Sang Kembang Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #8

Bayangan Samar

Bayangan Samar dari Lorong Waktu yang Terlupa

Malam di Desa Sukamaju selalu merangkak turun dengan keheningan yang pekat. Jangkrik-jangkrik bersahutan di balik rerimbunan semak belukar di samping rumah panggung Kyai Ahmad, menciptakan irama monoton yang kerap menemani Shasmira terjaga hingga larut malam. Di kamar kecilnya yang diterangi cahaya lampu minyak bertekanan rendah—karena aliran listrik desa sering kali padam bergilir—Shasmira duduk termenung di depan meja kayu sederhana. Di hadapannya terbuka sebuah kitab kuning tebal tentang sejarah peradaban Islam, namun matanya tidak lagi menatap deretan aksara Arab gundul di halaman tersebut. Pikirannya melayang jauh, menerobos batas ruang dan waktu yang selama ini memagari hari-harinya.

"Shasmira, Nak. Belum tidur? Matamu sudah terlihat lelah," suara serak yang penuh kelembutan tiba-tiba memecah keheningan dari balik pintu kamar yang terbuka celah kecil.

Shasmira mendongak, mendapati sosok Kyai Ahmad—ayah angkat sekaligus guru spiritualnya—berdiri perlahan sambil memegang secangkir air hangat di tangannya. Sang kiai berjalan mendekat dengan langkah yang mulai melambat karena usia uzur, lalu meletakkan cangkir itu di sudut meja belajar Shasmira.

"Belum, Ayah," jawab Shasmira pelan sambil merapikan helai jilbabnya. "Saya tadi mencoba meresapi bab tentang hijrah dan pencarian jati diri. Tapi entah mengapa, tiba-tiba pikiran saya melayang pada hal-hal yang terasa asing, hal-hal yang tidak pernah benar-benar saya ketahui secara pasti."

Kyai Ahmad menarik kursi kecil di samping meja Shasmira, lalu duduk sambil tersenyum tipis. Sorot mata sang kiai memancarkan kedalaman samudra yang menyimpan banyak rahasia besar. "Hal asing seperti apa yang mengusik tidurmu malam ini, Shasmira? Ceritakan pada Ayah."

Shasmira menunduk, menatap jemarinya sendiri yang saling meremas di atas pangkuan. "Akhir-akhir ini, Ayah, ketika saya sedang membolak-balik halaman kitab atau merapikan barang-barang lama di loteng rumah, sebuah memori samar sering melintas begitu cepat bagai kilat di kepala saya. Sangat cepat, namun meninggalkan jejak kegelisahan yang mendalam."

"Memori seperti apa yang kamu maksud, Nak?" tanya Kyai Ahmad dengan nada suara yang tetap tenang dan menenangkan, tanpa ada secercah kepanikan di wajahnya.

"Saya mencoba mengingat masa kecil saya sebelum saya tinggal di desa ini," ujar Shasmira dengan suara bergetar kecil. "Saya ingat betul bagaimana Ayah merawat saya, mendidik saya, dan membesarkan saya di Sukamaju dengan penuh cinta. Tapi... sebelum saya menginjak usia sepuluh tahun, ada sebuah potongan memori yang terasa tertutup oleh tabir kabut yang sangat tebal."

Kyai Ahmad terdiam sejenak. Ia tidak langsung memotong kalimat putrinya, melainkan mendengarkan dengan seksama setiap detail kata yang keluar dari bibir Shasmira.

"Saya mencoba mengingat-ngingat, tapi yang muncul hanyalah pecahan bayangan yang membingungkan," lanjut Shasmira dengan kening berkerut, seolah mencoba menarik kembali bayangan itu dari lorong waktu yang gelap. "Sebuah tempat yang bukan desa ini. Ada suara deru ombak yang besar, atau mungkin suara deru kereta api yang menderu kencang di tengah malam. Ada suara tawa asing yang tidak kenal, dan yang paling jelas... dekap hangat dari seseorang yang memeluk erat tubuh saya, namun wajah orang itu terkikis oleh kabut waktu. Saya tidak bisa melihat siapa dia."

Setiap kali Shasmira mencoba memaksa otaknya untuk meraba bayangan itu lebih dalam, sebuah sensasi nyeri yang menusuk tiba-tiba menghantam kepalanya. Kepalanya mendadak pening, membuat napasnya terasa sesak. Shasmira lantas memegang pelipisnya, menutup mata rapat-rapat sambil menghela napas panjang untuk meredakan denyutan di kepalanya.

