Bayangan Bocah Lelaki di Bawah Pohon Rindang
Matahari sore di Desa Sukamaju memancarkan bias cahaya keemasan yang menembus celah-celah dedaunan rindang, menciptakan garis-garis bayangan panjang di atas tanah lapang dekat balai desa lama. Shasmira duduk sendiri di atas bangku kayu tua di bawah naungan pohon beringin yang batangnya sudah dipenuhi lumut hijau. Angin sore berhembus pelan, membawa aroma khas tanah basah dan bunga kenanga yang gugur. Di tengah keheningan senja itu, pikiran Shasmira perlahan ditarik jauh mundur ke masa lalu—ke masa kanak-kanak yang penuh warna dan tawa riang sebelum badai rahasia keluarga menghantam hidupnya.
Semakin jauh ingatannya ditarik oleh waktu, kepingan-kepingan memori yang tadinya berserakan mulai menyatu, membentuk sebuah wajah yang selama ini kabur dan tertutup debu masa kecil. Di bawah rindangnya pohon beringin tua dekat balai desa lama ini, Shasmira kecil selalu menghabiskan waktu berjam-jam bersama seorang sahabat karibnya. Seorang bocah lelaki berwajah teduh, dengan sorot mata yang selalu memancarkan ketenangan luar biasa, meskipun saat itu usia mereka baru menginjak delapan tahun.
Shasmira memejamkan mata sejenak, mencoba meraba nama anak itu di dalam kepalanya, namun lidahnya terasa kelu. Yang ia ingat dengan sangat jelas hanyalah tawa renyah mereka berdua saat asyik membuat perahu kecil dari pelepah pisang dan daun talas, lalu menghanyutkannya ke aliran sungai jernih yang mengalir di samping balai desa.
"Lihat, Shas! Perahu kita berlayar paling cepat ke arah bendungan!" seru bocah lelaki itu riang sambil bertepuk tangan kecil.
Shasmira kecil tersenyum lebar melihat perahu kertas darurat itu meluncur mulus. "Wah, hebat! Nanti kalau kita sudah besar, kita buat perahu yang besar sungguhan ya, untuk menyeberang ke seberang pulau!" jawabnya polos.
Bocah itu adalah tempat Shasmira berbagi segala rahasia kecil yang tidak berani ia ceritakan kepada orang lain. Mulai dari ketakutannya yang berlebihan pada suara petir menyambar di musim hujan, hingga impian-impian polos masa kanak-kanak tentang bagaimana mereka ingin melindungi Desa Sukamaju dari segala mara bahaya. Mereka tidak peduli pada status sosial, kekayaan, atau urusan orang dewasa yang rumit; dunia mereka hanyalah permainan, tawa, dan persahabatan yang tulus di bawah naungan pohon beringin tua ini.
❖ ❖ ❖
Kenangan masa kecil itu terasa begitu hangat di dada Shasmira, namun tiba-tiba bayangan manis tersebut terpotong oleh sebuah garis hitam yang pekat—mengingatkannya pada hari paling menyedihkan dalam hidup masa kecilnya. Hari di mana bocah lelaki berwajah teduh itu lenyap begitu saja dari Desa Sukamaju tanpa sepatah kata perpisahan.
Shasmira membuka matanya perlahan. Dadanya terasa sesak seketika. Ia masih ingat betul sore hari itu, langit mendung kelabu menggantung rendah di atas desa, sama persis seperti hari ini. Ia menunggu di bawah pohon beringin ini selama berjam-jam membawa dua buah kue ketan buatan ibunya. Namun, batang tubuh bocah itu tidak pernah muncul. Yang tertinggal hanyalah sebuah ukiran inisial nama kecil di atas permukaan batang pohon beringin tua, serta keheningan yang menyayat hati.
"Ke mana kamu pergi tanpa pamit, Sahabatku?" gumam Shasmira lirih, jemarinya meraba permukaan batang pohon yang kini sudah dipenuhi tonjolan kayu akibat pertumbuhan usia pohon.
Langkah kaki seseorang yang mendekat membuyarkan lamunan Shasmira. Ia menoleh dan mendapati suaminya, Hafizh, berjalan menghampirinya dengan membawa sebotol air mineral dan sehelai selendang rajut tipis untuk melindungi pundak istrinya dari angin sore.
"Shas, sudah hampir magrib. Kenapa masih melamun sendirian di bawah pohon tua ini?" tanya Hafizh lembut, duduk di samping Shasmira sambil merangkul pundaknya dengan penuh kasih sayang.
Shasmira menoleh, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu suaminya. "Mas Hafizh... Shasmira sedang mengenang masa kecil. Dulu, sebelum badai keluarga kita datang, Shasmira punya seorang sahabat karib di tempat ini. Tapi dia menghilang begitu saja tanpa jejak."
Hafizh mendengarkan dengan penuh perhatian, mengusap lengan istrinya dengan lembut. "Setiap orang punya masa lalu yang membentuk siapa dirinya hari ini, Shas. Mungkin, hilangnya sahabatmu itu adalah bagian dari takdir Allah untuk mempertemukanmu dengan jalan hidup yang lain."
"Tapi rasanya ada sesuatu yang mengganjal, Mas," ucap Shasmira menatap lurus ke arah aliran sungai di dekat mereka. "Nama anak itu... Shasmira benar-benar lupa. Padahal kami pernah membuat janji suci di bawah pohon ini."
❖ ❖ ❖
Janji kekanak-kanakan itu kembali berputar dalam ingatan Shasmira dengan sangat tajam. Mereka bahkan pernah membuat sebuah janji yang diucapkan bersama di bawah dahan pohon beringin tersebut: bahwa suatu hari nanti, di tempat yang sama, jika mereka terpisahkan oleh jarak dan waktu, mereka akan saling mengingatkan untuk selalu menjadi orang baik yang menjaga desa tercinta dari orang-orang serakah.
"Apakah janji itu masih berlaku, di mana pun kamu berada sekarang?" batin Shasmira pilu.
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar mendekati area balai desa lama. Shasmira dan Hafizh langsung menoleh serempak. Dari balik semak-semak dekat jembatan kecil, muncul sosok lelaki paruh baya berpakaian rapi dengan topi laken hitam—seseorang yang belum pernah mereka lihat sebelumnya di Desa Sukamaju. Lelaki itu tampak membawa sebuah buku catatan usang dan berjalan pincang sebelah.
Lelaki asing itu menghentikan langkahnya ketika melihat Shasmira dan Hafizh duduk di bawah pohon beringin. Ia menatap Shasmira cukup lama, seolah sedang mencocokkan sesuatu di dalam ingatannya. Sorot matanya tajam namun menyiratkan kelelahan yang luar biasa.