Riuh Lamaran di Rumah Kepala Desa
Matahari sore di Desa Sukamaju memantulkan rona keemasan yang hangat di atas genting-genting rumah panggung kayu milik Kepala Desa Kyai Ahmad. Namun, kehangatan cuaca sore itu seolah kontras dengan atmosfer di dalam ruang tamu rumah tersebut. Bau kayu jati tua bercampur aroma wangi melati yang disebar di sudut ruangan menyambut siapa saja yang melangkah masuk. Di atas meja ukir Jepara, berderet nampan-nampan hantaran berisi kue tradisional, kain sutra berlipat rapi, hingga kotak-kotak perhiasan berkilau yang ditutup kain Tile bermotif bunga.
Bagi sebagian besar warga desa, pemandangan ini adalah simbol kejayaan dan kehormatan keluarga Kyai Ahmad. Kecantikan, kecerdasan, dan keluhuran budi pekerti Shasmira memang bukan rahasia lagi. Namanya harum merembet hingga ke desa-desa tetangga, menjadikannya kembang desa yang paling diidamkan para pemuda terpandang. Memasuki usia dewasanya, rumah Kepala Desa itu kerap kedatangan tamu tak diundang namun berniat sangat serius: melamar Shasmira.
"Assalamu’alaikum, Kyai Ahmad," suara berat seorang lelaki paruh baya terdengar dari ambang pintu, membuyarkan lamunan Nyai Siti yang sedang merapikan cangkir teh di meja.
"Wa’alaikumussalam warahmatullah. Silakan masuk, Haji Mansur, mari-mari silakan duduk," jawab Kyai Ahmad menyambut dengan senyuman ramah yang menenangkan, meski garis ketegasan tetap tercetak di wajahnya sebagai pemimpin desa.
Haji Mansur, seorang saudagar kaya raya dari kecamatan sebelah, melangkah masuk didampingi oleh putranya, seorang pemuda berjas rapi bernama Farhan yang membawa senyuman kaku penuh harap. Pertemuan sore itu mengikuti pola yang sudah berulang kali terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Mulai dari anak saudagar kaya, pemuda lulusan pesantren terkemuka di Jawa Timur, hingga anak buah kapal yang sukses merantau dari kota pelabuhan, berbondong-bondong datang menghadap Sang Kepala Desa.
Nyai Siti berjalan mendekati suaminya, lalu berbisik pelan, "Bagaimana, Abah? Anak dari Haji Mansur ini kelihatannya sungguh-sungguh. Usahanya di kecamatan sedang naik daun."
Kyai Ahmad menatap istrinya sekilas, lalu mengangguk kecil sebelum mengalihkan pandangan ke arah Farhan. "Nak Farhan, perjalanan dari kecamatan sebelah tentu melelahkan. Apa hajat utama kedatangan keluarga besar kemari?" tanya Kyai Ahmad membuka percakapan formal.
Farhan berdehem pelan, merapikan duduknya, lalu menatap Kyai Ahmad dengan penuh takzim. "Begini, Kyai, Nyai... Maksud kedatangan saya dan orang tua saya kemari tidak lain adalah untuk bersilaturahmi, sekaligus menyampaikan niat tulus saya untuk meminang anak perempuan Kyai, Shasmira."
Ruangan mendadak terasa semakin senyap. Suara desau angin sore yang menggesek daun-daun kelapa di halaman luar terdengar begitu jelas. Di balik tirai pembatas ruang tamu dan ruang tengah, Shasmira duduk termenung di atas kursi rotan. Ia mendengar setiap patah kata yang terucap di luar sana.
"Kami tahu diri, Kyai," timpal Haji Mansur memperkuat ucapan putranya. "Anak saya Farhan ini sudah mapan secara materi. Toko kelontong dan usahanya sudah ada di tiga titik pasar kecamatan. Insya Allah, hidup Shasmira tidak akan kekurangan suatu apa pun jika bersanding dengan Farhan."
Kyai Ahmad mengangguk-angguk mendengar penuturan itu. Ia tidak langsung menerima atau menolak. Seperti biasa, prinsip keluarga mereka sangat jelas.
"Alhamdulillah, tawaran yang mulia, Haji Mansur. Kami sekeluarga tentu merasa terhormat atas niat baik Nak Farhan," ucap Kyai Ahmad dengan nada tenang. "Namun, seperti yang selalu saya sampaikan kepada setiap tamu yang datang membawa niat serupa, urusan pendamping hidup ini bukan keputusan mutlak saya atau ibunya. Kami memberikan kebebasan penuh kepada Shasmira untuk menentukan masa depan dan pilihannya sendiri."
