Rahasia di Balik Peti Kayu Tua
Malam itu, di tengah keheningan Desa Sukamaju yang mulai lelap dalam pelukan dingin angin pegunungan, Shasmira terbangun dari tidurnya karena suara decit daun jendela kayu kamarnya yang menderu keras diterpa badai kecil. Ia menarik selimut tipisnya sejenak, lalu memutuskan untuk bangkit merapikan jendela tersebut. Namun, saat ia melangkah keluar menuju ruang tengah, langkah kakinya tanpa sengaja membawanya menyusuri lorong sempit menuju sudut gudang belakang rumah panggung ayahnya. Gudang itu biasanya tertutup rapat, menyimpan barang-barang pusaka keluarga serta arsip lama milik sang kepala desa.
Udara di dalam gudang terasa pengap, beraroma kayu jati tua yang bercampur dengan bau debu tebal bertahun-tahun. Di sudut paling gelap, di bawah naungan meja kerja tua Kyai Ahmad, sebuah peti kayu jati berukir berat tersimpan setengah tersembunyi. Peti yang biasanya terkunci sangat rapat menggunakan gembok besar itu, malam ini tampak sedikit renggang. Gemboknya tergantung longgar, seolah sengaja tidak dikunci sepenuhnya oleh seseorang yang terburu-buru.
"Kenapa peti ini terbuka?" gumam Shasmira pelan, suaranya nyaris berbisik di tengah kesunyian malam.
Dengan rasa penasaran yang bercampur debar jantung yang mulai berdegup kencang, Shasmira berlutut di atas lantai kayu yang dingin. Ia meraih sisi penutup peti tersebut. Perlahan-lahan, dengan mengerahkan sedikit tenaga, ia mengangkat tutup peti kayu jati itu. Bunyi derit engsel tua berkarat memecah kesunyian malam, membuat bulu kuduknya meremang.
Di dalam peti tersebut, tersusun rapi tumpukan dokumen desa, jubah lama Kyai Ahmad yang sudah mulai memudar warnanya, serta beberapa buku catatan harian bersampul kulit hitam. Namun, perhatian Shasmira langsung terkunci pada sebuah sudut di bagian bawah. Di sana, terselip sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua yang tampak sangat usang dan berdebu.
Shasmira merogoh ke dalam, mengangkat kotak beludru itu keluar dari tumpukan barang. Permukaannya terasa lembut namun rapuh di ujung jarinya. Dengan jari-jari yang sedikit bergetar, ia menekan kancing pengait kotak tersebut.
Klek.
Kotak itu terbuka. Napas Shasmira seketika tertahan di tenggorokan. Di dalam kotak beludru itu, terbaring sehelai kalung perak berliontin kecil berbentuk kunci tua yang berkilau sayup diterpa cahaya lampu minyak di dinding. Tidak hanya itu, tepat di bawah kalung perak tersebut, terdapat secarik kertas robek dengan tulisan tangan yang sangat ia kenali—goresan tangan tegas milik ayahnya sendiri.
Shasmira mengangkat kertas robek itu mendekat ke arah cahaya. Tulisan tangan itu berbunyi sebuah kalimat yang membuat sekujur tubuhnya mendadak lemas:
Shasmira terpaku di atas lantai gudang yang dingin. Jantungnya berdegup kencang seolah hendak meloncat keluar dari dadanya. Kalimat misterius itu menegaskan kecurigaannya selama ini: hidupnya di Desa Sukamaju, statusnya sebagai anak seorang kepala desa yang dihormati, ternyata menyimpan sebuah rahasia besar masa lalu yang tidak pernah diceritakan oleh kedua orang tuanya sedikit pun.
"Apa maksud dari akar lamamu, Ayah?" bisik Shasmira gemetar, menatap nanar kalung kunci tua di dalam kotak beludru tersebut.
