Ketika Desa Sukamaju Masih Bernapas dalam Kesederhanaan
Malam setelah perbincangannya yang panjang dengan sang Ayah di serambi rumah, tidur Shasmira tidak begitu nyenyak. Bayangan kalung perak berliontin kunci tua yang tersimpan di dalam peti kayu tua terus berkelebat di benaknya, menarik kesadarannya mundur jauh ke lorong waktu masa kecil yang selama ini terabai di balik kabut ingatan.
Di dalam kamar kecilnya yang diterangi cahaya lampu minyak temaram, Shasmira terbangun tepat pukul tiga pagi. Ia duduk bersila di atas ranjang bambu, menarik selimut tipis untuk menutupi pundaknya yang menggigil akibat udara malam pedesaan yang mulai menusuk tulang. Matanya terbuka lebar, menatap lurus ke arah jendela kayu yang berderit pelan karena terpaan angin malam.
"Kenapa bayangan itu terus kembali mengusik tidurku?" gumam Shasmira lirih sambil memegang dadanya yang berdegup tidak beraturan.
Dalam keheningan malam yang pekat, ingatan Shasmira mulai terurai perlahan bagai gulungan benang kusut yang ditarik secara hati-hati. Ia tidak lagi memikirkan masa kini atau hiruk-pikuk modernisasi yang melanda desa, melainkan ditarik mundur ke masa silam. Ia teringat Desa Sukamaju pada belasan tahun lalu, jauh sebelum tiang-tiang listrik beton berdiri kokoh di pinggir jalan dan sebelum deru kendaraan bermotor memadati jalur penghubung antar-kecamatan seperti sekarang.
Saat itu, Sukamaju adalah sebuah tempat yang benar-benar terisolasi namun menyimpan ketenangan mutlak. Waktu seakan berjalan jauh lebih lambat di desa tersebut. Rumah-rumah panggung berderet rapat di bawah rimbunnya pohon-pohon buah milik warga, dan anak-anak kecil selalu berlarian riang tanpa alas kaki di atas jalan setapak tanah liat yang masih basah oleh embun pagi atau sisa hujan sore hari.
Di masa-masa itulah Shasmira kecil tumbuh besar. Ia bukan tipikal anak yang pendiam atau murung, melainkan seorang gadis kecil yang sangat ceria, energik, dan memiliki rasa ingin tahu yang teramat besar terhadap alam di sekitarnya.
"Shasmira! Jangan memanjat terlalu tinggi, nanti jatuh!" suara lembut seorang wanita paruh baya—ibunya di masa lalu—terngiang jelas di telinganya.
Shasmira tersenyum kecil dalam gelap kamarnya saat mengingat memori itu. Ia ingat betul bagaimana dirinya sering kali kedapatan asyik memanjat pohon jambu air di bagian belakang rumah panggung mereka, mengabaikan pakaiannya yang kotor terkena noda getah dan debu tanah. Setelah puas memetik buah jambu yang manis, ia akan menghabiskan sore harinya dengan berlari bebas menuju tepi sungai kecil yang airnya sangat jernih, berbatu-batu licin, dan dipenuhi ikan kecil yang berenang kesana-kesini.
Di tepi sungai itulah, ingatan Shasmira menangkap sesosok bayangan lain yang selalu menemaninya. Seorang anak lelaki seusianya dengan kulit sawo matang, rambut ikal pendek, dan senyum yang sangat akrab. Mereka sering menghabiskan waktu berjam-jam bersama, melempar batu pipih ke permukaan air sungai untuk menciptakan riak gelombang, atau membuat perahu-perahuan kecil dari pelepah pisang.
Namun, setiap kali Shasmira mencoba mengingat nama atau wajah jelas dari anak lelaki tersebut, kepalanya mendadak terasa pening dan bayangan itu buyar begitu saja bagai asap yang ditiup angin.
"Siapa anak lelaki itu? Dan di mana dia sekarang?" bisik Shasmira pada kesunyian kamarnya sendiri.
Ia bangkit dari ranjang, berjalan pelan menghampiri kendi air di sudut kamar, lalu menuangkan sedikit air ke dalam gelas gerabah dan meminumnya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Angin malam berhembus semakin kencang, menggoyang-goyangkan daun-daun pisang di luar jendela, seolah ikut mengantarkan pesan dari masa lalu yang menuntut untuk segera diselesaikan.
Shasmira menyadari bahwa kepulangan ingatannya tentang Desa Sukamaju di masa lalu bukanlah sebuah kebetulan semata. Desa itu menyimpan rahasia besar tentang asal-usulnya, tentang siapa dirinya sebelum diasuh oleh Kyai Ahmad, dan tentang kunci perak misterius yang kini tersimpan rapi di dalam peti kayu di loteng rumah.
