Sang Kembang Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #18

Pangling dan Pengakuan

Pangling dan Pengakuan yang Tertahan

Hembusan angin senja di Desa Sukamaju membawa aroma basah dari persawahan yang baru saja disiram hujan sore. Di serambi rumah panggung berkayu jati milik Kyai Ahmad, Shasmira berdiri terpaku di tempatnya. Pandangannya terkunci pada sosok seorang pemuda yang berdiri di halaman depan, tepat di bawah naungan pohon mangga tua yang daun-daunnya basah oleh sisa tetesan air hujan.

Shasmira merasa sangat pangling. Perubahan fisik pemuda di hadapannya begitu nyata, jauh berbeda dari bayangan terakhir anak lelaki berkaos kusam belasan tahun lalu. Kini, ia telah menjelma menjadi seorang pria dewasa yang gagah, berpostur tegap, mengenakan kemeja lengan panjang berwarna putih bersih yang digulung sebatas siku, serta memancarkan karisma yang tenang dan berwibawa dari sorot matanya yang teduh.

Ada sesuatu yang sangat familiar dan menghujam tajam di dalam dada Shasmira. Garis senyum pemuda itu, lekuk rahangnya, hingga cara ia berdiri dengan sebelah tangan dimasukkan ke dalam saku celana—semuanya adalah memori hidup yang langsung menyambungkan kepingan-kepingan teka-teki yang selama ini bersemayam di kepalanya. Lorong waktu masa kecil yang sempat tertutup kabut tebal kini terbuka lebar, memproyeksikan kembali bayangan masa lalu yang sangat dirindukan.

"Kamu..." bisik Shasmira lirih, suaranya tercekat di tenggorokan, tidak mampu menyelesaikan kalimatnya karena gelombang emosi yang tiba-tiba membuncah hebat di dalam dadanya.

Sebelum Shasmira sempat melontarkan pertanyaan lanjutan atau memastikan apakah penglihatannya tidak salah, pemuda itu mengangkat tangan kanannya secara perlahan. Gerakan itu begitu tenang, seolah ia ingin menunjukkan sesuatu yang sangat berharga yang telah ia simpan selama bertahun-tahun.

Di sela-sela jemari pemuda itu, tergantung sebuah benda berkilau memantulkan cahaya temaram lampu serambi: sebuah kalung perak dengan liontin kecil berbentuk kunci antik. Kembaran yang sangat persis dari kunci yang baru saja ditemukan Shasmira di dalam peti tua ayahnya beberapa hari yang lalu. Benda itu bukan sekadar perhiasan, melainkan saksi bisu dari sebuah ikatan janji masa kecil yang terikat di antara mereka sebelum badai memisahkan.

"Assalamualaikum, Shasmira," suara bariton yang dalam namun sangat lembut itu menyapa, memecah keheningan sore dan langsung menggetarkan relung hati sang gadis desa.

Salam itu terdengar begitu akrab, membawa gema masa lalu yang menghangatkan sekujur tubuh Shasmira. Bulu kuduknya meremang, sementara dadanya terasa sesak oleh kebahagiaan yang teramat sangat.

"Wa'alaikumussalam..." jawab Shasmira terbata-bata, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata.

Pemuda itu melangkah maju menaiki anak tangga serambi satu per satu, mendekati Shasmira dengan senyuman yang tidak pernah berubah sejak mereka masih anak-anak. Sorot matanya menyiratkan kerinduan mendalam yang telah lama tertahan oleh jarak dan waktu.

"Aku pulang, Shasmira," ucap pemuda itu dengan penuh keyakinan. "Sesuai janji kita di bawah pohon beringin tua itu, aku datang untuk mengambil kembali kunci yang dulu kita titipkan pada waktu."

Shasmira terperanjat hebat. Napasnya tertahan di dada. Tanpa ia sadari sedikit pun, air mata haru akhirnya menetes perlahan menuruni pipinya yang mulus. Seluruh teka-teki, bayangan samar, dan kerinduan yang selama ini mengusik malam-malam panjangnya kini terjawab sudah. Sahabat kecil yang hilang dari lorong waktu masa lalunya kini benar-benar telah kembali berdiri nyata di hadapannya, membawa jawaban atas segala rindu yang terpendam.

❖ ❖ ❖

Suasana di serambi rumah panggung itu mendadak terasa begitu hening, seolah alam sekitar ikut terkesima menyaksikan pertemuan yang telah dinantikan selama belasan tahun. Shasmira masih terpaku, jemarinya meremas ujung jilbab lebarnya erat-erat untuk meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia lihat bukanlah sebuah mimpi indah yang akan sirna saat ia terbangun.

"Dimas..." panggil Shasmira akhirnya, menyebut nama itu dengan suara yang sangat pelan namun penuh kepastian, seolah mengecap rasa rindu yang akhirnya terbayar tuntas. "Apakah ini benar-benar kamu? Kamu benar-benar kembali ke Sukamaju?"

Dimas tersenyum hangat, menghentikan langkahnya tepat dua langkah di hadapan Shasmira. Ia menurunkan tangannya yang memegang kalung perak berliontin kunci tersebut. "Iya, Shasmira. Ini aku, Dimas. Aku menepati janjiku untuk kembali ke desa ini setelah semua badai masa lalu mereda dan aku menyelesaikan pendidikanku di kota."

Kyai Ahmad, yang sejak tadi duduk di ruang tengah dan mendengar percakapan di serambi, perlahan melangkah keluar menemui mereka. Sang kiai membawa tongkat kayunya, dengan senyum teduh terukir di bibirnya yang dipenuhi janggut putih tipis.