❖ ❖ ❖
Keesokan paginya, matahari terbit dengan sorot cahaya yang cerah di atas atap-atap rumah warga Sukamaju, namun suasana hati Shasmira jauh dari kata tenang. Sepanjang malam ia tidak bisa memejamkan mata. Kotak beludru berisi kalung perak dan surat misterius itu ia sembunyikan di bawah lipatan pakaian dalam lemari kamarnya. Ia memutuskan untuk bersikap biasa di depan suaminya, Hafizh, dan kedua orang tuanya, meski pikirannya terus berkecamuk mencari jawaban.
Sore harinya, ketika Hafizh sedang pergi mengajar ke madrasah di desa sebelah, Shasmira memanfaatkan kesempatan itu untuk menemui ibunya yang sedang menyiapkan rempah-rempah di dapur belakang.
"Ibu..." panggil Shasmira dengan suara pelan, mencoba menetralkan nada bicaranya agar tidak terdengar gugup.
Nyai Siti menoleh sambil tersenyum hangat, mengelap tangannya yang basah dengan kain serbet. "Ada apa, Nak? Wajahmu tampak agak pucat hari ini. Apa badanmu kurang sehat setelah malam tadi anginnya cukup kencang?"
Shasmira menggeleng pelan, lalu menarik sebuah kursi kayu dan duduk tepat di hadapan ibunya. Ia menatap lekat-lekat mata sang ibu, mencari celah kejujuran di balik kerutan halus di wajah wanita paruh baya itu. "Ibu, Shasmira ingin bertanya sesuatu... tapi Shasmira mohon Ibu menjawabnya dengan sejujur-jujurnya."
Melihat keseriusan di wajah putrinya, senyum Nyai Siti perlahan memudar. Ia meletakkan alu kecil di atas piring batu. "Tanya apa, Shasmira? Kenapa nada bicaramu terdengar begitu serius?"
"Tentang masa lalu kita... tentang siapa diri Shasmira sebenarnya," ucap Shasmira lirih, membuat Nyai Siti seketika menegang. "Selama ini Shasmira tahu Abah adalah kepala desa yang dihormati di Sukamaju. Tapi semalam... tanpa sengaja Shasmira membuka peti kayu tua di gudang belakang."
Wajah Nyai Siti mendadak pucat pasi. Warna merah muda di pipinya seolah lenyap seketika. Ia membuka sedikit mulutnya, namun tidak ada suara yang keluar dari bibirnya.
"Shasmira menemukan kotak beludru, kalung berliontin kunci tua, dan secarik surat dari Abah," lanjut Shasmira dengan mata berkaca-kaca. "Surat itu menyebutkan tentang 'akar lamamu'. Ibu, apa artinya itu? Apakah Shasmira... bukan anak kandung Abah dan Ibu? Apakah ada rahasia besar yang kalian sembunyikan dari Shasmira selama ini?"
Nyai Siti menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tangannya yang keriput mulai bergetar hebat. Ia meremas ujung kain kebaya yang dikenakannya, seolah sedang menahan beban berat yang sudah ia pendam rapat-rapat selama puluhan tahun lamanya.
"Shasmira, Nak..." suara Nyai Siti tercekat di tenggorokan. Air mata perlahan menetes membasahi pipinya yang keriput. "Ibu dan Abah tidak pernah berniat untuk membohongimu. Semua itu kami lakukan demi melindungimu dari dunia luar yang kejam."
"Melindungi dari apa, Bu? Shasmira berhak tahu siapa asal-usul Shasmira sebenarnya!" desak Shasmira, suaranya mulai bergetar karena emosi yang bercampur aduk antara rasa penasaran dan rasa takut yang mendalam.
❖ ❖ ❖
Sebelum Nyai Siti sempat menjawab lebih jauh, pintu depan rumah terbuka dengan suara decitan khasnya, disusul oleh suara deheman Kyai Ahmad yang baru saja pulang dari balai desa. Mendengar kedatangan sang suami, Nyai Siti segera bangkit dari duduknya dengan tergesa-gesa.