Amygdala
Hujan pun turun deras dengan kilat dan gemuruh bersuara menggelegar...
Li menutup ponsel flip biru dan menaruhnya di atas meja bundar, ia lalu duduk di kursi kayu panjang dengan bantalan pada bagian punggung dan dudukannya.
” Kamu sudah telepon Mami-mu, Li? ”
Tampak Chandani duduk di salah satu kursi kayu, ia mengetik sesuatu di ponsel dengan dahi berkerut.
” Nggih, Mami bilang ora popo kalau aku pulangnya agak larut karena hujan.”
” Yo wes, santai saja kalau gitu.” Chandani menghela napas panjang.
” Ada apa, Chandani? Kelihatannya serius banget? ” tanya Li.
” Murid di tempat aku ngajar itu ngeyel enggak mau terima hasil tes hariannya, dia ancam aku pakai pengacara supaya aku diberhentikan jadi guru les.” jelas Chandani.
” Waduh, itu namanya enggak legowo[1].”
” Betul, aku ancam balik saja. Situ pakai pengacara, saya juga ada pengacara. Kita ketemu di Pengadilan, terus dia bilang yo wes kita pakai cara kekeluargaan saja. Mulut besar, tapi pengecut.” cerita Chandani.
” Kamu punya pengacara juga? ”
” Ada, kenalan dari salah satu mahasiswa waktu Biyung masih jadi dosen. Pengacara itu bantu urus perceraianku dulu, karena aku enggak bisa bolak balik bawa si kembar ke Pengadilan Agama.”
” Kalau kamu butuh bantuan apa pun, aku siap bantu.”
” Matur nuwun[2], aku masih bisa atasinnya kok.”
” Kamu itu enggak berubah, tetap galak dan berani.” Li terkekeh.
” Kalau aku enggak begitu, siapa yang bisa jagain si kembar? Adhik kerja di Jerman, cuma hanya ada aku sama Biyung. Aku harus jadi perisai buat mereka, mungkin beda kondisi misalkan Ayah masih ada.” sesaat mereka membisu.
” Semua peristiwa lebih dari dua dekade itu belum bisa terlupakan, mungkin Arvin dan Casildo juga merasakan yang sama.”
” Apa kamu masih belum mampu lihat foto Cece Juan? ”
Li mengangguk, ia menarik napas dan tubuhnya sedikit bergetar.
” Aku masih ingat ketika aku angkat kain penutup dan melihat jasad Cece yang penuh darah kering bahkan wajah cantiknya sudah tidak berbentuk lagi karena begitu banyak bekas memar, bau amis darah menusuk hidung masih terasa hingga saat ini sampai membuat aku sesak jika aku mengingatnya lagi.” Chandani menatap sedih Li.
” Nggih, waktu itu kamu teriak histeris hingga pingsan di Ruang Jenazah rumah sakit di Jakarta. Sampai aku sama Casildo dan Arvin spontan langsung masuk ke dalam, kami bertiga enggak sempat lihat jasad Cece Juan karena Papi-mu cepat menutupnya dengan kain jadi kami enggak tau bagaimana kondisi Cece Juan.”
” Makanya aku enggak bisa ke Jakarta, jadi terus ingat kejadian di Ruang Jenazah. Lagipula sanak keluarga kami sudah enggak tinggal di sana lagi setelah kerusuhan pada bulan Mei, keluarga Acek pindah dan menetap di Singapura tapi status kewarganegaraan mereka tetap Indonesia. Mereka termasuk aku juga Papi sama Mami termasuk mendiang Cece Juan enggak benci negara ini, mereka hanya benci orang-orang yang memanfaatkan negara demi kepentingan diri sendiri.”
” Setuju, Li.” sahut Chandani.
” Sebenarnya...aku sudah konsultasi ke psikolog, aku dikasih obat penenang tapi trauma itu masih belum hilang. Jadi semuanya tergantung dari aku, apa mau dilawan atau berdamai dengan trauma tersebut.”
” Kalau aku pikir lagi, kita berempat sama-sama punya trauma di tahun itu. Tahun yang kelam, kita bingung mau menuntut ke siapa karena sampai sekarang kasus dari tragedi pada bulan Mei dan bulan November pun belum terpecahkan secara tuntas.”
” Inggih, sebab itu juga Arvin dan Casildo ragu datang ke Acara Reuni Kampus khusus Angkatan 98. Casildo sempat bilang, gue kan semester dua cabut dari kampus...kenapa disuruh datang ke Acara Reunian padahal gue bukan lulusan Universitas Satya? Aku ketawa pas dengar kata-katanya, lalu gimana dengan aku sendiri yang lebih dulu keluar dari kampus? ” Li menyeringai.
” Benar, kamu ke Singapura sebelum kejadian tragedi bulan November. Terus Arvin pindah ke Sekolah Seminari di Magelang pas pertengahan kuliah tahun depannya, jadi aku sendirian yang kuliah dan lulus dari Universitas Satya. Kalian bertiga tega tinggalin aku, janjinya terus sama-sama tapi buktinya mana? Dasar pengkhianat! ” serbu Chandani.
” Sepurane, aku pindah ke Singapura karena Acek butuh bantuan buat usaha toko makanannya sekalian aku kuliah bisnis juga di sana. Asim baru melahirkan anaknya yang kedua dan anak pertamanya baru masuk sekolah, jadi enggak ada siapa pun yang bantu. Papi baru mulai kerja di restauran temannya, sedangkan Mami super sibuk jadi jurnalis. Apalagi situasi waktu itu selalu warning, info baru terus dikejar.”
” Aku ingat Casildo sama Tua[3] dan Tanta[4] pindah ke Belanda, dia sudah enggak tahan dengan gosip yang berseliweran tentang Mama-nya. Papa-nya pun pulang ke Manado karena perusahaannya pailit, aku sungguh kasihan sama Casildo saat itu. Namun sekarang tanpa disangka...dia tawarin aku sebagai penerjemah buat karyawan atau tamu perusahaan barunya nanti pas awal bulan Juli di Seoul, padahal aku cuma guru les Bahasa Korea.” Chandani terkekeh.
” Hebat kamu, kamu terima enggak? ”
” Aku biasa saja, Li. Aku minta waktu dulu, karena si kembar baru masuk SMP dan butuh banyak persiapan. Biyung enggak bisa tanganin sendirian, Adhik juga belum pasti bulan Juli bakalan ada di Semarang atau enggak.”
” Repotnya seorang Ibu, aku bisa ke Semarang lagi buat bantuin kamu.”
” Enggak usah! Aku enggak mau ngerepotin kamu, kamu itu pasti sibuk banget karena bos itu harus selalu awasin kerjaan para karyawannya kalau enggak mau bangkrut.”
” Kata sopo? Sekarang aku sudah mulai punya waktu luang, buktinya aku bisa ke Semarang sekarang. Urusan restauran di Singapura bisa ditangani sama dua saudara sepupuku, aku bisa kontak mereka dari Semarang juga lewat video call atau aplikasi meeting.” sanggah Li.
” Aku tetap enggak mau, apalagi kata kamu tadi ada rencana mau buka dua cabang restauran baru lagi.”
” Kan baru rencana, Chandani...”
” Tetap aku enggak mau...!!! Kamu kok ngeyel maksa-nya? ” Li tertawa melihat raut wajah jengkel Chandani.
” Yo wes kalau itu mau kamu, aku enggak maksa lagi. Cuma kalau kamu butuh bantuan, jangan segan bilang ke aku ya...”
” Inggih, matur nuwun.” sejenak Chandani terdiam.
” Kamu kenapa lagi? Jadi membisu begitu? ”
” Enggak, sebenarnya aku berencana masukin si kembar ke Pondok Pesantren bulan Juli tahun ini supaya Biyung enggak kerepotan urus mereka pas aku lagi ngajar tapi Biyung ngelarangku. Biyung bilang rumah jadi sepi kalau mereka enggak ada, aku jadi bingung. Jujur aku tertarik dengan tawaran Casildo, aku ingin lebih berkembang dan lihat dunia di luar sana.” tutur Chandani, Li menatap iba.
” Andai saja Ayah masih hidup, mungkin Biyung enggak bakalan kesepian. Sampai sekarang aku masih suka salahin diri sendiri karena kepergian Ayah, aku terus berpikir kenapa aku nekat pergi ke Jakarta waktu itu. Misalkan aku enggak ke Jakarta, mungkin Ayah masih bisa sempat lihat kedua cucunya.”
” Jangan berpikir seperti itu, biar bagaimana pun juga takdir enggak bisa ditolak. Aku pernah punya pikiran kayak kamu, tapi pada akhirnya aku lihat realita yang sudah terjadi dan coba menerimanya walaupun aku masih belum sembuh dari trauma.” nasihat Li.
” Aku tau, cuma aku enggak bisa bohong kalau aku masih berharap waktu bisa berputar kembali. Kalau dikasih kesempatan sekali lagi, pasti aku enggak mau ke Jakarta dan enggak bakalan ke mana-mana jadi Ayah enggak kena serangan jantung. Aku enggak bisa ngebayangin bagaimana paniknya Ayah pas dengar aku ada di Jakarta ditambah pula banyaknya liputan berita langsung di televisi tentang situasi Ibukota, suara Yuwana selalu terngiang di kepala waktu dia bilang kondisi Ayah sedang kritis saat aku telepon ke rumah dari handphone Casildo. Rasa ingin secepatnya pulang tapi keadaan enggak ngedukung sama sekali, aku nangis nyesel banget sampe ngutuk diri sendiri.” kedua mata Chandani berkaca-kaca.
” Casildo juga lagi terguncang karena berita tentang kematian tragis Mama-nya yang ditemukan banyak suntikan pada tubuhnya, Arvin pun menghilang enggak tau ke mana. Pas sudah ketemu, wajahnya shock banget dan dia bilang lihat salah satu jasad korban penembakan adalah Davina, perempuan yang dia suka. Dia enggak peduli sama tubuhnya yang penuh luka juga memar habis digebukin sama Aparat Keamanan, karena penyakit CIPA[25]-nya jadi dia enggak ngerasain sakit sama sekali.” Chandani mengusap air mata di wajahnya, Li terpaku.
” Nyuwun pangapunten, aku sungguh nyesel enggak ikut sama kalian bertiga waktu itu.” sesal Li, ia menunduk.
” Ora popo, kondisi kamu juga masih belum kuat.”
” Kalau aku sudah tau bakalan seperti itu, aku usahakan ikut juga.”
” Terus, gimana kalau mendadak kambuh penyakit trauma kamu? Bukannya ngebantu malah jadi buat repot, karena kami bertiga khawatir sama kondisi kamu! ” sembur Chandani, Li tercengung.
” ...Nggih, aku ngerti.”
Suasana hening lalu menyelimuti mereka berdua yang sibuk dengan pikiran masing-masing, suara air hujan deras beserta gemuruh petir di luar rumah ikut mengiringinya.