Sang Kembang Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #12

Restu yang Mengalir

Restu yang Mengalir dalam Doa Panjang

Meski mendukung penuh keputusan Shasmira, Kyai Ahmad tetap menyimpan tanggung jawab moral sebagai orang tua. Ia tahu bahwa ketulusan yang dicari Shasmira tidak akan datang begitu saja tanpa ikhtiar dan doa yang tulus dari kedua orang tuanya. Keheningan malam di pondok pesantren terasa begitu sakral, menyisakan suara embusan angin dini hari yang bergesekan dengan dedaunan bambu di sisi asrama.

"Ibu, apakah kamu sudah tidur?" bisik Kyai Ahmad pelan seraya menoleh ke arah istrinya yang masih terbaring tenang di atas sajadah panjangnya.

Nyai Maryam membuka matanya perlahan, lalu mendongak menatap sang suami dengan senyuman lembut. "Belum, Ayah. Hati saya masih terlalu gelisah memikirkan Shasmira yang kini berada jauh di Kairo, menghadapi babak baru kehidupannya yang penuh misteri."

Kyai Ahmad menghela napas panjang, merapikan sorban putih yang melingkar di pundaknya. "Saya pun merasakan hal yang sama, Ibu. Sebagai ayah, rasa cemas itu wajar. Tapi kita harus percaya bahwa Allah adalah sebaik-baik pelindung bagi hamba-Nya yang sedang menuntut ilmu."

Keesokan paginya, seusai salat tahajud di sepertiga malam terakhir, Kyai Ahmad bersujud lebih lama dari biasanya. Di keheningan musala yang hanya diterangi lampu temaram, keningnya menempel erat pada lantai kayu yang dingin. Dalam linangan air mata, ia memanjatkan doa khusus kepada Sang Pencipta agar menjaga hati putrinya dan segera mempertemukan Shasmira dengan seorang pria yang sepadan—pria yang tidak hanya tulus mencintai Shasmira, tetapi juga mampu menuntun masa depannya dengan penuh kemuliaan.

"Ya Allah, zat yang membolak-balikkan hati manusia," bisik Kyai Ahmad lirih dalam sujudnya, "jika memang waktu perpisahan ini adalah jalan terbaik untuk mendewasakannya, maka peliharalah imannya. Dan jika kelak tiba saatnya, datangkanlah pendamping hidup yang sejalan dengan ridha-Mu, seseorang yang mampu menjadi imam yang meneduhkan jiwanya."

Nyai Maryam yang duduk di belakangnya ikut mengaminkan dengan suara bergetar, menyeka air mata yang menetes di pipinya. Selepas salam, keduanya duduk bersila, meresapi ketenangan pagi yang menyapa perlahan dari balik jendela surau.

"Ayah sepertinya sudah memikirkan hal itu terlalu jauh," ucap Nyai Maryam sambil melipat mukena putihnya. "Shasmira bahkan baru saja memulai langkah awalnya di kancah internasional."

"Bukan terlalu jauh, Ibu. Waktu berjalan begitu cepat. Anak gadis kita yang dulu belajar mengeja huruf hijaiyah di pangkuan kita, kini telah tumbuh menjadi wanita salihah yang memikul amanah besar," jawab Kyai Ahmad bijak.

Bagi Kyai Ahmad, kekhawatirannya kini berubah menjadi kepasrahan yang indah. Ia memilih untuk membiarkan takdir bekerja, sembari terus memeluk erat rahasia masa lalu yang tersimpan di dalam peti kayu tua—sebuah rahasia yang ia tahu lambat laun akan terbuka dan mengubah jalan hidup Shasmira selamanya.

❖ ❖ ❖

Di belahan bumi yang lain, ribuan kilometer dari Desa Sukamaju, Shasmira tengah menatap hamparan kota Kairo dari jendela kamar asrama mahasiswinya. Suara bising kendaraan bercampur dengan kumandang azan subuh dari berbagai menara masjid menggema, menciptakan harmoni spiritual yang menenangkan jiwanya.

