Senja di Serambi dan Gema Pertanyaan yang Bisu
Setiap kali matahari mulai tergelincir di ufuk barat, memantulkan warna jingga keemasan di atas petak-petak sawah Desa Sukamaju, Shasmira selalu menyempatkan diri duduk di serambi rumah panggungnya. Menikmati secangkir teh hangat buatan ibunya sambil memandangi angin sore yang menggoyang rumpun padi.
"Tehnya sudah manis, Nak? Jangan terlalu banyak gula, nanti batukmu kambuh lagi," sapa Siti, ibu Shasmira, sambil melangkah pelan keluar pintu membawa sepiring pisang goreng hangat.
Shasmira tersenyum, menerima piring tersebut dengan takzim. "Sudah pas, Bu. Rasanya hangat, pas sekali untuk menemani sore yang sejuk ini. Terima kasih, ya, Bu."
"Ibu senang melihatmu bisa duduk santai begini, Shas. Akhir-akhir ini kamu tampak begitu sibuk dengan tumpukan kitab dan urusan madrasah. Jangan terlalu memorsir tenaga," nasihat ibunya lembut, duduk di kursi rotan seberang meja.
Shasmira mengangguk, namun pandangannya kembali menerawang jauh ke arah batas horizon. Namun, ketenangan sore itu sering kali diiringi oleh sebuah ruang kosong di dalam dadanya. Di tengah kesempurnaan hidup yang ia miliki—keluarga yang harmonis, rasa hormat dari warga desa, serta ilmu yang luas—Shasmira kerap merasa ada satu kepingan teka-teki yang hilang.
Ia sering membatin sendirian, “Mengapa di saat hatiku tenteram bersama Al-Qur'an dan ilmu, ada kalanya aku merasa sedang merindukan sesuatu yang bahkan wujudnya tidak kukenali?” Pertanyaan itu berputar tanpa jawaban, mengambang bersama kepulan uap teh hangat di hadapannya.
"Ada apa, Shas? Dari tadi ibu perhatikan kamu sering melamun. Apakah ada masalah di pesantren atau dengan tugas mengajarmu?" tanya ibunya penuh selidik, menangkap guratan keraguan di wajah sang putri.
"Tidak ada apa-apa, Bu. Shasmira hanya sedang merenungkan perjalanan hidup kita. Rasanya baru kemarin Shasmira belajar mengeja huruf hijaiyah di lantai surau kecil itu, dan sekarang..." ucap Shasmira menggantung.
"Sekarang kamu sudah menjadi kebanggaan desa ini. Banyak orang tua yang ingin anak perempuannya memiliki kecerdasan dan akhlak sepertimu," potong Siti dengan mata berbinar bangga.
"Tapi ilmu itu luas sekali, Bu bagaikan lautan tanpa tepi. Semakin Shasmira menyelaminya, semakin Shasmira merasa bodoh dan tidak tahu apa-apa," timpal Shasmira pelan, menyembunyikan gejolak batinnya di balik senyuman tipis.
Ibu mengelus puncak kepala Shasmira yang tertutup jilbab putih. "Itulah tanda bahwa ilmu yang kamu miliki adalah ilmu yang barokah, Nak. Orang bodoh selalu merasa dirinya paling tahu, sedangkan orang berilmu akan selalu merasa haus."
Percakapan sore itu terhenti tatkala azan maghrib berkumandang dari surau terdekat, memecah kesunyian senja dan memanggil langkah keduanya untuk bergegas mengambil air wudu.
❖ ❖ ❖
Malam harinya, ketenangan serambi rumah berlanjut di dalam kamar tidur Shasmira yang dipenuhi rak-rak buku. Di atas meja belajarnya, sebuah surat undangan resmi beramplop tebal tergeletak berdampingan dengan kitab Ihya Ulumuddin. Surat dari lembaga keagamaan pusat itu menuntut sebuah keputusan besar yang harus diambilnya dalam waktu kurang dari sepekan.
Pintu kamarnya diketuk pelan, lalu muncullah Aminah, sahabat setianya yang sengaja datang membawa kabar dari pesantren.
"Shas, kau serius mau menolak tawaran beasiswa seleksi ke Kairo itu? Seluruh santri di Madrasah Al-Hikmah membicarakannya!" seru Aminah langsung to the point begitu duduk di tepi tempat tidur.
Shasmira menghela napas panjang, menutup kitab yang sedang ia baca. "Bukannya menolak, Aminah. Aku hanya sedang menimbang-nimbang apakah keputusanku ini sudah tepat. Bagaimana dengan ibu dan adik-adikku di sini jika aku harus pergi selama bertahun-tahun?"
"Ini kesempatan langka, Shas! Tidak semua santriwati mendapat kehormatan dipanggil langsung oleh lembaga pusat. Kiai Hasan pun mendukung penuh langkahmu," sanggah Aminah dengan nada gemas.
"Aku tahu, Min. Tapi kerinduan yang selalu singgah di dadaku setiap senja... aku takut itu adalah bentuk keenggananku meninggalkan rumah, atau justru petunjuk bahwa jalanku bukan di sana," ucap Shasmira jujur, menyuarakan kegelisahan yang selama ini ia pendam.
Aminah menatap sahabatnya dengan tatapan iba namun tegas. "Jangan biarkan ketakutan membuatmu kehilangan masa depan. Pertanyaan-pertanyaan di dalam hatimu itu tidak akan terjawab jika kamu hanya berdiam diri di desa ini."
"Bagaimana jika di sana aku justru tersesat dalam ambisi duniawi seperti Zulfikar dulu?" tanya Shasmira lirih.
"Kau bukan Zulfikar, Shasmira. Dasar akidah dan niatmu sudah lurus karena Allah. Zulfikar sendiri bahkan berpesan agar kamu mengambil kesempatan ini," balas Aminah mengingatkan kejadian siang tadi di gerbang pesantren.
Ya, siang tadi Zulfikar sempat menemuinya di bawah pohon mangga madrasah. Pemuda itu berkata dengan tulus, "Pergilah, Shas. Jangan biarkan bayang-bayang ketakutan menahan langkah kakimu. Kami di sini akan menjaga apa yang telah kau ajarkan."
Kata-kata Zulfikar terus berputar di kepala Shasmira, menambah beban pikiran yang menggelayuti benaknya malam itu.
❖ ❖ ❖