Seni Menolak dengan Kelembutan Hati---
Udara pagi di serambi rumah Kiai Ahmad berhembus lembut, membawa aroma basah dari kebun bunga melati yang baru saja disiram. Di atas meja kayu jati yang mengilap, terhidang secangkir teh hijau hangat dan sepiring jajanan pasar. Namun, bukan ketenangan pagi yang memenuhi pikiran Kiai Ahmad saat ini, melainkan tumpukan surat dan pesan titipan yang memenuhi amplop-amplop berstempel khusus.
Surat-surat itu datang dari berbagai penjuru kota, bahkan dari kabupaten tetangga. Isinya seragam: sebuah permohonan resmi untuk meminang putri tunggal beliau, Shasmira.
Kiai Ahmad menghela napas pelan, merapikan kertas-kertas tersebut dengan jemarinya yang mulai keriput. Ia tahu betul reputasi putrinya. Kecantikan Shasmira bukan sekadar keelokan fisik, melainkan keteduhan budi pekerti yang terpancar dari setiap langkah dan tutur katanya. Tidak heran jika para pemuda dari kalangan terpandang, saudagar kaya, hingga para santri sepuh yang kini telah menjadi ustaz muda berlomba-lomba mengetuk pintu rumahnya.
"Assalamu'alaikum, Abah," suara lembut itu membuyarkan lamunan Kiai Ahmad.
Shasmira muncul dari balik tirai bambu, mengenakan gamis sederhana berwarna hijau lumut dengan kerudung senada yang menjuntai rapi menutupi dadanya. Tangannya membawa nampan kecil berisi tambahan penganan. Senyumnya mengembang, menyapa sang ayah dengan ketulusan yang selalu berhasil meredakan lelah siapa pun yang melihatnya.
"Wa'alaikumussalam, Nduk. Sini, duduklah di dekat Abah," kata Kiai Ahmad sambil menepuk kursi kosong di sebelah kayunya.
Shasmira meletakkan nampan tersebut, lalu duduk dengan takzim. Pandangannya langsung tertuju pada amplop-amplop di atas meja. Ia bukanlah gadis yang naif; ia tahu persis apa arti amplop-amplop itu.
"Ada berita apa lagi hari ini, Abah?" tanya Shasmira dengan suara tenang, tanpa ada secercah rasa penasaran berlebihan atau kesombongan di matanya.
Kiai Ahmad tersenyum tipis, menatap putrinya dengan campuran rasa bangga dan iba. "Kali ini datang dari Raden Mahesa, putra Kyai Malik dari pesantren sebelah. Ia baru saja pulang menimba ilmu dari Kairo. Utusannya datang tadi subuh membawa hantaran yang cukup banyak, menyatakan niat sungguh-sungguh untuk menyuntingmu."
Shasmira mendengarkan dengan seksama. Wajahnya tetap tenang, tidak menunjukkan rona tersipu yang berlebihan ataupun penolakan spontan. Ia mengambil cangkir teh, menuangkannya untuk sang ayah, lalu meletakkannya kembali dengan anggun.
"Raden Mahesa adalah pemuda yang baik, Abah. Ilmunya luas, nasabnya terhormat. Banyak gadis di luar sana yang pasti mendamba kedudukan sepertinya," ucap Shasmira tulus.
"Lalu, apa jawaban yang harus Abah sampaikan kepadanya, Nduk? Ini sudah lamaran kelima dalam bulan ini saja. Abah khawatir jika terus-menerus menolak tanpa alasan yang kuat, mereka akan merasa tersinggung, atau justru menganggap keluarga kita terlalu tinggi hati."
Shasmira menggeleng pelan, jemarinya saling bertumpu di atas pangkuan. "Abah, pernikahan bukan sekadar menyatukan dua nama besar atau menumpuk harta warisan. Hati hamba belum terpaut pada siapa pun saat ini. Hamba merasa perjalanan ilmu hamba masih panjang, dan pengabdian hamba kepada Abah serta majelis taklim di desa ini masih belum seberapa."
