
Embun Pagi di Desa Sukamaju dan Pesona Sang Kembang Desa
Pagi hari di Desa Sukamaju selalu dimulai dengan ketenangan yang menyelimuti hamparan sawah hijau. Embun pagi masih menempel di ujung-ujung daun padi, memantulkan cahaya matahari terbit yang perlahan-lahan menghangatkan bumi. Di antara kesibukan fajar, Shasmira—putri tunggal Kepala Desa Kyai Ahmad—sudah tampak membersihkan teras rumah panggung tradisional mereka. Suara sapu lidi yang bergesekan dengan lantai papan kayu menciptakan irama yang konstan, menyatu dengan suara kokok ayam jantan dari kejauhan.
Kecantikan Shasmira bukan hanya sekadar paras ayu dengan kulit bersih dan senyum yang meneduhkan, tetapi juga terpancar dari ketenangan pembawaannya. Sebagai anak seorang tokoh yang paling disegani di desa, ia tidak pernah memanfaatkan status ayahnya untuk bersikap angkuh. Sebaliknya, ia dikenal sangat ramah, ringan tangan membantu warga, dan selalu menjaga kesopanan dalam berpakaian maupun bertutur kata.
Bagi para pemuda desa, Shasmira adalah lambang kesantunan yang sulit dicari tandingannya. Namun, pujian yang datang silih berganti tidak pernah sedikit pun melenyapkan kerendahan hatinya. Ia meyakini bahwa kecantikan fisik adalah titipan, sementara kemuliaan akhlak adalah pilihan yang harus dijaga.
"Pagi sekali kamu menyapu halaman, Shas," sapa seorang wanita paruh baya sambil berjalan membawa bakul berisi hasil kebun. Itu adalah Mbok Darmi, tetangga terdekat mereka yang sudah dianggap seperti bibi sendiri oleh Shasmira.
Shasmira menghentikan sejenak pekerjaannya, lalu tersenyum manis menyambut kedatangan wanita itu. "Iya, Mbok. Biar udaranya terasa lebih segar kalau halaman bersih. Mau ke pasar, Mbok?" tanya Shasmira dengan suara yang lembut.
"Iya, Nduk. Ini mau jual sedikit hasil panen singkong ke pasar desa. Ayahmu ada di dalam?" tanya Mbok Darmi seraya melangkah mendekati teras.
"Ayah sedang bersiap ke surau, Mbok. Baru saja selesai sarapan," jawab Shasmira sopan sambil meletakkan sapu lidinya bersandar di dinding.
Dari dalam rumah, terdengar suara langkah kaki yang mantap. Kyai Ahmad, seorang pria paruh baya dengan kopiah hitam dan sorban putih tersampir di bahunya, muncul dari balik pintu. Wajahnya memancarkan wibawa dan ketenangan batin yang mendalam.
"Pagi, Mbok Darmi. Mari mampir dulu, minum secangkir teh hangat sebelum ke pasar," ajak Kyai Ahmad dengan nada ramah.
"Ah, tidak usah repot-repot, Kyai. Waktu saya sudah lewat sedikit ini, takut kesiangan di pasar," tolak Mbok Darmi halus. "Saya hanya kagum saja melihat Shasmira rajin sekali. Beruntung sekali kelak lelaki yang bisa meminangnya."
Mendengar godaan itu, pipi Shasmira merona kemerahan. Ia segera menundukkan pandangannya, pura-pura merapikan ujung kerudungnya.
"Ah, Mbok ini bisa saja," kata Shasmira pelan, berusaha menyembunyikan rasa malunya.
Kyai Ahmad tersenyum bijak melihat tingkah putri kesayangannya itu. Ia menepuk pelan bahu Shasmira dengan penuh kasih sayang. "Jodoh itu rahasia Allah, Mbok. Yang penting sekarang Shas fokus belajar menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama," ucap Kyai Ahmad menengahi.
"Betul sekali kata Kyai. Kalau begitu, saya pamit dulu ya. Assalamu'alaikum," pamit Mbok Darmi sambil melambaikan tangan.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Kyai Ahmad dan Shasmira hampir bersamaan.
Setelah Mbok Darmi berlalu, Kyai Ahmad menatap putrinya dengan tatapan teduh. "Shas, nanti selepas Dzuhur, tolongantarkan rantang berisi makanan ini ke rumah Pak Tani di ujung desa ya. Kemarin kakinya terkilir di sawah, sepertinya mereka belum sempat memasak dengan layak."
