari dari balik jendela pesawat, sekali-kali ia memotret sesuatu di luar jendela dengan ponsel lipat birunya.
Akhirnya aku pulang, bagaimana penampilan sebenarnya orang-orang yang telah aku tinggalkan selama dua puluh lima tahun lebih? Sebelumnya aku hanya melihat mereka melalui media sosial atau video call, aku penasaran dan juga merindukan semuanya...
Tibalah pesawat yang ditumpangi Li di Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani, Li terpukau melihat kondisi berbeda dari Terminal Bandara Ahmad Yani.
Wow, aku benar-benar seperti orang asing di negara sendiri!
”Koko[1] Li, aku di sini Ko!” Li langsung menoleh ke arah suara berasal, ia terbelalak kaget melihat siapa yang memanggilnya.
”Adhik[2]? Yuwana? Apa itu kamu?”
Sosok laki-laki berumur 40 tahun berbadan tinggi melambaikan tangannya sambil mengangguk, Li bergegas menarik handle koper navy-nya dan langsung mencangklong tas kulit hitam berukuran besar di bahu, ia berjalan cepat menghampiri Yuwana. Mereka berdua saling berpelukan haru, senyuman hangat terlukis di wajah mereka.
”Wah, kamu sekarang gagah sekali! Pasti banyak wanita yang menjadi penggemarmu, Koko sampai enggak mengenali.” puji Li.
” Enggak juga, Ko. Aku sibuk kerja di Perusahaan Jerman yang berhubungan sama mesin pesawat, semua karyawannya enggak ada yang pakai rok alias para lelaki. Jadi, ketemu sama kaum hawa bisa dihitung dengan jari.” Yuwana menyeringai, Li tergelak geli.
”Koko sendiri juga tambah ganteng, seperti Oppa-Oppa Korea.” timpal Yuwana.
” Koko biasa saja, kerjaanku lebih banyak di dapur jadi enggak sempat mengurus diri seperti artis atau idola Korea. Bahkan tubuh Koko enggak bau wangi seperti mereka, tapi bau bumbu masakan! ” tukas Li, mereka berdua serentak tertawa keras sehingga membuat seluruh orang di Bandara menoleh ke arah mereka.
” Sebaiknya kita cepat pergi dari sini, Ko. Sebelum kita buat runtuh Bandara ini, Om Han dan Tante Lau sudah menunggu.”
” Nggih, ayo! ” Li membetulkan posisi tas kulit hitam yang dicangklongnya, Yuwana mengambil tas tersebut dari bahu Li.
” Biar aku yang bawa, Ko. Kelihatannya berat banget, apa isi tas ini? ” Yuwana penasaran.
” Oleh-oleh untuk semua, Singapura selalu dilintas banyak negara jadi banyak produk impor bagus yang dijual di sana.”
” Benarkah? Ada yang buat aku enggak, Ko? ”
” Ada, tenang saja. Semuanya dapat oleh-oleh! ”
” Asyiiikkk...kenapa enggak ditaruh dalam koper saja Ko? Jadi Koko enggak keberatan.”
” Di dalam koper juga ada oleh-oleh, tetapi oleh-oleh yang sangat special.” Li tersenyum rahasia, Yuwana memicingkan matanya.
” Pasti buat Mbak [3]Chandani, aku berani bertaruh.”
” Sebagian besar kamu betul, sebagian lagi bukan untuk Chandani.”
” Aku curiga, jangan-jangan hati Koko sudah beralih ke yang lain.”
” Jangan buat gosip, nanti viral bisa bahaya.” Yuwana terkekeh, Li merangkul Yuwana yang diikuti oleh senyuman lebarnya.
Hujan turun begitu deras seperti ditumpahkan langsung dari langit...
Mobil Jeep hitam Yuwana melaju pelan, ia menginjak pedal rem ketika lampu lalu lintas berubah merah. Yuwana menghela napas, wiper mobil bergerak ke kanan dan ke kiri.
” Sudah dua hari ini sering turun hujan, jadi susah ke mana-mana. Kasihan si kembar, mumpung lagi di Semarang aku ingin ajak jalan-jalan mereka.” keluh Yuwana.