"Abah paham, Shasmira. Tapi usiamu terus berjalan. Apakah benar tidak ada satupun dari mereka yang bisa mengetuk pintu hatimu?" tanya Kiai Ahmad lembut, menyelami kedalaman mata putrinya.
"Belum, Abah. Dan hamba tidak ingin menerima seseorang hanya karena rasa sungkan atau tekanan lingkungan. Hamba ingin pernikahan yang dibangun di atas ketulusan frekuensi jiwa yang sama, bukan karena keterpaksaan," jawab Shasmira mantap.
Kiai Ahmad mengangguk pelan. Ia tahu putrinya memiliki prinsip yang kokoh. "Baiklah. Jika itu keputusanmu, lalu bagaimana caramu menyampaikan penolakan ini agar tidak melukai hati mereka? Raden Mahesa dikenal memiliki harga diri yang tinggi."
"Serahkan pada hamba, Abah. Insya Allah, dengan izin-Nya, kelembutan hati akan mampu meredam kekecewaan apa pun," ujar Shasmira tersenyum menenangkan.
❖ ❖ ❖
Siang hari menjelang Zuhur, ruang tamu pesantren sudah dipadati oleh para tamu undangan khusus. Raden Mahesa hadir secara langsung didampingi oleh dua orang pamannya yang disegani. Penampilannya sangat necis, mengenakan jubah putih bersih dengan sorban bergaya Mesir yang disampirkan di bahunya. Aura kepercayaan diri yang kuat terpancar dari setiap gerak-geriknya.
Shasmira duduk di balik sekat tirai kayu jati yang membatasi ruang tamu utama dan ruang keluarga. Melalui celah ukiran tirai tersebut, ia dapat melihat dengan jelas bagaimana Raden Mahesa berbicara dengan nada suara yang berapi-api, memaparkan rencana masa depannya yang megah.
"Kiai Ahmad, saya tidak datang dengan tangan kosong," ujar Raden Mahesa dengan suara lantang yang sarat akan kebanggaan materi dan intelektual. "Saya telah menyiapkan rumah peristirahatan di dekat kota, kendaraan mewah, serta jaringan luas dengan para pejabat tinggi. Shasmira akan saya jadikan ratu yang tidak akan pernah kekurangan satu hal pun di dunia ini. Materi dan kedudukan adalah jaminan kebahagiaan yang nyata."
Kiai Ahmad hanya mendengarkan sambil mengelus jenggot putihnya, melirik sekilas ke arah sekat tempat putrinya berada.
Sesaat kemudian, Shasmira meminta izin melalui isyarat kecil kepada ayahnya untuk berbicara. Ia bangkit, melangkah mendekati sekat, dan berbicara dengan suara yang cukup jernih terdengar di ruang tamu, namun tetap terjaga kesantunannya.
"Raden Mahesa," sapa Shasmira lembut dari balik tirai.
Suasana ruang tamu mendadak sunyi. Raden Mahesa langsung menegakkan tubuhnya, tersenyum lebar penuh harap, mengira sang gadis akan menyambut tawarannya dengan antusias.
"Ah, Shasmira. Senang bisa mendengar suaramu langsung. Bagaimana? Apakah tawaranku cukup meyakinkan untuk membawamu mendampingiku?" tanya Mahesa dengan nada percaya diri yang tinggi.
"Terima kasih atas segala kemegahan dan jaminan materi yang Raden tawarkan. Sungguh, itu adalah tawaran yang luar biasa bagi siapa pun yang melihat dunia dari kaca mata kelimpahan," jawab Shasmira tenang.
"Tetapi...?" potong Mahesa, mulai menangkap nada keengganan di balik kalimat tersebut.
"Tetapi, harta, rumah megah, dan kedudukan duniawi ibarat bayangan di bawah terik matahari, Raden. Semakin dikejar, ia akan semakin menjauh, dan pada akhirnya akan lenyap ketika senja tiba. Yang hamba cari untuk mendampingi sisa usia hamba bukanlah seorang pria yang menyombongkan materi, melainkan seorang hamba yang kaya akan ilmu agama dan rendah hati di hadapan Tuhannya."