Sang Kembang Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #22

Sore-Sore yang Dinanti

Sore-Sore yang Dinanti di Teras Rumah Panggung

Sejak hari kepulangan Arkan yang mengejutkan itu, teras rumah panggung Kyai Ahmad seolah memiliki daya tarik tersendiri setiap kali mentari mulai condong ke barat. Pertemuan sore yang awalnya terasa kaku kini berubah menjadi rutinitas yang diam-diam paling dinanti oleh keduanya.

Angin berembus lembut, membawa aroma tanah basah seusai hujan gerimis merata di atas petak-petak sawah Desa Sukamaju. Shasmira melangkah keluar dari pintu depan, membawa sebuah nampan kayu berisi piring pisang rebus dan dua cangkir tanah liat yang mengepulkan uap harum.

"Maaf ya, Arkan, menunggu agak lama. Tadi ibu sempat meminta bantuan merapikan dapur sebentar," sapa Shasmira ramah sambil meletakkan nampan tersebut di atas meja rotan yang terletak di tengah teras.

Arkan, yang duduk bersila di kursi kayu jati tua, mendongak dan tersenyum simpul. "Tidak apa-apa, Shas. Justru aku menikmati suasana sore di sini. Rasanya sudah lama sekali aku tidak merasakan ketenangan seperti ini di kota."

Sambil menikmati kudapan tradisional buatan ibu Shasmira—seperti pisang rebus dan teh jahe hangat—Arkan kerap membagikan cerita tentang dinamika kehidupan di kota besar.

"Kau tahu, Shas, hiruk-pikuk di ibu kota kadang membuat kepala mau pecah. Orang-orang berlomba mengejar materi tanpa peduli lagi pada nilai-nilai spiritual," cerita Arkan sambil menyeruput teh jahenya perlahan.

Shasmira mendengarkan dengan antusias, sesekali merespons dengan pandangan kritis yang didasari oleh pemahaman agama yang matang. "Itulah tantangan zaman modern, Arkan. Ketika teknologi dan kecepatan informasi mendominasi, manusia sering lupa pada esensi ketenangan batin yang sebenarnya hanya bisa didapat dari kedekatan kepada Sang Pencipta."

Arkan menatap Shasmira lekat-lekat, kagum pada kedalaman cara berpikir wanita di hadapannya itu. "Kau tidak pernah berubah, Shas. Selalu tajam dalam menganalisis masalah, sama seperti saat kita masih sering berdiskusi di surau madrasah dulu."

"Manusia tentu harus terus belajar, Arkan. Ilmu yang kita miliki di madrasah dahulu adalah fondasi, tapi realitas kehidupan luar mengajarkan kita bagaimana mempraktikkannya secara nyata," balas Shasmira tersenyum simpul.

Di bawah temaram cahaya senja, jarak belasan tahun seolah melebur dalam hangatnya secangkir teh dan lembaran-lembaran kenangan masa kecil yang mulai tersusun kembali. Suara derik jangkrik mulai terdengar bersahut-sahutan menandakan malam akan segera tiba, namun perbincangan di teras rumah panggung itu enggan beranjak usai.

❖ ❖ ❖

Hari-hari berikutnya, kedatangan Arkan ke rumah panggung Kyai Ahmad tidak hanya sekadar duduk berbincang santai di sore hari. Kehadirannya perlahan mulai memicu bisik-bisik di antara para warga desa dan beberapa santri senior Madrasah Al-Hikmah.

Sore itu, sebelum Arkan tiba, Aminah—sahabat karib Shasmira yang kini turut membantu mengajar di madrasah—datang berkunjung dengan ekspresi wajah penuh rasa penasaran.

"Shas, aku perhatikan akhir-akhir ini Arkan hampir tidak pernah absen bertamu ke rumahmu setiap sore. Ada hubungan apa sebenarnya di antara kalian?" tanya Aminah langsung to the point begitu ia duduk di kursi rotan.

Shasmira yang sedang merapikan cangkir teh menghentikan gerakannya sejenak, lalu tersenyum tipis. "Tidak ada apa-apa, Min. Arkan hanya bernostalgia dan sering meminta pandanganku tentang program pemberdayaan ekonomi umat yang sedang ia dirikan di kota."

"Nostalgia atau modus, Shas? Kau tahu sendiri Arkan itu pemuda sukses sekarang. Dan jujur saja, sorot matanya setiap kali melihatmu jelas menyiratkan sesuatu yang lebih dari sekadar teman masa kecil," goda Aminah sambil menyenggol lengan sahabatnya.

Shasmira merona merah, mencoba menutupi salah tingkahnya dengan merapikan jilbab abu-abunya. "Jangan berlebihan, Aminah. Kami hanya bertukar pikiran tentang kemaslahatan umat."

"Pikiran boleh bertukar, Shas, tapi kalau hati ikut nyaman, itu urusan lain," timpal Aminah tertawa kecil.

Tepat saat itu, langkah kaki berat seseorang terdengar menaiki tangga kayu teras rumah panggung. Arkan muncul dengan balutan kemeja flanel rapi, membawa sebuah amplop cokelat tebal di tangannya.

"Assalamu'alaikum," sapa Arkan ramah begitu melihat dua wanita sedang duduk di teras.

"Wa'alaikumussalam warahmatullah," jawab Shasmira dan Aminah hampir bersamaan.

Aminah berdiri, merapikan tas kecilnya. "Nah, panjang umur. Baru saja dibicarakan, orangnya sudah datang. Kalau begitu, aku pamit dulu ya, Shas. Ada tugas asrama yang belum selesai."

"Mau langsung pulang, Min? Kenapa tidak ikut mencicipi kue buatan ibuku dulu?" tawaran Shasmira setengah tertahan.

"Tidak usah, lain kali saja. Silakan lanjutkan obrolannya," bisik Aminah sambil mengedipkan mata usil ke arah Shasmira sebelum melangkah turun dari teras.

Arkan menatap kepergian Aminah dengan kening berkerut samar, lalu beralih menatap Shasmira yang tampak salah tingkah. "Sepertinya aku mengganggu waktu kalian?"

"Oh, sama sekali tidak, Arkan. Silakan duduk," jawab Shasmira, mempersilakan pemuda itu menempati kursi yang baru saja ditinggalkan Aminah.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya