Kala CATUR
Semarang
14 Februari 2024
Gulat merah di langit senja menampakkan sisa cahaya matahari yang mulai beranjak turun...
Li merebahkan tubuhnya sambil memandang lepas ke arah langit sore, ia menarik napas panjang.
Bagaimana kabar kelanjutannya Arvin dan Casildo sekarang?Mereka berdua kalau sudah ribut, berdamai kembali susah banget tapi pas sudah rukun lagi sulit terpisahkan...
Tiba-tiba dua wajah yang sangat dikenalnya muncul di atas wajahnya, Li tersentak dan terlonjak duduk.
” Yuslan, Zenia...kalian bikin kaget saja.”
” Appa ngapain di sini? ” tanya Zenia bingung.
” Ini adalah tempat kenangan Appa dulu sama Ibu dan Om Yuwana, juga sama dua orang Om kalian yang lain, Om Arvin dan Om Casildo.” Li memandang sekelilingnya sambil tersenyum.
” Kenangan opo? Cuma teras atas rumah, Otousan.” dahi Yuslan berkerut.
” Kalian enggak tau serunya nongkrong di sini, kalau sudah malam bisa lihat bulan dan bintang bertaburan di langit.” Li menatap kotak panjang di pangkuannya.
” Apa itu, Appa? ”
” Ini teleskop, pemberian dari Tante Juan.”
” Yuslan, Zenia, kalian sedang apa di atas? Ayo, cepetan mandi! ” terdengar suara Chandani dari dalam.
” Inggih, Bu.” sahut si kembar, mereka bergegas masuk.
Tak lama kemudian Chandani muncul sambil membawa nampan plastik berisi biskuit berkaleng besar serta minuman teh dalam bentuk botol, ia meletakkannya di samping Li.
” Diminum, Li. Maaf aku tadi bantu Biyung beberes dulu sekalian urus si kembar, kamu jadi dianggurin di sini.” Chandani ikut duduk bersama Li.
” Ra popo, aku juga lagi menikmati Sandyakala[1].”
” Sandyakala? Apa itu Sandyakala? ”
Li menunjuk ke arah langit yang dipenuhi oleh warna merah, Chandani terpukau.
” Indah sekali, ya...” senyumnya, Li menatap lekat Chandani.
” Ada apa? ” sinis Chandani, Li menggeleng dengan sedikit tergelak geli. Ia lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan satu kotak kecil beludru berwarna putih, Li menyodorkannya ke arah Chandani.