Sang Kembang Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #17

Ketukan Pintu

Ketukan Pintu dari Masa Lalu

Sore itu, langit Desa Sukamaju dihiasi oleh rona jingga keemasan yang perlahan meredup digantikan kedatangan senja. Begitu pintu kayu dibuka separuh, embusan angin sore menyambut wajah Shasmira, membawa aroma khas petrikor dari tanah basah dan wangi kayu gaharu yang lembut. Di ambang pintu, berdiri seorang pemuda berpostur tegap dengan balutan kemeja flanel gelap dan jaket kulit usang yang mencerminkan perjalanan panjang.

Shasmira terpaku di tempatnya berdiri, jemarinya yang menggenggam gagang pintu bergetar halus. "Zulfikar...?" bisiknya nyaris tak bersuara, menguji nama yang sudah bertahun-tahun tidak ia sebut secara langsung sejak pemuda itu merantau ke ibu kota demi mengejar karier dan impiannya.

Pemuda itu mengenakan peci hitam miring, dan garis wajahnya yang dulu bulat kini telah berubah menjadi tajam, tegas, serta memancarkan wibawa yang luar biasa. Namun, di balik perubahan fisik yang begitu gagah itu, sepasang mata di bawah alis tebalnya menatap Shasmira dengan tatapan yang begitu hangat—tatapan yang langsung meruntuhkan benteng pertahanan waktu.

Untuk beberapa detik, keduanya terdiam dalam keheningan. Dunia seakan berhenti berputar, menyisakan deru angin sore dan debar jantung yang bergemuruh di dada masing-masing.

"Assalamu'alaikum, Shasmira," sapa Zulfikar akhirnya, memecah keheningan dengan suara bariton yang terdengar jauh lebih matang dari ingatan terakhir Shasmira.

"Wa'alaikumussalam warahmatullah," jawab Shasmira tergagap, segera merapikan letak jilbabnya yang sempat tertiup angin. "Zulfikar? Kau benar-benar Zulfikar? Masuklah, mari silakan masuk."

Zulfikar melangkah masuk ke teras rumah panggung, melepaskan sepatu kulitnya dengan santai. "Maaf datang mendadak tanpa kabar, Shas. Aku baru saja dari pesantren Kiai Hasan, dan beliau menyarankanku untuk langsung menemuimu di sini."

"Tidak apa-apa, silakan duduk di kursi rotan itu. Aku akan ambilkan air minum," balas Shasmira, bergegas menuju dapur dengan perasaan yang campur aduk antara kaget, senang, dan penasaran.

Di ruang tamu, Zulfikar mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang masih mempertahankan nuansa klasik tradisional. Sesampainya Shasmira kembali dengan nampan berisi dua cangkir teh hangat, ia mendapati Zulfikar sedang tersenyum menatap sebuah kaligrafi tua yang tergantung di dinding.

"Rumah ini tidak banyak berubah, Shas. Masih sama seperti saat kita sering belajar bersama untuk persiapan olimpiade dulu," ucap Zulfikar ramah, menerima secangkir teh dari tangan Shasmira.

"Waktu berjalan begitu cepat, Zulfikar. Banyak hal yang sudah berubah, tapi kenangan masa-masa di madrasah rasanya baru kemarin terjadi," timpal Shasmira, duduk di kursi seberang seraya merapikan ujung rok gamisnya.

❖ ❖ ❖

Suasana di antara mereka sempat diwarnai kecanggungan sesaat. Pertemuan setelah sekian tahun berpisah di rantau membuat keduanya saling meraba perubahan masing-masing. Zulfikar tidak lagi terlihat sebagai santri ambisius yang mudah tersulut emosi, melainkan seorang pemuda yang tenang, bijak, dan penuh perhitungan.

"Kiai Hasan bercerita banyak tentang pencapaianmu di Kairo, Shas. Beliau sangat bangga, begitu pula seluruh warga desa ini," buka Zulfikar memecah kesunyian, meletakkan cangkir tehnya di atas meja kayu.

Shasmira menunduk malu, merespons dengan senyuman tipis. "Alhamdulillah, semua itu berkat doa kedua orang tua dan bimbingan para guru kita. Aku hanya menjalankan amanah semampu yang kubisa. Lalu, bagaimana denganmu di ibu kota? Kiai bilang kau kini mengelola lembaga riset ekonomi syariah."

Zulfikar mengangguk pelan, menyandarkan punggungnya ke kursi rotan. "Ya, perjalananku tidak mudah, Shas. Jatuh bangun kualami di sana. Tapi, pelajaran berharga yang kudapatkan darimu dulu—bahwa ilmu harus diniatkan untuk umat, bukan sekadar ambisi pribadi—menjadi kompas utamaku."

Mendengar pengakuan itu, dada Shasmira berdesir hangat. Ia teringat masa-masa ketika Zulfikar begitu terobsesi menjadi nomor satu, hingga akhirnya kesadaran batin meruntuhkan ego sang pemuda di serambi masjid pesantren.

"Aku senang mendengarnya, Zulfikar. Tuhan selalu punya cara indah untuk menuntun hamba-Nya ke jalan yang lurus," ucap Shasmira tulus.

Namun, di balik percakapan santai itu, ada sorot mata Zulfikar yang menyimpan maksud lain—sebuah maksud yang belum berani diungkapkannya secara langsung.

"Sebenarnya, kedatanganku ke Sukamaju hari ini bukan sekadar silaturahim biasa, Shas," kata Zulfikar tiba-tiba, membuat debar di dada Shasmira kembali berpacu kencang.

Shasmira mendongak, menatap lurus mata pemuda itu. "Maksudmu? Apakah ada kaitannya dengan arsip lama pesantren atau riset yang dulu kita bahas?"

Zulfikar tersenyum misterius, merogoh saku jaket kulitnya dan mengeluarkan sebuah amplop tebal berstempel resmi. "Bukan riset, Shas. Ini tentang sebuah amanah yang jauh lebih personal dan penting bagiku."

❖ ❖ ❖

Amplop tebal berwarna krem itu diletakkan perlahan di atas meja tepat di antara mereka berdua. Shasmira menatap amplop tersebut dengan kening berkerut, merasakan gelombang rasa penasaran bercampur cemas yang menggelayuti benaknya.

"Apa isi amplop ini, Zulfikar?" tanya Shasmira dengan suara agak tertahan.

"Bukalah sendiri, Shas. Kau berhak tahu apa yang tertulis di dalamnya," jawab Zulfikar lembut, mempersilakan dengan lambaian tangan.

Lihat selengkapnya