"Baik, Ayah. Shas pasti antarkan nanti," jawab Shasmira mantap.
❖ ❖ ❖
Hari semakin siang, dan matahari telah meninggi di atas langit Desa Sukamaju. Shasmira menepati janjinya. Dengan mengenakan gamis sederhana berwarna hijau lumut dan kerudung senada, ia berjalan kaki menyusuri jalan setapak setapak pematang sawah menuju rumah Pak Tani. Angin sepoi-sepoi berhembus membawa aroma tanah basah dan jerami kering.
Namun, ketenangan perjalanan itu seketika terusik ketika ia melewati area perbatasan dusun. Sekelompok pemuda pembuat onar yang dipimpin oleh Reno—seorang pemuda kaya dari kota sebelah yang sering datang ke desa—tengah duduk-duduk nongkrong di bawah pohon beringin tua. Reno dikenal gemar berfoya-foya dan kerap mengganggu ketenteraman warga.
Melihat Shasmira berjalan seorang diri, mata Reno langsung berbinar penuh kelicikan. Ia sudah lama mengincar kembang Desa Sukamaju itu, namun selalu gagal mendekatinya karena penjagaan ketat dari warga dan wibawa Kyai Ahmad.
"Wah, wah, lihat siapa yang lewat sendirian siang-siang begini," seru Reno sambil berdiri dari duduknya, menghalangi jalan Shasmira. Dua orang pengikut setianya, Jaka dan Doni, ikut berdiri di belakangnya sambil terkekeh-kekeh merendahkan.
Shasmira menghentikan langkahnya. Jantungnya berdegup lebih kencang, namun ia berusaha tetap tenang dan tidak menunjukkan rasa takut di hadapan mereka. Ia sedikit memundurkan langkahnya, menjaga jarak aman.
"Permisi, Kak Reno. Saya ingin lewat," ucap Shasmira tegas namun tetap sopan, menundukkan pandangannya agar tidak menatap langsung mata pemuda itu.
"Mau buru-buru ke mana sih, Shas? Cantik-cantik kok jalan sendiri di jalan sepi begini. Bahaya lho," ujar Reno sambil melangkah mendekat dengan senyuman sinis yang membuat Shasmira merasa risih.
"Saya ada urusan penting. Tolong berikan jalan," pinta Shasmira sekali lagi dengan suara yang sedikit meninggi, menunjukkan ketidaksukaannya.
"Urusan apa? Paling-paling mengantar makanan lagi ya? Sudahlah, buat apa repot-repot mengurus orang susah. Mendingan nongkrong sebentar sama kita, ditemenin ngopi di warung ujung," rayu Reno seraya mengulurkan tangan hendak menyentuh pergelangan tangan Shasmira.
"Jangan sentuh saya!" seru Shasmira sambil menepis tangan Reno dengan cepat, rasa maraknya mulai terpancar dari sorot matanya.
Reno terkejut sesaat, lalu tertawa kecil meremehkan. "Wah, sombong juga kembang desa kita ini. Mentang-mentang anak Pak Kyai, jadi jual mahal?"
Situasi mulai memanas. Shasmira merasa terpojok di bawah terik matahari, sementara suasana jalanan saat itu sedang sepi dari warga yang lalu-lalang.
❖ ❖ ❖
Di tengah ketegangan yang mencekam itu, tiba-tiba terdengar suara derap langkah kuda yang berlari kencang dari arah tikungan jalan. Debu mengepul di udara seiring munculnya sesosok pemuda menunggang kuda hitam yang gagah. Pemuda itu mengenakan pakaian perjalanan berdebu dengan pedang terselip di pinggangnya—menandakan ia bukan orang sembarangan di wilayah itu.
"Ada apa ini?" suara bariton yang tegas dan berwibawa menghentikan niat Reno.
Pemuda itu menghentikan kudanya tepat di samping Shasmira, lalu turun dengan sigap. Ia menatap tajam ke arah Reno dan kelompoknya. Namanya Arya, seorang musafir sekaligus pemuda bangsawan dari negeri seberang yang tengah singgah di Desa Sukamaju untuk mencari leluhurnya.
Reno mengerutkan kening, tidak senang dengan kehadiran orang asing yang dianggapnya ikut campur urusannya. "Hei, anak muda! Jangan ikut campur urusan kami. Ini urusan internal desa!" bentak Reno mencoba menutupi rasa gentarnya.