Sang Kembang Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #10

Kegelisahan di Balik Senyum

Kegelisahan di Balik Senyum Sang Kepala Desa---

Di ruang kerjanya yang dipenuhi tumpukan arsip desa dan kitab-kitab tebal, Kyai Ahmad sering kali mematikan lampu minyak lebih lambat dari biasanya. Sebagai seorang Kepala Desa sekaligus seorang ayah, malam-malam panjang selalu diisi dengan gumam doa dan tarikan napas berat. Ruangan itu saksi bisu dari berbagai keputusan besar yang telah ia ambil untuk warganya, mulai dari sengketa batas tanah hingga urusan irigasi sawah. Namun, malam ini, tidak ada peta desa atau berkas bantuan pangan yang terbentang di atas meja kayunya. Yang ada hanyalah secangkir kopi hitam yang mulai mendingin dan sebuah buku catatan harian tua berisi silsilah keluarga serta daftar panjang nama-nama pemuda yang pernah datang bertamu.

Pikiran Kyai Ahmad tidak pernah jauh dari Shasmira. Ia melihat bagaimana putri tunggalnya itu tumbuh menjadi wanita mandiri yang teguh memegang prinsip agama, mengajar anak-anak mengaji di surau kecil setiap sore, dan membantu mengelola dapur umum pesantren tanpa pernah mengeluh lelah. Namun, di balik kebanggaan yang membuncah di dadanya, terselip rasa khawatir yang mendalam di dada sang kiai. Usia Shasmira terus bertambah, sementara puluhan lamaran yang datang telah ia tolak dengan halus. Bayang-bayang masa depan putrinya kala ia tiada nanti menjadi beban terberat yang bergelayut di benaknya yang mulai renta.

"Belum tidur, Abah?" suara yang sangat dikenalnya memecah keheningan malam.

Kyai Ahmad mendongak, mendapati Shasmira berdiri di ambang pintu dengan membawa sehelai selendang hangat untuk menutupi pundak ayahnya. Senyum gadis itu mengembang lembut, membawa keteduhan yang seketika meringankan beban di kepala sang kiai, meski hanya sesaat.

"Belum, Nduk. Angin malam di luar sedang tidak bersahabat, dan pikiran Abah melayang ke mana-mana," jawab Kyai Ahmad sambil tersenyum tipis, merapikan letak kacamata bacanya.

Shasmira melangkah masuk mendekati meja kerja, meletakkan selendang wol tipis itu ke pundak ayahnya dengan penuh takzim. Jemarinya yang lentik merapikan beberapa lembar kertas yang berantakan. "Abah pasti memikirkan tugas-tugas desa lagi, atau laporan anggaran pembangunan jembatan yang sempat tertunda itu?" tanyanya dengan nada prihatin.

Kyai Ahmad menggeleng pelan, meraih tangan putrinya dan menggenggamnya sejenak. "Bukan soal jembatan desa atau urusan administrasi kantor kecamatan, Shasmira. Pikiran Abah justru tertuju pada masa depanmu. Usiamu kini sudah menginjak dua puluh empat tahun. Di desa kita, gadis seusiamu sebagian besar sudah menimang anak atau mendampingi suami mengurus rumah tangga."

Shasmira menarik napas perlahan, namun senyum di wajahnya tidak sedikitpun memudar. Ia menarik sebuah kursi kayu kecil, lalu duduk tepat di hadapan sang ayah. "Abah, rezeki, umur, dan jodoh sudah tertulis rapi di Lauh Mahfuzh sebelum kita dilahirkan ke dunia ini. Mengapa Abah harus mencemaskan sesuatu yang telah diatur oleh Sang Pencipta?" tanyanya menenangkan.

