Sang Kembang Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #15

Kepingan Hati

Kepingan Hati yang Mulai Menemukan Bentuknya---

Seketika Shasmira terbangun dari tidurnya, napasnya sedikit memburu. Peluh dingin membasahi pelipisnya di tengah dinginnya udara malam yang merasuk melalui celah jendela kamar. Jantungnya berdegup kencang, seolah ia baru saja berlari menembus lorong waktu yang sangat panjang. Ia menatap sekeliling kamarnya yang diterangi temaram lampu tidur berbahan minyak tanah. Dinding kayu jati berderit pelan disapu angin malam, sementara bayangan lemari pakaian tampak seperti siluet asing di dalam kamar yang biasanya terasa begitu akrab dan menenangkan.

Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, mencoba menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan debar di dadanya. Mimpi itu datang lagi—sebuah potongan bayangan samar tentang masa kecil di tepi sungai desa, tawa riang bersama seorang bocah laki-laki berkalung kain merah, dan lambaian tangan perpisahan yang menyayat hati. Selama bertahun-tahun, potongan kenangan itu terkubur di bawah tumpukan kesibukan mengajarnya di surau dan urusan rumah tangga. Namun, penemuan kotak kayu di loteng rumah ayahnya sore tadi telah membuka kembali kotak Pandora yang selama ini terkunci rapat.

Kini ia mengerti. Ruang kosong di dadanya, rasa rindu yang tak berwujud, serta pertanyaan-pertanyaan yang kerap mengusik sore harinya bukanlah sekadar kebosanan atau keraguan dalam memilih jodoh. Itu adalah gema dari masa lalu—sebuah ikatan batin dengan sahabat kecilnya yang hilang, serta rahasia besar yang sengaja disimpan oleh ayahnya di dalam peti kayu tua. Rahasia yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh Kyai Ahmad demi melindungi kedamaian hidup putrinya.

Shasmira beranjak dari tempat tidur, melangkah pelan di atas lantai kayu yang terasa dingin di telapak kakinya. Ia menyalakan lampu minyak tambahan di atas meja rias, lalu meraih sebuah benda kecil yang tergeletak di atas piring kecil porselen. Benda itu adalah liontin kunci perak berukir rumit yang ia temukan di dalam peti sore tadi. Di bawah cahaya kekuningan lampu minyak, ukiran melingkar pada kunci tersebut tampak berkilau samar, menyimpan misteri yang belum terpecahkan.

Mendadak, liontin kunci perak yang ia temukan di peti sore tadi terasa begitu penting. Kunci itu bukan sekadar sepotong logam biasa; ia memiliki berat dan tekstur yang menyiratkan sejarah panjang. Shasmira menyadari bahwa pintu masa lalunya belum benar-benar tertutup rapat, dan kunci itu adalah satu-satunya jalan untuk membuka kembali lembaran hidupnya yang sempat terenggut oleh waktu.

Ia teringat bagaimana ayahnya bereaksi sore tadi ketika melihat kunci itu berada di tangan putrinya. Wajah Kyai Ahmad yang biasanya tenang mendadak pucat, bola matanya menyiratkan kepanikan bercampur rasa bersalah yang amat dalam. Sang ayah buru-buru merampas kotak itu dan meminta Shasmira melupakan apa yang baru saja ia lihat. Namun, semakin dilarang, rasa penasaran di dada Shasmira justru semakin membakar. Ada rahasia besar tentang asal-usulnya, atau tentang sahabat masa kecilnya, yang sengaja dikubur dalam-dalam oleh sang kiai.

"Apa sebenarnya yang Abah sembunyikan dariku?" bisik Shasmira lirih pada malam yang sunyi. Suaranya memantul pelan di dinding kamar, berpadu dengan suara jangkrik di luar jendela.

Ia tahu, ia tidak bisa tinggal diam. Malam ini, rasa penasaran itu telah berubah menjadi tekad bulat. Ia harus mencari tahu kebenarannya, sebelum waktu menghapus sisa-sisa jejak masa lalu yang tertinggal di rumah tua tersebut.

❖ ❖ ❖

Langkah kaki Shasmira bergeser pelan menuju pintu kamar. Ia membuka pintu itu selebar beberapa sentimeter, memastikan keadaan di luar benar-benar aman. Lorong rumah utama tampak gelap gulita, hanya diterangi oleh sisa cahaya bulan yang menyelinap dari jendela nako di ruang tengah. Suasana rumah begitu senyap, menandakan ayahnya telah tertidur pulas setelah kelelahan mengurus berbagai persoalan warga desa sepanjang hari.

Dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara decitan pada lantai kayu, Shasmira berjalan menyusuri lorong menuju ruang kerja ayahnya. Ruangan tempat biasa Kyai Ahmad membaca kitab dan menyimpan arsip-arsip penting desa. Pintu ruang kerja itu tidak terkunci rapat, hanya bergeser sedikit karena hembusan angin malam.

