Sang Kembang Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #19

Kecanggangan di Bawah

Kecanggangan di Bawah Temaram Lampu

Malam perlahan merayap turun, menyelimuti Desa Sukamaju dengan jubah gelap yang dihiasi taburan bintang di langit luas. Setelah keributan sore hari di sekitar balai desa lama yang berhasil diredam oleh kesigapan warga dan pemuda setempat, suasana di dalam rumah panggung Kepala Desa Kyai Ahmad kembali berangsur-angsur tenang. Namun, ketenangan fisik itu berbanding terbalik dengan gejolak batin yang dirasakan oleh para penghuninya, terutama ketika Arkan—sahabat masa kecil Shasmira yang baru saja kembali setelah dua dekade menghilang—memilih singgah sejenak atas undangan Kyai Ahmad untuk membahas langkah penyelamatan selanjutnya.

Suasana di ruang tamu rumah panggung itu mendadak terasa begitu hening, diselingi suara detak jam dinding kayu antik yang berayun lambat dan berat di sudut ruangan. Cahaya lampu minyak bercampur pijar lampu gantung kuno memancarkan rona kekuningan yang temaram, membias di atas perabotan kayu jati tua yang mengkilap. Shasmira mempersilakan Arkan duduk di kursi sofa rotan berbalut bantalan kain bludru merah, sementara ia sendiri berdiri sejenak untuk melangkah ke arah dapur guna menyiapkan secangkir teh hangat sebagai bentuk penghormatan kepada tamu istimewa keluarganya.

Tangan Shasmira terasa sedikit gemetar saat menuangkan air panas dari teko kendi tanah liat ke dalam cangkir keramik putih. Ada rasa canggung yang tiba-tiba menyergap di antara mereka berdua di ruang tamu tersebut. Belasan tahun waktu yang terpisah oleh badai kehidupan membuat hubungan keduanya tidak lagi sama seperti saat mereka masih kanak-kanak yang riang gembira berlarian bebas di pematang sawah Sukamaju. Mereka kini bukan lagi bocah-bocah ingusan yang polos, melainkan dua orang dewasa yang dibatasi oleh norma kesopanan, status pernikahan Shasmira dengan Hafizh, serta jarak psikologis yang terbentang akibat masa lalu yang terputus begitu saja.

Hafizh duduk tidak jauh dari Arkan, menemani tamu tersebut dengan sorot mata yang tenang namun tetap waspada. Ia memahami sepenuhnya betapa rumitnya situasi yang sedang mereka hadapi saat ini.

Arkan menyadari kecanggangan yang menggelayuti udara malam itu. Ia menunduk sejenak memandangi cangkir kopi hitam yang mengepulkan uap tipis di atas meja kecil di hadapannya, lalu meletakkan cangkir itu perlahan-lahan. Ia mendongak, menatap Shasmira yang baru saja kembali dari dapur membawa nampan berisi teh hangat, lalu tersenyum tipis untuk mencairkan suasana yang kaku.

"Aku tahu, perubahanku terlalu mendadak setelah sekian lama, Shasmira. Maaf jika kehadiranku sempat membuatmu terkejut, bahkan menyeret keluargamu ke dalam masalah pelik ini sore tadi," ucap Arkan membuka percakapan dengan nada suara yang tenang, lembut, dan penuh kehati-hatian.

❖ ❖ ❖

Shasmira meletakkan nampan di atas meja ukir Jepara, lalu mengambil tempat duduk di sebelah suaminya, Hafizh. Ia merapikan ujung kerudung birunya sejenak sebelum menatap balik ke arah Arkan. Rasa canggung di dalam dadanya perlahan-lahan mulai mencair mendengar nada suara Arkan yang terdengar tulus, mengingatkannya pada sosok bocah lelaki berwajah teduh di masa lalu.

"Tidak apa-apa, Arkan. Kehadiranmu justru membuka kepingan teka-teki masa lalu yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh Abah demi keselamatanku," jawab Shasmira dengan suara pelan namun tegas. Ia menarik napas panjang, lalu melanjutkan, "Hanya saja... semua ini terasa begitu cepat. Kemarin aku mengira hidupku hanyalah tentang urusan desa dan pernikahan yang tenang bersama Mas Hafizh, tapi kini masa lalu itu datang menuntut jawaban."

Arkan mengangguk paham. Ia melirik sekilas ke arah Hafizh, lalu kembali menatap Shasmira dengan pandangan penuh rasa hormat. "Aku sangat mengerti, Shas. Terlebih lagi, insiden sore tadi di balai desa membuktikan bahwa Hardi dan komplotannya tidak main-main. Mereka berhasil merebut kepingan kunci perak dari tanganmu, dan itu artinya bahaya besar sedang mengintai kita semua."

Mendengar penyebutan kalung kunci perak yang direbut oleh Hardi, raut wajah Hafizh berubah menjadi semakin serius. Ia menyatukan kedua tangannya di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke depan untuk mendengar lebih dekat.

"Arkan, jika Hardi kini memegang kepingan kunci tersebut, apa langkah selanjutnya yang akan ia ambil?" tanya Hafizh to the point, menunjukkan ketegasannya sebagai kepala rumah tangga yang melindungi keluarganya. "Brankas rahasia tempat penyimpanan dokumen sah tanah adat itu berada di lokasi tersembunyi. Apakah mereka tahu persis letak pastinya?"

Arkan menggelengkan kepalanya perlahan, menepis kekhawatiran yang berlebihan. "Tidak semudah itu, Hafizh. Kunci perak itu hanya membuka pintu luar brankas arsip utama. Tanpa kode kombinasi angka sandi leluhur yang diwariskan secara turun-temurun kepada keluarga kepala desa, brankas itu tidak akan pernah bisa dibuka secara paksa tanpa meledakkannya, yang justru akan merusak seluruh isi dokumen di dalamnya."

Kyai Ahmad, yang sedari tadi duduk menyimak di kursi sudut ruang tamu sambil memegang tasbih kayu, akhirnya ikut bersuara. Suaranya terdengar parau namun sarat akan pengalaman hidup yang panjang.

"Benar apa yang dikatakan Arkan," ucap Kyai Ahmad pelan. "Dokumen itu adalah benteng pertahanan terakhir tanah adat Sukamaju agar tidak jatuh ke tangan para spekulan tanah yang serakah. Selama kita bisa menjaga kerahasiaan sandi angka tersebut, Hardi tidak akan bisa berbuat banyak."

Shasmira mendengarkan percakapan itu dengan jantung yang berdegup kencang. Ia tahu bahwa ancaman Hardi tidak boleh dianggap remeh, terutama setelah insiden perampasan sore tadi.

❖ ❖ ❖

Kecanggangan yang sempat dirasakan Shasmira di awal perjumpaan kini sepenuhnya tergantikan oleh fokus dan ketegangan dalam merumuskan strategi pertahanan. Suasana ruang tamu panggung itu diterangi temaram lampu minyak yang bergoyang pelan setiap kali angin malam bertiup melalui celah-celah dinding kayu.

"Lalu, apa rencana kita selanjutnya, Arkan?" tanya Shasmira memecah keheningan yang sempat tercipta. "Hardi pasti akan mencari cara lain untuk memaksa kita menyerahkan sandi angka tersebut atau meneror warga desa."

Arkan menatap Shasmira lekat-lekat, lalu merogoh saku jaketnya untuk mengeluarkan secarik kertas catatan kecil yang sudah agak kusut. Ia membentangkan kertas tersebut di atas meja kayu.

Lihat selengkapnya