"Abah tahu betul itu, Nduk. Imanmu tidak pernah diragukan. Tapi Abah ini manusia biasa yang punya rasa cemas," keluh Kyai Ahmad jujur, menatap manik mata putrinya yang jernih. "Kyai Ahmad tahu betul alasan di balik setiap penolakan putrinya. Shasmira bukan bersikap angkuh atau pemilih tanpa arah, melainkan sedang mencari ketulusan murni—sebuah ikatan pernikahan yang dibangun di atas fondasi iman dan kecocokan jiwa, bukan sekadar status sosial atau harta bendawi."

"Lantas, apakah salah jika hamba ingin menjaga kehormatan itu, Abah?" tanya Shasmira lembut, menyuarakan isi hatinya dengan penuh keyakinan. "Menikah bukan sekadar melepas status lajang atau menghindarigunjingan tetangga desa. Menikah adalah ibadah terpanjang. Jika hamba salah memilih nakhoda untuk perahu rumah tangga ini, hamba khawatir justru akan tersesat di tengah jalan."

"Tidak ada yang salah dengan prinsipmu, Shasmira. Hanya saja, dunia luar terkadang tidak melihat niat suci di balik caramu menolak. Kemarin lusa, ayah dari Raden Mahesa sempat menyindir Abah di balai desa, mengatakan bahwa keluarga kita terlalu tinggi menetapkan standar," ucap Kyai Ahmad dengan nada berat, mencurahkan beban sosial yang harus ia pikirkannya sebagai tokoh masyarakat.

Shasmira menunduk sejenak, meresapi setiap kata yang diucapkan ayahnya. Ada rasa iba di dadanya melihat sang ayah harus menanggung beban sosial akibat ketegasannya. Namun, ia tahu ia tidak boleh goyah pada prinsip yang telah ia bangun di atas nilai-nilai agama.

"Biarlah orang berkata apa, Abah. Penilaian manusia itu dangkal dan mudah berubah seperti angin musim. Yang terpenting di hadapan Allah adalah kebersihan niat kita," ucap Shasmira tegar, mengangkat wajahnya kembali menatap sang ayah. "Abah telah mendidik hamba untuk menjadi wanita yang mandiri secara akidah dan mental. Hamba yakin, Allah sedang menyiapkan waktu terbaik-Nya."

Kyai Ahmad menghela napas panjang, lalu tersenyum bangga. Ia meraba kepala putrinya yang terbalut kerudung. "Baiklah, Nduk. Teruslah istiqomah dengan pendirianmu. Abah akan selalu mendukungmu, sekalipun seluruh penduduk desa menentang keputusan kita."

❖ ❖ ❖

Matahari baru saja naik sehgenggaman tombak ketika kesibukan di halaman kantor desa mulai terasa. Warga silih berganti datang mengurus surat keterangan miskin, akta kelahiran, hingga izin keramaian hajatan. Kyai Ahmad, selaku kepala desa yang merangkap sebagai tokoh agama, harus melayani setiap warga dengan senyum ramah dan kesabaran ekstra di tengah kegundahan hatinya yang belum sepenuhnya reda.

Di sudut ruang tunggu balai desa, duduklah seorang perempuan paruh baya bernama Nyai Sarpin. Ia dikenal sebagai mak comblang paling berpengaruh di tiga kecamatan sekitar. Tangannya sibuk merapikan tas kain bercorak batik sambil mengawasi setiap orang yang keluar masuk ruangan kepala desa. Begitu melihat pintu ruang kerja Kyai Ahmad terbuka, ia langsung berdiri dan melangkah masuk tanpa menunggu dipersilakan.

"Assalamu'alaikum, Kyai Ahmad!" sapa Nyai Sarpin dengan suara cempreng yang khas, langsung mengambil tempat duduk di kursi tamu tanpa canggung.

Kyai Ahmad yang baru saja meletakkan stempel desa tersenyum tipis, menyambut tamunya dengan takzim. "Wa'alaikumussalam warahmatullah. Wah, Nyai Sarpin pagi-pagi sekali sudah singgah ke kantor desa. Ada urusan administrasi apa yang bisa saya bantu, atau sekadar silaturahmi?"