"Selamat datang kembali di Sukamaju, Nak Dimas," sambut Kyai Ahmad dengan suara parau namun sarat wibawa. "Ayah melihatmu tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan teguh pendirian, persis seperti almarhum ayahmu."

Dimas segera membungkuk takzim, lalu meraih tangan Kyai Ahmad untuk mencium punggung tangan orang tua yang telah merawat sahabat masa kecilnya itu dengan penuh kasih sayang. "Terima kasih banyak, Kyai. Kalau bukan karena perlindungan dan didikan Kyai di desa ini, mungkin aku tidak akan pernah punya kesempatan untuk berdiri di sini lagi menemui Shasmira."

Shasmira menatap Dimas dan Kyai Ahmad secara bergantian. Masih banyak pertanyaan yang berkelebat di kepalanya, namun debar jantungnya kini perlahan mulai teratur digantikan oleh rasa syukur yang luar biasa.

"Mari silakan duduk, Dimas," ucap Shasmira sambil mempersilakan Dimas duduk di kursi kayu panjang di serambi. Ia sendiri duduk di kursi rotan di dekat meja kecil tempat biasa ia merapikan kitab-kitab kuningnya.

Dimas duduk perlahan, meletakkan ransel kecilnya di lantai. Ia memandangi sekeliling serambi rumah yang tidak banyak berubah sejak ia tinggalkan belasan tahun lalu. "Rumah ini masih sama seperti dulu, Shasmira. Suasananya tetap menenangkan, tidak seperti hiruk-pikuk kota besar yang selalu membuat jiwa lelah."

"Desa ini memang sudah banyak berubah, Dimas," sahut Shasmira sambil merapikan letak jilbabnya untuk menutupi rasa salah tingkahnya. "Arus modernisasi mulai masuk, dan anak-anak muda di sini sempat hampir kehilangan arah. Tapi alhamdulillah, sedikit demi sedikit kami mencoba menjaga nilai-nilai agama dan tradisi agar tidak luntur."

Dimas mengangguk kagum. "Aku mendengar cerita tentang perjuanganmu menjaga iman dan membimbing remaja desa dari paman dan beberapa warga di perbatasan tadi. Kamu tidak pernah berubah, Shasmira. Tetap menjadi gadis yang tegar dan penuh prinsip."

Pujian itu meluncur begitu tulus dari bibir Dimas, membuat rona merah tipis seketika merayap di pipi Shasmira. Ia menundukkan pandangannya sejenak, merasa malu bercampur bahagia mendengar pengakuan dari sahabat masa kecilnya itu.

"Bagaimana perjalananmu selama ini, Dimas?" tanya Shasmira mengalihkan topik untuk meredakan debar di dadanya. "Pamanmu bilang kamu merantau ke luar pulau setelah peristiwa malam itu. Apa saja yang sudah kamu lalui?"

Dimas menarik napas panjang, sorot matanya menerawang jauh ke arah halaman rumah yang mulai gelap. "Perjalanan yang panjang dan penuh liku, Shasmira. Setelah malam kelam di pelabuhan itu, pamanku membawaku jauh ke pesantren di Jawa Timur. Di sanalah aku menempa diri, belajar agama, menata kembali mental yang hancur akibat trauma, hingga akhirnya aku berhasil merampungkan kuliah hukum Islam tahun lalu."

Shasmira mendengarkan setiap kalimat yang diucapkan Dimas dengan penuh perhatian. Ia menyadari bahwa di balik senyum tenang dan ketegapan fisik pemuda itu, tersimpan lembaran luka masa lalu yang sama beratnya dengan apa yang ia rasakan selama ini.

❖ ❖ ❖

Percakapan di serambi rumah panggung itu semakin mengalir hangat, menjembatani ruang dan waktu yang terpisah oleh jarak belasan tahun. Ibu Shasmira kemudian keluar dari dalam rumah membawa nampan berisi teko teh poci hangat dan piring berisi pisang goreng gula aren yang masih mengepulkan uap tipis.

"Silakan diminum, Nak Dimas," kata Ibu ramah sambil meletakkan nampan di atas meja kayu. "Badanmu pasti terasa penat setelah perjalanan jauh dari kota pelabuhan."

Dimas tersenyum sopan kepada ibu angkat Shasmira. "Terima kasih banyak, Ibu. Wah, aroma teh poci buatan Ibu benar-benar membuat saya bernostalgia ke masa kecil dulu."

"Minumlah selagi hangat," ujar Kyai Ahmad sambil ikut menuangkan teh ke dalam cangkir gerabah untuk Dimas. "Kehadiranmu malam ini melengkapi kebahagiaan keluarga kami, Nak. Terutama bagi Shasmira yang selama ini sering merenungkan potongan memori masa kecilnya di desa ini."

Shasmira merasa wajahnya kembali memanas mendengar ucapan sang ayah. Ia segera menyeruput teh hangatnya untuk menyembunyikan rasa salah tingkah.

"Oh ya, Shasmira," kata Dimas tiba-tiba sambil merogoh saku kemejanya, lalu mengeluarkan kalung perak berliontin kunci kecil yang tadi sempat ia tunjukkan. Ia meletakkan benda itu di atas meja tepat di hadapan Shasmira. "Kalung ini... selama belasan tahun selalu aku simpan di dalam dompetku ke mana pun aku pergi. Aku berjanji pada diri sendiri bahwa suatu hari nanti, aku harus kembali ke Desa Sukamaju untuk menyatukan kunci ini dengan pasangannya."

Shasmira perlahan mengeluarkan kalung kunci miliknya dari dalam saku gamisnya, lalu meletakkannya berdampingan dengan milik Dimas di atas meja kayu. Kedua ujung kunci perak itu tampak bersentuhan, memantulkan cahaya lampu serambi dengan sempurna.

Lihat selengkapnya