” Si kembar sudah besar sekarang, ya.”
” Nggih, Ko. Enggak terasa waktu berjalan cepat sekali, rasanya baru kemarin aku antar mereka ke sekolah sama Mbak Chandani.” kenang Yuwana, Li tersenyum.
” Sepurane[4], apa si kembar...pernah tanya tentang Bapak’e? ” sesaat Yuwana terdiam, ia lalu menggeleng.
” Kabarnya sampai sekarang enggak tau, Ko. Sejak Mbak Chandani cerai sama dia, batang hidungnya enggak pernah kelihatan bahkan telepon atau kirim pesan pun enggak ada.”
” Andaikan Ayah kami masih hidup, mungkin nasib Mbak Chandani bisa lebih baik. Sayangnya aku belum punya apa-apa saat itu, aku baru mulai kerja di Perusahaan Jerman jadi aku enggak bisa berbuat banyak untuk bantu Mbak Chandani dan Biyung[5].” lanjut Yuwana.
” Koko minta maaf, karena enggak ada di saat kalian butuh bantuan, Kalau Koko masih di Semarang, Koko pasti buat perhitungan ke dia karena sudah memanfaatkan hingga menelantarkan Chandani.” sesal Li.
” Ora popo, Ko. Semua sudah berlalu, Mbak Chandani enggak pernah memikirkan dia lagi dan fokusnya sekarang hanya untuk ngebesarin si kembar supaya jadi orang sukses.”
” Jangan sungkan kasih tau Koko kalau kalian perlu bantuan, walaupun Koko ada di Singapura pasti Koko usahakan.” janji Li.
” Matur sembah nuwun[6], Ko. Mboten usah repot-repot[7], Mbak Chandani dan aku ngerti kalau Koko sibuk.”
” Inggih[8], pokoknya mulai detik ini sesibuk apa pun Koko bantu.” Li bersikeras.
” Koko enggak berubah, makanya aku lebih suka Koko yang jadi pendamping Mbak Chandani daripada dia.” Yuwana menginjak pedal gas setelah lampu lalu lintas menjadi hijau.
” Jodoh bukan kita yang atur, Adhik.”
” Usaha kan boleh, Ko...” seloroh Yuwana.
” Sampeyan sendiri gimana? Apa mau saingan ngejomblo sama Koko? ”
” Kenapa jadi aku? Umurnya yang lebih tua kan Koko, harusnya Koko dulu.” kilah Yuwana.
” Kalau Koko sedang tunggu waktu yang tepat.”
” Bisa saja, Koko ganteng dan seorang pengusaha sukses sekaligus chef terkenal. Apalagi yang harus ditunggu? Apa tunggu bidadari dari khayangan turun dari langit dulu? ”
” Kamu berlebihan, Koko enggak terkenal.” sanggah Li.
” Masa? Kalau enggak terkenal, kenapa follower di akun media sosial Koko sampai miliaran jumlahnya? ” serbu Yuwana.
” Oh ya? Koko enggak tau jumlahnya sampai segitu banyaknya, Koko lebih sering lihat akun Chandani. ” Li terbelalak kaget.
” Memang orang tampan selalu humble[9], lebih baik kita tukar wajah saja biar follower-ku banyak kaum hawa.”
” Waduh, jadi seperti di film Barat dong...! ” mereka berdua tertawa terbahak-bahak tanpa memedulikan hujan turun semakin deras.
Rumah
Matahari bersinar hangat membuat siapa pun yang merasakannya menjadi bersemangat untuk menyambut hari baru...
Hal itu juga dirasakan oleh Li, ia terlihat sibuk memasak di dapur hingga timbul rasa bingung dari Mami. Wanita tua berumur 60 tahun dengan rambut putih dan kerutan di wajahnya menjadi bertambah, ia menepuk pelan punggung Liam.
” Mami, sudah bangun? ”
” Didi mau masak apa? ”
” Didi mau masak untuk makan siang nanti, Mi.”
” Makan siang? Banyak sekali yang disiapkan, cuma kita berdua kenapa masak sebanyak ini? ” Mami terbelalak.
” Lho, Papi enggak dihitung? ”