Nyai Sarpin tertawa kecil, melambaikan tangannya di udara. "Ah, Kyai ini bisa saja. Urusan administrasi itu urusan belakangan. Kedatangan saya hari ini jauh lebih penting daripada sekadar mengurus surat tanah, yaitu mengurus masa depan putri semata wayang Kyai yang luar biasa itu, Shasmira!"

Mendengar nama putrinya disebut, otot-otot di wajah Kyai Ahmad sedikit mengendur. Ia sudah bisa menebak arah pembicaraan perempuan paruh baya tersebut. "Silakan dilanjutkan, Nyai. Ada kabar dari siapa lagi kali ini?" tanya Kyai Ahmad dengan nada sabar.

"Begini, Kyai. Kemarin juragan tembakau dari kota kabupaten, Haji Mahmud, mendatangi rumah saya secara khusus. Beliau menitipkan pesan dan amanah yang sangat besar untuk disampaikan kepada Kyai," tutur Nyai Sarpin dengan gaya bicara yang bersemangat. "Haji Mahmud adalah seorang pengusaha sukses, tanahnya berhektar-hektar, gudang tembakaunya ada di mana-mana. Beliau sangat mengagumi kecantikan dan kecerdasan Shasmira."

Kyai Ahmad mendengarkan dengan seksama, jemarinya mengetuk-ngetuk meja secara pelan. "Haji Mahmud adalah saudagar yang dermawan, saya tahu itu. Tapi bukankah beliau sudah beristri dua dan usianya terpaut jauh dari Shasmira?"

Nyai Sarpin langsung melambaikan tangannya, membela sang saudagar dengan berapi-api. "Aduh, Kyai! Soal usia itu nomor sekian, yang penting jaminan materi hidupnya terjamin sampai tujuh turunan! Shasmira akan dijadikan permaisuri di rumah besar Haji Mahmud, tidak perlu lagi repot-repot mengajar anak-anak mengaji di surau kumuh itu. Hidupnya akan bergelimang emas permata!"

Dari balik pintu ruang kerja yang memang tidak tertutup rapat, Shasmira yang kebetulan datang mengantar rantang berisi makan siang untuk ayahnya mendengarkan setiap kalimat tersebut dengan jelas. Langkah kakinya terhenti seketika di ambang pintu. Dadanya bergemuruh, bukan karena marah, melainkan karena rasa tidak percaya bahwa masih ada orang yang menilai wanita sebatas komoditas materi.

Shasmira menarik napas dalam-dalam, menenangkan gejolak di dadanya, lalu melangkah masuk dengan anggun membawa rantang makanan tersebut. Ia meletakkannya di atas meja kecil di sudut ruangan dengan gerakan yang sangat tenang.

Nyai Sarpin tertegun melihat kemunculan Shasmira secara tiba-tiba. Wajah perempuan paruh baya itu mendadak salah tingkah, namun ia segera memasang senyum lebar khas seorang pencari jodoh profesional.

"Nah, panjang umur! Shasmira sendiri yang datang!" seru Nyai Sarpin antusias. "Nduk, kamu dengar sendiri kan tawaran dari Haji Mahmud tadi? Ini kesempatan emas yang tidak boleh kamu sia-siakan begitu saja. Jarang ada saudagar kaya raya yang mau melamar gadis desa sepertimu."

Shasmira berdiri tegak dengan balutan gamis abu-abu sederhana dan kerudung rapi menutupi dada. Ia menatap Nyai Sarpin dengan pandangan yang teduh namun menyiratkan ketegasan yang tidak bisa ditawar.

"Terima kasih atas niat baik Nyai Sarpin dan juga tawaran mulia dari Haji Mahmud," ucap Shasmira dengan suara jernih yang memenuhi ruangan. "Namun, sampaikan permohonan maaf hamba yang sebesar-besarnya kepada beliau."

Lihat selengkapnya