❖ ❖ ❖
Matahari pagi perlahan menerobos celah-celah jendela kamar Shasmira, membawa kehangatan yang mengusir sisa-sisa dingin malam. Shasmira sudah selesai menunaikan salat subuh dan membantu ibunya menyiapkan sarapan di dapur kayu tradisional. Aroma nasi liwet bercampur ikan asin dan sambal terasi mengepul di udara, menghadirkan suasana pedesaan yang sangat autentik dan menenangkan.
"Pagi ini wajahmu tampak sedikit pucat, Shasmira," tegur Ibu sambil mengangkat panci nasi dari atas tungku tanah liat. "Apa semalam kamu tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan cerita Ayah?"
Shasmira membantu ibunya merapikan piring-piring di atas meja makan kayu. "Iya, Ibu. Semalam pikiran saya melayang jauh ke masa kecil dulu. Saat Desa Sukamaju ini masih sangat asri, sunyi, dan belum banyak tersentuh perubahan."
Ibu menghela napas pelan, lalu tersenyum hangat kepada putri angkatnya. "Dulu, memang seperti itulah desa kita, Nak. Sangat damai. Orang-orang hidup dalam gotong royong yang erat tanpa ada persaingan materi yang melelahkan. Tapi waktu terus berjalan, dan manusia tidak bisa menghentikan perubahan zaman."
"Tapi ada hal yang membuat saya penasaran, Ibu," kata Shasmira serius sambil menatap mata ibunya. "Tentang masa kecil saya sebelum saya dirawat oleh Ayah dan Ibu di rumah ini. Apakah Ibu ingat kapan persisnya saya pertama kali datang ke Desa Sukamaju?"
Ibu menghentikan aktivitasnya merapikan piring. Ia menatap Shasmira lekat-lekat, lalu menarik kursi kayu dan duduk di samping meja makan. Suasana mendadak menjadi hening.
"Ibu ingat betul hari itu, Shasmira," ucap Ibu dengan suara bergetar pelan. "Delapan belas tahun yang lalu, saat musim hujan lebat melanda desa kita. Malam itu, Ayahmu pulang membawa seorang anak perempuan kecil yang sedang tertidur pulas dalam dekapannya, basah kuyup, dengan sehelai kalung perak berliontin kunci terselip di leher kecilmu."
Shasmira meraba lehernya sendiri, tempat di mana kalung perak itu kini tersimpan aman di dalam kotak kayu di loteng. "Apakah Ayah pernah menceritakan kepada Ibu dari mana asal-usul saya yang sebenarnya?"
"Ayahmu hanya bilang bahwa kamu adalah amanah besar yang harus dijaga dengan seluruh jiwa raga," jawab Ibu sambil memegang tangan Shasmira dengan lembut. "Identitas keluargamu sengaja dirahasiakan demi keselamatanmu, karena saat itu ada bahaya besar yang mengancam keluargamu di kota asal."
Percakapan pagi itu terhenti ketika suara ketukan pintu depan terdengar dari ruang tamu. Shasmira bergegas melangkah ke depan untuk membukanya. Di ambang pintu, berdiri Kyai Ahmad yang baru saja pulang dari surau setelah menunaikan duha.
"Assalamualaikum, Ayah," sapa Shasmira sambil mencium tangan sang kiai dengan takzim.
"Wa'alaikumussalam, Shasmira," jawab Kyai Ahmad tersenyum teduh. Ia melangkah masuk, lalu duduk di kursi ruang tamu. "Sepertinya wajahmu menyimpan banyak pertanyaan pagi ini, Nak. Ada apa?"
Shasmira duduk di hadapan ayah angkatnya. "Ayah, semalam saya mencoba mengingat kembali masa kecil saya di desa ini. Saya teringat suasana Sukamaju tempo dulu, saat jalanan masih tanah liat dan air sungainya sangat jernih. Tapi ada satu hal lagi yang selalu mengusik pikiran saya: seorang anak lelaki yang sering bermain bersama saya di tepi sungai sebelum semua kejadian itu terjadi."
Kyai Ahmad tertegun sejenak. Sorot matanya mendadak berubah, menyiratkan keterkejutan yang berusaha disembunyikan di balik senyum tenangnya.
"Anak lelaki?" tanya Kyai Ahmad memastikan.
"Iya, Ayah," jawab Shasmira mantap. "Kami sering bermain bersama di dekat sungai belakang desa. Tapi saya lupa siapa namanya dan ke mana dia pergi setelah malam tragedi itu."
Kyai Ahmad menarik napas panjang. Ia meletakkan tongkat kayunya di samping kursi, lalu menatap Shasmira dengan pandangan penuh makna. "Ingatanmu mulai kembali ke permukaan, Shasmira. Dan itu pertanda bahwa rahasia masa lalumu sudah waktunya untuk diungkap secara utuh."
❖ ❖ ❖