"Setiap kali saya coba ingat lebih jauh, kepala saya selalu terasa pening, Ayah," keluh Shasmira lirih sambil mengelus dadanya sendiri. "Saya menyadari bahwa ada bagian dari masa lalu saya, dari asal-usul saya yang sebenarnya, yang sengaja atau tidak sengaja tertinggal di suatu tempat yang jauh. Tempat yang terisolasi total dari kehidupannya saya yang sekarang."

Kyai Ahmad mengulurkan tangannya yang keriput, lalu menggenggam jemari Shasmira dengan hangat. Genggaman itu selalu berhasil menyalurkan ketenangan ke dalam jiwa Shasmira yang sedang gelisah.

"Shasmira, anakku," ucap Kyai Ahmad dengan suara yang sangat berwibawa namun sarat kasih sayang. "Masa lalu adalah lembaran sejarah yang telah ditutup oleh takdir Allah. Yang terpenting bukanlah dari mana kamu berasal, melainkan di mana kamu berdiri sekarang dan ke mana langkah kakimu akan kau bawa di masa depan."

"Tapi Ayah, tidakkah Ayah penasaran? Siapa orang tua kandung saya? Di mana mereka sekarang? Dan mengapa saya bisa berada di Sukamaju bersama Ayah sejak kecil?" tanya Shasmira dengan mata berkaca-kaca, memendam kerinduan yang selama ini tidak pernah ia tahu kepada siapa harus ia tumpahkan.

Kyai Ahmad menarik napas panjang. Ia menatap lurus ke dalam mata Shasmira, lalu berkata dengan lembut, "Segala sesuatu di dunia ini terjadi atas izin dan rencana Allah yang Maha Sempurna. Jika saatnya tiba, takdir itu sendiri yang akan membuka tabir kabut yang menyelimuti masa lalumu. Tugasmu sekarang adalah merawat iman, menjaga ilmu, dan bersabar menghadapi setiap rahasia zaman."

Malam itu, Shasmira mengangguk pasrah. Namun, bayangan samar dari lorong waktu yang terlupa itu tidak lantas lenyap; ia justru bersemayam semakin kuat di relung hati Shasmira, menunggu detik-detik di mana rahasia besar masa lalunya akan bangkit menuntut jawaban.

❖ ❖ ❖

Hari-hari berikutnya berjalan dengan bayang-bayang teka-teki masa kecil yang terus menghantui pikiran Shasmira. Meskipun ia berusaha fokus pada kuliahnya di jurusan Pendidikan Agama Islam dan aktivitas mengajarnya di TPA surau desa, potongan-potongan memori samar itu sering kali mendadak muncul di saat-saat yang tidak terduga.

Puncak dari rasa penasaran itu bermula pada suatu siang yang terik, ketika Shasmira membantu Kyai Ahmad membereskan tumpukan arsip dan kitab-kitab tua di loteng rumah panggung mereka. Loteng itu jarang sekali disentuh kecuali untuk pembersihan tahunan. Debu tebal menempel di setiap sudut ruangan, beraroma kayu jati tua dan kertas-kertas yang sudah menguning dimakan usia.

"Hati-hati dengan debunya, Shasmira. Pakai masker kainmu agar tidak batuk," pesan Kyai Ahmad sambil menyortir beberapa lembar catatan dakwah lamanya di dekat jendela kecil loteng.

"Baik, Ayah," jawab Shasmira. Ia merapikan kotak kayu tua berukuran sedang yang terselip di sudut paling gelap di balik lemari rotan usang.

Kotak kayu itu tampak berbeda dari kotak-kotak lainnya. Tidak ada kunci gembok, melainkan diikat erat dengan tali rami yang sudah rapuh. Karena penasaran, Shasmira membuka tali ikatan tersebut dengan hati-hati. Begitu tutup kotak terbuka, kepulan debu tipis membumbung ke udara. Di dalam kotak itu tidak terdapat kitab agama, melainkan beberapa barang pribadi yang sangat asing bagi Shasmira: selembar foto hitam putih yang sudah pudar, sebuah kalung perak berliontin kecil berbentuk separuh bulan, dan selembar surat robek dengan tulisan tangan tangan yang nyaris tak terbaca.