Shasmira mendorong pintu tersebut perlahan. Bau khas kertas tua, jilid kitab kulit, dan minyak wangi kasturi langsung menyambut indra penciumannya. Di sudut ruangan, di bawah meja kerja kayu jati yang kokoh, terdapat sebuah kotak rahasia di lantai yang tersamar oleh karpet usang—tempat yang sama di mana ayahnya menyembunyikan peti kayu sore tadi.

Ia berlutut di atas lantai kayu yang dingin, meraba permukaan karpet hingga menemukan tepi papan lantai yang dapat diangkat. Dengan jantung yang kembali berdegup kencang, ia membuka papan penutup tersebut. Di dalamnya, sebuah kotak besi berukuran sedang bersemayam dengan tenang, terkunci rapat.

Shasmira merogoh saku gamisnya, mengeluarkan liontin kunci perak yang ia bawa dari kamar. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia memasukkan ujung kunci perak itu ke lubang gembok kotak besi.

Klik.

Suara mekanisme kunci yang berputar terdengar begitu nyaring di tengah keheningan malam, membuat Shasmira sempat menahan napas dan menoleh ke belakang karena terkejut. Namun, tidak ada suara lain selain deru angin malam. Gembok itu terbuka.

Ia perlahan mengangkat penutup kotak besi tersebut. Di dalamnya, tersusun rapi beberapa lembar surat berhuruf sambung kuno, sehelai kain merah bergambar sulaman bintang kecil, serta sebuah foto hitam-putih seorang anak laki-laki seusianya dengan tatapan mata yang sangat ia kenal.

Shasmira mengambil foto usang tersebut. Jemarinya mengelus permukaan kertas yang mulai menguning. Itu adalah foto dirinya bersama seorang bocah laki-laki di depan gerbang pesantren lama, sebelum kebakaran besar menghanguskan tempat itu dua belas tahun silam. Di balik foto tersebut, tertulis sebuah kalimat dengan tinta hitam yang mulai pudar: “Janji kita di bawah pohon sawo, kita akan bertemu kembali ketika fajar menyingsing.”

Tiba-tiba, suara batuk pelan terdengar dari arah pintu ruang kerja.

Shasmira terperanjat kaget, menjatuhkan foto di tangannya ke dalam kotak. Ia mendongak dengan cepat, mendapati sosok Kyai Ahmad berdiri di ambang pintu dengan mengenakan sarung tenun dan baju koko putih. Wajah sang ayah tampak letih, namun sorot matanya menyiratkan kesedihan yang teramat sangat, bukan kemarahan.

"Abah..." cicit Shasmira, suaranya tercekat di tenggorokan. Ia merasa tertangkap basah sedang membuka rahasia terbesar yang dijaga ayahnya selama belasan tahun.

Kyai Ahmad tidak langsung membentak. Ia melangkah mendekat secara perlahan, langkah kakinya terasa berat di atas lantai kayu. Pria tua itu berlutut di sebelah putrinya, menatap ke dalam kotak besi yang kini terbuka lebar di hadapan mereka berdua.

"Kamu sudah melihat semuanya, Nduk?" tanya Kyai Ahmad dengan suara parau, sarat akan beban emosional yang selama ini ia pendam sendirian.

Shasmira menunduk, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. "Maafkan hamba, Abah. Hamba tidak bermaksud melanggar kepercayaan Abah. Tapi mimpi itu... dan kunci ini... terus memanggil hamba untuk mencari kebenaran yang hilang."

Kyai Ahmad menghela napas panjang, tarikan napas yang terdengar begitu lelah. Ia mengulurkan tangannya yang keriput, meraih pundak putrinya dengan kelembutan seorang ayah.

"Abah tidak marah, Shasmira. Abah justru merasa bersalah karena telah menyembunyikan kenyataan ini terlalu lama darimu," ucap Kyai Ahmad lirih, menatap lurus ke dalam mata putrinya. "Abah sengaja menutup rapat masa lalu itu demi melindungimu dari kepedihan yang mungkin tidak sanggup kamu pikul di usia muda."

❖ ❖ ❖

Suasana ruang kerja mendadak terasa begitu sakral. Cahaya lampu minyak yang temaram memperlihatkan garis-garis kerutan di wajah Kyai Ahmad yang tampak semakin tua di tengah malam yang sunyi. Shasmira merapatkan duduknya, menanti penjelasan yang selama ini menjadi teka-teki terbesar dalam hidupnya.

"Siapa anak laki-laki di foto ini, Abah?" tanya Shasmira dengan suara bergetar, mengangkat kembali foto hitam-putih yang sempat terjatuh ke dalam kotak besi.

Kyai Ahmad menatap foto tersebut cukup lama, seolah sedang menerawang kembali ke masa-masa sulit belasan tahun silam sebelum ia memimpin desa ini. "Namanya Arka, Nduk. Dia adalah putra dari sahabat karib Abah, seorang guru ngaji yang mengelola pesantren tua di lereng gunung seberang."

Shasmira menyimak setiap kata yang diucapkan ayahnya dengan penuh perhatian. "Pesantren yang terbakar itu, Abah?"

Lihat selengkapnya