Farhan tampak sedikit menelan ludah, sementara Haji Mansur tersenyum simpul, menganggap itu adalah bentuk basa-basi adat yang wajar. "Tentu, Kyai. Kami sangat memaklumi tradisi di keluarga Kyai."
Di balik tirai, Shasmira menarik napas dalam-dalam. Di balik riuhnya antrean pemuda yang ingin meminang, gadis itu justru menyimpan kegelisahan tersendiri di dalam dadanya. Ia tahu betul bahwa menikah bukanlah sekadar menyatukan dua rupa yang elok, menyamakan status sosial, atau menggabungkan harta kekayaan keluarga. Bagi Shasmira, pernikahan adalah sebuah ikatan suci yang berat—sebuah perjanjian agung di hadapan Sang Pencipta untuk menjaga ibadah kepada Allah SWT.
"Abah tidak ingin Shasmira salah melangkah hanya karena tergiur rupa atau terpesona harta," gumam Shasmira pelan pada dirinya sendiri, meremas ujung kerudung birunya.
❖ ❖ ❖
Beberapa hari setelah kunjungan Haji Mansur, suasana rumah Kepala Desa tidak pernah benar-benar sepi dari perbincangan tentang lamaran. Sore itu, Shasmira duduk di serambi belakang rumah bersama ibunya, Nyai Siti, yang sedang memilah biji kopi hasil panen kebun belakang.
"Shasmira, nak... Ibu perhatikan akhir-akhir ini kamu lebih sering melamun setiap kali ada pemuda yang datang membawa hantaran," ujar Nyai Siti lembut, memecah keheningan sore. Ibu menghentikan gerakannya dan menatap lekat-lekat putri sulungnya itu. "Apa ada yang salah dengan Nak Farhan? Atau mungkin pemuda pesantren minggu lalu yang hafal Al-Qur'an tiga puluh juz?"
Shasmira mendongak, menatap manik mata ibunya yang penuh dengan kasih sayang sekaligus rasa penasaran. Ia tersenyum tipis, lalu meletakkan nampan kecil di pangkuannya.
"Ibu, Shasmira tidak mencari kesalahan pada diri mereka. Farhan orangnya baik, pekerja keras. Pemuda pesantren itu juga memiliki ilmu agama yang luar biasa luas," jawab Shasmira dengan suara bergetar halus. "Tapi... ada sesuatu yang mengganjal di dalam hati Shasmira."
"Mengganjal bagaimana, Nak? Ceritakan pada Ibu. Jangan dipendam sendiri," bujuk Nyai Siti sambil meraih tangan putranya yang berpori-pori halus itu.
"Shasmira takut, Bu," aku Shasmira jujur, manik matanya berkaca-kaca diterpa cahaya matahari temaram. "Shasmira takut salah niat. Menikah itu ibadah terpanjang dalam Islam. Kalau Shasmira menerima seseorang hanya karena desakan orang banyak, atau karena silau dengan kekayaan dan sanjungan mereka, bagaimana pertanggungjawaban Shasmira di hadapan Allah nanti?"
Nyai Siti menghela napas panjang, meresapi setiap kata yang meluncur dari bibir putrinya. "Abah dan Ibu tidak pernah mendesakmu, Shasmira. Kamu tahu itu. Tapi waktu terus berjalan. Usiamu sudah matang untuk berumah tangga. Apakah dari sekian banyak pemuda yang datang, sama sekali tidak ada yang menyentuh hatimu?"
"Bukan tidak ada, Bu... tapi Shasmira merasa mereka mencintai Shasmira karena apa yang tampak di permukaan saja. Kecantikan wajah, kedudukan Abah sebagai kepala desa, atau nama baik keluarga kita. Belum tentu mereka mencintai Shasmira karena ketaatan kepada Allah," jelas Shasmira menegaskan prinsip hidupnya.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu depan terdengar nyaring, disusul oleh suara deheman Kyai Ahmad yang memanggil istrinya dari ruang tamu. "Nyai! Kemarilah sebentar, ada tamu penting datang lagi!"
Nyai Siti dan Shasmira saling berpandangan. Belum sempat mereka menyelesaikan perbincangan mendalam itu, riuh lamaran kembali mencengkeram ketenangan sore di rumah Kepala Desa Sukamaju.