Cahaya di Madrasah Al-Hikmah
Menjelang siang, langkah kaki Shasmira beralih menuju Madrasah Al-Hikmah, tempat ia menuntut ilmu agama sekaligus mengabdikan diri sebagai salah satu santriwati teladan. Di ruang kelas yang berdinding kayu itu, Shasmira selalu duduk di barisan depan dengan buku catatan dan kitab kuning yang tersusun rapi.
"Shasmira, apa kamu sudah merangkum bab tentang syarat sahnya qiyas yang diterangkan kemarin sore?" bisik Aminah, teman sebangkunya, seraya merapikan letak kitab Fathul Qarib miliknya.
Shasmira menoleh, tersenyum ramah, lalu mengeluarkan sebuah buku tulis bersampul cokelat dari dalam tas kainnya. "Sudah, Min. Bahkan kutambahkan catatan kaki dari penjelasan Kiai Hasan tadi malam. Kalau kamu butuh pinjam, nanti istirahat pertama ambil saja di kamarku."
"Alhamdulillah, kamu memang penolong sejatiku, Shas," balas Aminah dengan mata berbinar-binar penuh rasa terima kasih.
Kecerdasan Shasmira menjadi buah bibir di antara para guru dan teman sebayanya. Ia tidak hanya cepat memahami ilmu-ilmu kompleks seperti nahwu, shorof, dan tafsir Al-Qur'an, tetapi juga memiliki daya kritis yang tinggi dalam berdiskusi. Ketika sesi tanya jawab dibuka oleh Sang Kiai, Shasmira kerap memberikan argumen yang tajam namun tetap santun, menyandarkan setiap pendapatnya pada dalil yang kuat.
"Bagaimana pandanganmu tentang konsep maslahah mursalah dalam konteks modern saat ini, Shasmira?" tanya Kiai Hasan suatu hari, menguji ketajaman santrinya di hadapan puluhan pasang mata.
Dengan tenang, Shasmira berdiri, merapikan jilbabnya, lalu menjawab, "Menurut pandangan saya, Kiai, selama kemaslahatan tersebut sejalan dengan maqashid syariah dan tidak bertentangan dengan nash yang qath'i, maka ia dapat dijadikan landasan hukum. Namun, kita harus tetap berhati-hati agar tidak terjebak pada subjektivitas semata."
Kiai Hasan mengangguk puas, senyum tipis terukir di bibirnya yang berjanggut putih. "Jawaban yang sangat bernas. Kamu menelaahnya dari kitab apa semalam?"
"Dari Al-Muwafaqat karya Imam Al-Shatibi, Kiai," jawab Shasmira sopan.
Meskipun kerap menjadi juara kelas, ia tidak pelit ilmu. Shasmira sering menyisihkan waktunya seusai jam pelajaran untuk mengajari teman-temannya yang kesulitan memahami materi pelajaran agama, menjadikannya sosok yang dihormati sekaligus dicintai di lingkungan madrasahnya.
❖ ❖ ❖
Suasana tenang di Madrasah Al-Hikmah seketika berubah tegang manakala pengumuman seleksi Olimpiade Kitab Kuning tingkat provinsi ditempel di papan pengumuman utama. Nama Shasmira berada di urutan teratas sebagai delegasi utama pesantren, namun di bawahnya terpampang nama Zulfikar—santri putra paling ambisius yang dikenal kerap bersaing ketat dengannya dalam hal perolehan nilai akademik.
"Kau lihat itu, Shas? Zulfikar tidak akan tinggal diam. Dia pasti merasa posisinya terancam karena kau selalu mengunggulinya di kelas," ujar Aminah dengan nada cemas, menatap tajam ke arah kertas pengumuman.
Shasmira menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar di dadanya. "Kompetisi ini bukan soal siapa yang menang atau kalah, Aminah. Ini tentang bagaimana kita membawa nama baik madrasah dan menguji sejauh mana ilmu yang kita amalkan."
"Tapi Zulfikar berbeda, Shas. Kau tahu sendiri bagaimana caranya berdebat. Kadang ia menghalalkan segala cara demi terlihat paling benar di depan para ustaz," timpal Zainab, santriwati lain yang ikut mendekat.
Tiba-tiba, bayangan tinggi Zulfikar muncul dari balik koridor kelas. Langkah kakinya berat, memecah keheningan kerumunan santri. Ia berdiri tepat di samping Shasmira, melirik sekilas ke arah papan pengumuman dengan senyum sinis yang tertahan.
"Selamat, Shasmira. Kau berhasil mendapat tempat pertama lagi," ucap Zulfikar dengan suara dingin. "Tapi ingat, panggung perlombaan tingkat provinsi nanti tidak selonggar kelas ini. Kitab-kitab yang diujikan jauh lebih dalam."
Shasmira menatap lurus mata Zulfikar tanpa gentar. "Terima kasih atas ucapan dan pengingatnya, Zulfikar. Semoga kita berdua bisa memberikan hasil yang terbaik untuk Al-Hikmah."
"Kita lihat saja nanti siapa yang benar-benar menguasai dalil, bukan sekadar menghafal teks," balas Zulfikar tajam sebelum melangkah pergi meninggalkan mereka.
❖ ❖ ❖
Hari-hari jelang keberangkatan menuju arena seleksi dipenuhi dengan jadwal belajar yang jauh lebih padat. Shasmira menghabiskan separuh malamnya di bawah temaram lampu meja belajar, menelaah lembaran demi lembaran kitab Kifayatul Akhyar dan Fathul Mu'in. Di ruang perpustakaan pesantren yang sunyi, ia tidak sengaja kembali berpapasan dengan Zulfikar yang juga tengah sibuk membuka kitab tebal.
"Kau masih saja di sini, Zulfikar? Jam sudah menunjukkan pukul dua malam," sapa Shasmira memecah keheningan malam.
Zulfikar mendongak, menutup kitabnya dengan gerakan agak kasar hingga menimbulkan suara debuan halus. "Aku tidak ingin kecolongan, Shasmira. Pesaing kita bukan hanya santri dari pondok ini, tapi seluruh kabupaten."
Shasmira mendekati meja Zulfikar, meletakkan secangkir teh hangat yang baru ia seduh di dapur asrama. "Ilmu itu luas, Zulfikar. Ia tidak akan meresap ke dalam hati jika dikejar dengan ambisi yang dipenuhi rasa iri."