Shasmira mengambil foto hitam putih tersebut. Jantungnya berdegup kencang saat melihat gambar di dalam foto itu: seorang perempuan muda berwajah teduh mengenakan jilbab sederhana sedang memeluk erat seorang anak perempuan berusia sekitar empat tahun di sebuah stasiun kereta api yang sibuk. Wajah perempuan muda itu tampak begitu mirip dengan garis wajah Shasmira sendiri di cermin setiap pagi.

"Ayah..." panggil Shasmira dengan suara tercekat, memegang foto itu dengan tangan yang gemetar hebat.

Kyai Ahmad yang mendengar nada suara putrinya langsung menoleh. Ketika melihat benda yang dipegang Shasmira di dalam kotak kayu itu, raut wajah sang kiai mendadak berubah. Senyum hangat di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi keterkejutan yang mendalam bercampur rasa bersalah yang teramat sangat.

Kyai Ahmad bangkit dari duduknya, berjalan pelan menghampiri Shasmira di sudut loteng yang remang-remang. "Shasmira... kamu menemukan kotak itu."

"Ayah, tolong jelaskan padaku," pinta Shasmira dengan air mata yang mulai tumpah membasahi pipinya. Ia menunjuk foto hitam putih dan kalung perak di dalam kotak. "Siapa wanita di foto ini? Mengapa wajahnya mirip sekali denganku? Dan apa hubungannya dengan masa kecilku yang tertutup kabut?"

Kyai Ahmad menarik napas dalam-dalam, dadanya naik turun dengan berat. Ia duduk di atas kotak kayu kosong di sebelah Shasmira, lalu merangkul pundak putri angkatnya itu dengan penuh kelembutan yang menyiratkan duka masa lalu.

"Sudah waktunya kamu tahu, Nak," ucap Kyai Ahmad dengan suara parau. "Selama ini Ayah sengaja menyembunyikan semua ini darimu bukan untuk membohongimu, melainkan untuk melindungimu dari trauma masa kecil yang hampir merenggut nyawamu."

"Trauma? Nyawa?" Shasmira menatap Kyai Ahmad dengan mata terbelalak penuh ketidakpahaman. "Apa yang sebenarnya terjadi padaku di masa lalu, Ayah?"

"Delapan belas tahun yang lalu, sebelum kamu diasuh oleh Ayah, kamu bukanlah anak dari Desa Sukamaju ini," kisah Kyai Ahmad dengan nada bergetar menahan emosi. "Kamu lahir dan dibesarkan di sebuah kota pelabuhan besar di ujung provinsi, tempat di mana deru ombak laut dan suara kereta malam menjadi musik sehari-hari. Wanita di foto itu adalah ibu kandungmu, Fatimah, dan ayah kandungmu adalah seorang guru ngaji yang aktif menentang arus ketidakadilan sosial di kota tersebut."

Potongan-potongan puzzle di kepala Shasmira mendadak mulai tersusun satu per satu, menghantam kesadarannya bagaikan hantaman palu godam. Suara deru ombak, deru kereta api, dekap hangat seseorang—semuanya bukanlah khayalan semata, melainkan memori nyata dari malam kelam masa kecilnya yang hampir ia lupakan sepenuhnya.

"Lalu... di mana mereka sekarang, Ayah?" tanya Shasmira dengan isak tangis yang tak tertahankan lagi. "Kenapa aku bisa berada di sini di pelukan Ayah?"

Kyai Ahmad menunduk, air mata renta ikut menetes di pipinya yang keriput. "Malam itu, rumah keluargamu diserang oleh sekelompok orang tak dikenal yang ingin membungkam dakwah ayah kandungmu. Di tengah kekacauan, ledakan, dan kobaran api, ibu kandungmu menitipkanmu kepada Ayah—yang saat itu sedang berkunjung ke kota untuk urusan dakwah—sesaat sebelum ledakan besar menghancurkan segalanya."

Shasmira menutup mulutnya dengan kedua tangan, menjerit tertahan di dalam hatinya. Dunia di sekitarnya mendadak berputar hebat. Rahasia besar tentang asal-usulnya yang selama ini terkunci rapat di lorong waktu kini terbuka, membawa gelombang badai emosi yang siap menghancurkan ketenangan hidup yang selama ini ia bangun di Desa Sukamaju.

Lihat selengkapnya