"Shas, kau belum tidur sama sekali?" suara lembut Fatimah, teman sekamarnya asal Maroko, memecah lamunan Shasmira.

Shasmira menoleh, tersenyum tipis sembari menutup buku catatan riset fikih kontemporer di atas meja. "Belum, Fatimah. Aku baru saja menyelesaikan telaah bab akad dalam ekonomi syariah. Pikiranku melayang jauh teringat Ayah dan Ibu di kampung."

Fatimah melangkah mendekat, menuangkan air hangat ke dalam dua cangkir keramik. "Wajar jika kau merindukan rumah, Shasmira. Perubahan besar ini tentu menuntut adaptasi yang tidak mudah. Tapi ingat, pengorbananmu tidak akan pernah sia-sia."

"Aku tahu, Fatimah. Hanya saja, semalam aku bermimpi tentang ayah yang sedang membuka peti kayu tua di sudut perpustakaan rumah kami. Di dalam mimpi itu, ada sepucuk surat usang yang seolah memanggil namaku," cerita Shasmira dengan kening berkerut penasaran.

Fatimah mengerjap, menyeruput teh hangatnya perlahan. "Mimpi seorang anak kiai biasanya membawa alamat atau isyarat tertentu. Apakah ayahmu pernah menceritakan sesuatu tentang masa lalunya?"

"Tidak pernah. Ayah selalu menutup rapat apa pun yang tersimpan di dalam peti itu. Beliau hanya bilang, waktunya belum tepat untuk kubuka," jawab Shasmira lirih, jemarinya memutar-mutar gagang cangkir.

Di tengah kesibukan akademis yang luar biasa padat di universitas ternama itu, bayang-bayang masa lalu keluarganya seakan menjadi teka-teki yang terus mendesak untuk dipecahkan. Namun, ia harus segera mengalihkan fokusnya karena hari ini adalah jadwal presentasi riset pertamanya di hadapan para dewan mufti dan profesor terkemuka.

"Persiapkan dirimu, Shas. Sebentar lagi kita harus berangkat ke auditorium utama," ingatkan Fatimah sambil merapikan jilbab abu-abu miliknya.

Shasmira mengangguk mantap. Ia merapikan pakaiannya, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan debar di dadanya, lalu melangkah keluar kamar menyongsong takdir yang telah digariskan oleh Sang Pencipta.

❖ ❖ ❖

Suasana auditorium utama Universitas Al-Azhar tampak begitu megah dan khidmat. Puluhan mahasiswa pascasarjana dari berbagai negara duduk rapi di kursi penonton, sementara di meja kehormatan, tiga orang ulama sepuh bergelar profesor tampak serius membolak-balik lembaran naskah riset milik Shasmira.

"Peserta selanjutnya dari delegasi Indonesia, Shasmira binti Ahmad, silakan naik ke podium untuk memaparkan tesis singkat mengenai reinterpretasi hukum zakat kontemporer," panggil panitia dengan mikrofon berbalut suara berat.

Shasmira berdiri dari bangku deretan depan. Kakinya terasa sedikit berat, namun ingatan akan doa-doa sang ayah di sepertiga malam terakhir seketika memberi kekuatan luar biasa pada setiap langkahnya. Ia menaiki tangga podium dengan tenang, mengenakan jilbab putih bersih yang mencerminkan keteguhan karakternya.

"Bismillahirrahmanirrahim," ucap Shasmira memulai presentasinya dalam bahasa Arab yang fasih dan tertata rapi.

Ia memaparkan argumen-argumen fikih yang tajam, memadukan pandangan mazhab klasik dengan realitas ekonomi digital modern secara sistematis. Di barisan kursi undangan, seorang pemuda berbusana jas rapi dengan peci hitam tampak memperhatikan setiap patah kata yang keluar dari bibir Shasmira dengan tatapan penuh kekaguman.

Lihat selengkapnya