Sang Kembang Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #6

Menjaga Hati

Menjaga Hati dan Fokus pada Pengabdian

Gelombang penolakan yang dilakukan Shasmira sempat memunculkan berbagai bisik-bisik di antara warga desa. Di sudut-sudut kedai kopi, di tepian jemuran, hingga di sela-sela obrolan para ibu saat memetik sayur di kebun, nama Shasmira kerap menjadi topik panas. Ada yang menganggapnya terlalu pemilih, ada pula yang menduga ia memiliki standar yang terlampau tinggi untuk seorang gadis desa, bahkan ada yang menyebutnya terlalu angkuh karena menolak lamaran putra seorang pedagang ternama di kecamatan.

Namun, Shasmira memilih untuk menutup telinga dari segala gunjingan kecil tersebut. Ia menyibukkan hari-harinya kembali pada rutinitas yang ia cintai: membantu ibunya merawat rumah panggung yang selalu bersih, mengajar anak-anak mengaji di surau terdekat, dan memperdalam ilmu agamanya di madrasah. Baginya, kebisingan dunia hanyalah riak kecil yang tidak akan mampu menggoyahkan dermaga keyakinan yang ia bangun selama bertahun-tahun.

"Shas, apa kamu tidak lelah mendengarkan omongan orang-orang itu? Ibu saja sampai gerah mendengarnya," ucap sang ibu, Nyai Salmah, suatu sore saat mereka sedang menjemur kerupuk di halaman belakang.

Shasmira meletakkan nampan kerupuk terakhir dengan gerakan tenang. Ia tersenyum kecil, sorot matanya jernih menatap hamparan sawah yang mulai menguning. "Biarkan saja, Bu. Mulut orang tidak bisa kita tutup, tapi telinga kita bisa kita kendalikan. Lagipula, apa yang mereka katakan tidak mengubah nilai diri Shasmira di mata Allah, bukan?"

Nyai Salmah menghela napas panjang, menepuk bahu putrinya dengan penuh kasih. "Ibu hanya khawatir kamu terlalu menutup diri. Usiamu bukan lagi belasan, Nak. Jodoh itu bukan sekadar datang sendiri, tapi butuh pembukaan pintu."

"Ibu sayang, Shas tidak menutup pintu. Shas hanya sedang memastikan bahwa tamu yang masuk nanti adalah orang yang benar-benar siap menjaga amanah Ayah dan Ibu," jawab Shasmira dengan nada bicara yang lembut namun penuh pendirian.

Bagi Shasmira, kesendiriannya bukanlah bentuk kesombongan atau ketidakmampuan untuk jatuh cinta, melainkan sebuah ikhtiar panjang untuk menjaga kesucian hati. Ia percaya bahwa jodoh adalah cerminan diri. Jika ia menginginkan seseorang yang sholeh dan berakhlak mulia, maka ia harus terlebih dahulu memantaskan dirinya. Baginya, menikah bukan sekadar menyatukan dua raga, melainkan penyatuan visi untuk membangun rumah tangga yang menjadi pintu menuju surga.

Di surau desa, Shasmira adalah sosok guru yang sabar. Suaranya yang merdu saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an seringkali membuat suasana menjadi teduh. Anak-anak kecil di desa sangat menyayanginya karena ia tidak pernah memarahi mereka saat mereka lamban menghafal.

"Bu Guru, kenapa orang-orang bilang Bu Shasmira belum mau nikah?" tanya seorang murid kecil bernama Laras saat jam mengaji baru saja usai.

Shasmira tertegun, lalu terkekeh pelan. Ia mengelus kepala Laras dengan penuh kasih. "Karena Bu Guru masih ingin belajar lebih banyak, Laras. Menikah itu ibadah terpanjang, jadi persiapannya harus matang. Kamu sendiri, sudah siap belajar supaya jadi anak yang sholehah?"

"Sudah, Bu! Supaya nanti bisa jadi seperti Bu Shasmira," jawab Laras polos.

Shasmira hanya tersenyum. Dalam hati, ia memanjatkan doa agar keteguhannya senantiasa dijaga oleh Sang Pencipta. Ia sadar, di balik ketenangannya, ada ujian besar yang menanti di depan. Desas-desus mengenai keteguhannya justru membuat banyak pemuda merasa tertantang, termasuk Reno—pemuda dari kota yang merasa harga dirinya terluka karena penolakan Shasmira beberapa waktu lalu. Reno bukan tipe orang yang mudah menyerah, dan ia mulai merancang skema untuk merusak citra Shasmira agar gadis itu tidak lagi memiliki pilihan selain menerima lamarannya.

❖ ❖ ❖

Malam itu, Desa Sukamaju terasa lebih dingin dari biasanya. Angin pegunungan turun membawa kabut tipis yang menyelimuti teras rumah Kyai Ahmad. Shasmira sedang duduk di meja belajarnya, merapikan catatan pengajian untuk esok hari, ketika suara ketukan pintu memecah keheningan.

"Shas, ada tamu di depan," suara Ayahnya terdengar dari ruang tamu.

Shasmira segera memakai kerudungnya dan melangkah keluar. Ia terkejut melihat dua orang pria berpakaian rapi namun berwajah kaku sedang duduk bersama Ayahnya. Salah satunya adalah Reno, yang datang dengan senyum penuh kepalsuan.

"Malam, Shasmira. Maaf mengganggu waktu istirahatmu," ujar Reno dengan nada yang dibuat-buat sopan.

Shasmira mengangguk dingin, lalu duduk di samping ayahnya. "Ada perlu apa Bapak kemari malam-malam begini?"

Reno menatap Kyai Ahmad, lalu beralih ke Shasmira. "Saya kemari untuk niat yang baik, Kyai. Saya ingin melamar putri Kyai secara resmi, bukan lagi melalui perantara atau rumor di pasar."

Kyai Ahmad menatap Reno dengan tajam. "Reno, saya sudah katakan berkali-kali bahwa keputusan ada di tangan anak saya. Namun, saya juga harus melihat kesiapan dan akhlak seorang calon pendamping. Sejauh yang saya tahu, perilaku kamu di desa ini masih jauh dari kata baik."

Reno tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat meremehkan. "Kyai, zaman sekarang, perilaku bisa diperbaiki. Yang penting saya punya modal untuk membahagiakan Shasmira. Saya punya harta yang cukup untuk membangun rumah mewah dan menjamin kehidupan Shasmira agar tidak lagi harus mengajar mengaji di surau yang reot itu."

Shasmira merasakan kemarahan menjalar di dadanya, namun ia tetap berusaha tenang. "Tuan Reno, rumah yang mewah tidak menjamin ketenangan hati. Saya tidak butuh harta untuk merasa bahagia. Saya butuh imam yang bisa membawa saya ke jalan Allah. Dan dari cara Anda bicara saja, saya sudah tahu bahwa kita tidak memiliki visi yang sama."

"Visi?" Reno mendengus. "Jangan sok suci, Shasmira. Semua orang tahu kau menolak semua orang karena kau sedang menunggu seseorang yang mungkin tidak pernah ada. Jangan sampai kau menyesal saat kecantikanmu pudar dan kau hanya menjadi perawan tua di desa ini."

"Cukup!" bentak Kyai Ahmad, suaranya menggelegar namun tetap tenang. "Keluar dari rumah saya sekarang juga. Jangan berani-berani menghina putri saya di depan mata saya sendiri."

Reno berdiri, wajahnya memerah karena malu dan marah. "Baik, Kyai. Anda akan menyesal karena telah menolak saya. Saya punya banyak cara untuk mendapatkan apa yang saya inginkan."

Setelah Reno pergi, suasana di ruang tamu menjadi sangat sunyi. Kyai Ahmad memandang putrinya dengan tatapan khawatir. Shasmira hanya tertunduk, menahan getaran di tangannya.

"Apakah kamu takut, Shas?" tanya Kyai Ahmad lembut.

"Tidak, Ayah. Shas hanya lelah melihat bagaimana harta membuat orang merasa bisa membeli segalanya, termasuk martabat seorang wanita," jawab Shasmira dengan suara lirih.

Keesokan harinya, rumor mulai beredar. Bukan lagi tentang Shasmira yang terlalu pemilih, melainkan fitnah keji yang disebar oleh anak buah Reno. Mereka menyebarkan berita bahwa Shasmira telah tertangkap basah bertemu dengan pria asing di hutan dekat air terjun. Berita bohong itu menyebar dengan cepat seperti api yang membakar jerami kering. Warga yang tadinya menghormati Shasmira kini mulai memandang dengan tatapan curiga.

Saat Shasmira berjalan menuju madrasah, ia merasa atmosfir desa berubah. Orang-orang yang biasanya menyapanya dengan ramah kini memilih membuang muka atau berbisik-bisik saat ia lewat.

"Ibu, apa yang terjadi?" tanya Shasmira saat ia melihat ibunya menangis di dapur sore harinya.

"Warga, Shas... mereka bicara yang tidak-tidak. Mereka bilang kamu punya hubungan terlarang dengan pria asing," isak Nyai Salmah.

Dunia Shasmira seakan runtuh. Fitnah adalah pedang yang paling menyakitkan bagi seorang wanita, apalagi di desa yang masih memegang teguh kehormatan. Ia menyadari bahwa ini adalah bagian dari rencana Reno untuk menjatuhkannya. Ia merasa terjepit di antara kebenaran yang ia pegang dan stigma yang mulai melekat pada namanya.

❖ ❖ ❖

Puncak dari tekanan itu terjadi pada hari Jumat. Saat Shasmira hendak pergi ke madrasah, sekelompok ibu-ibu desa menghadangnya di tengah jalan. Mereka menuntut klarifikasi atas rumor yang beredar.

"Shasmira, jujurlah pada kami. Apa benar kamu sering keluar malam tanpa sepengetahuan ayahmu?" tanya salah satu ibu dengan nada menuduh.

"Demi Allah, itu semua bohong, Bu. Saya tidak pernah melakukan hal sehina itu," jawab Shasmira dengan mata berkaca-kaca, suaranya bergetar menahan tangis.

"Jangan bawa-bawa nama Tuhan kalau hatimu busuk!" seru ibu yang lain. "Ayahmu itu tokoh desa, tapi bagaimana bisa dia tidak bisa mendidik anaknya sendiri?"

Shasmira terdiam. Hinaan itu tidak lagi ditujukan padanya, tapi sudah merambah ke ayahnya. Itu adalah titik terendah baginya. Ia merasa harus melakukan sesuatu untuk membersihkan namanya, bukan demi dirinya, tapi demi kehormatan ayahnya yang telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk desa ini.

Di saat ia merasa benar-benar sendiri dan tak berdaya, tiba-tiba seorang pemuda asing muncul dari balik kerumunan. Ia adalah Arya, pemuda yang beberapa waktu lalu pernah membantu Shasmira dari gangguan kelompok Reno. Kehadirannya seketika membuat suasana yang panas itu mereda karena wibawa yang terpancar dari sosoknya.

"Maaf, ibu-ibu sekalian," suara Arya tenang namun sangat dominan. "Apakah benar tindakan kalian hari ini mencerminkan ajaran agama yang kalian peluk? Menuduh tanpa bukti, menyebar fitnah tanpa dasar?"

Para ibu-ibu itu terdiam, tertunduk malu karena teguran yang telak.

Lihat selengkapnya