Sang Kembang Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #23

Kilau Kota

Kilau Kota dan Benteng Pengetahuan Arkan

Sore hari di serambi rumah panggung Kyai Ahmad selalu menghadirkan ketenangan yang magis. Aroma tanah basah sehabis hujan bercampur dengan wangi teh poci melati yang mengepulkan uap tipis, menciptakan atmosfer yang sangat pas untuk merajut kembali kenangan masa lalu yang sempat terputus. Di tempat itulah Shasmira dan Arkan duduk berseberangan di atas kursi kayu jati tua, ditemani oleh buku-buku catatan kuliah dan beberapa kitab kuning tebal yang tersusun rapi di atas meja.

Kehadiran Arkan di Desa Sukamaju bukan lagi sekadar kunjungan singkat, melainkan sebuah kepulangan yang membawa kedewasaan. Setelah bertahun-tahun merantau dan menetap di ibu kota sejak masa remajanya, Arkan telah tumbuh menjadi seorang pemuda terpelajar yang memiliki pandangan luas tentang dunia luar.

"Kamu tahu, Shasmira?" Arkan membuka percakapan sambil memandang cangkir teh di hadapannya. Suaranya terdengar tenang, membawa nada reflektif yang dalam. "Setiap kali aku kembali ke desa ini, aku selalu merasa seperti menemukan kembali oase di tengah padang pasir yang melelahkan."

Shasmira menatap Arkan dengan senyum tipis di balik jilbab lebarnya. "Padahal, hidup di kota besar yang serba modern dan penuh fasilitas tentu jauh lebih menyenangkan dibandingkan hidup di desa kecil yang tenang seperti Sukamaju, kan, Arkan?"

Arkan menggeleng perlahan, tersenyum kecut mengingat masa lalunya di awal kepindahan. "Menyenangkan di luar, tapi sering kali menyesakkan di dalam. Dalam salah satu perbincangan sore kita kali ini, aku ingin jujur menceritakan bagaimana hingar-bingar ibu kota sempat merusak keteraturanku di masa awal kepindahan."

Shasmira menyimak dengan penuh perhatian, membiarkan Arkan merangkai kata demi kata dari pengalaman hidup yang telah membentuk karakternya saat ini.

"Dunia metropolitan menuntut kecepatan, ambisi material yang tiada habisnya, dan sering kali mengabaikan nilai-nilai spiritual demi mengejar kesuksesan duniawi," lanjut Arkan dengan pandangan menerawang ke arah halaman depan rumah yang dipenuhi pepohonan rindang. "Di sana, waktu berjalan begitu cepat hingga kita sering lupa untuk sekadar bernapas dan merenungkan tujuan hidup yang sebenarnya."

Arkan menarik napas panjang, mengenang masa-masa awal ketika ia harus beradaptasi dengan ritme kehidupan kota besar yang keras dan tanpa kompromi. Sebagai remaja yang baru meninggalkan keheningan desa, ia sempat tersesat dalam silau lampu perkotaan dan tuntutan pergaulan bebas yang menguji setiap jengkal prinsip moralnya.

"Aku mengaku, hiruk-pikuk tersebut sempat membuatku hampir kehilangan arah, Shasmira," aku Arkan dengan nada suara yang bergetar jujur. "Godaan untuk mengikuti arus utama begitu kuat. Standar kesuksesan diukur dari seberapa mahal pakaian yang kita kenakan, seberapa canggih gawai di tangan kita, dan seberapa besar pencapaian material yang kita pamerkan."

Shasmira mengangguk pelan, memahami betul betapa beratnya tekanan lingkungan luar terhadap integritas seorang pemuda. "Lingkungan memang memiliki daya tarik yang luar biasa besar untuk mengubah seseorang tanpa ia sadari."

"Betul," timpal Arkan. "Tapi di tengah badai godaan itu, gemblengan ilmu dan kenangan masa kecilku di Desa Sukamaju—terutama didikan moral yang pernah aku saksikan langsung dari sosok Kyai Ahmad—menjadi jangkar yang menahanku untuk tidak ikut hanyut."

Pernyataan Arkan membuat Shasmira tersenyum bangga. Ia tahu persis bagaimana Kyai Ahmad mendidik anak-anak muda di desa ini dengan keteladanan, bukan sekadar teori kosong di atas mimbar.

❖ ❖ ❖

Angin sore berhembus semakin sejuk, menggoyang-goyangkan daun-daun pohon mangga di halaman rumah. Shasmira merapikan lembaran catatan kuliah agamanya di atas meja, lalu kembali menatap Arkan yang tampak sedang meresapi kenangan masa lalunya di ibu kota.

"Lalu, bagaimana cara kamu bertahan di tengah kerasnya arus metropolitan itu, Arkan?" tanya Shasmira dengan rasa penasaran yang tulus. "Bagaimana kamu bisa memilah mana pengaruh yang baik dan mana yang harus kamu jauhi?"

Arkan tersenyum tipis, meneguk sedikit teh hangat di cangkirnya sebelum menjawab. "Aku belajar melihat kota besar dengan segala modernitasnya bukan sebagai tempat untuk ditakuti, melainkan sebagai sebuah laboratorium sosial yang luas, Shasmira."

"Laboratorium sosial?" ulang Shasmira meminta kejelasan.

"Iya," jawab Arkan mantap. "Di kota besar, aku belajar membaca pola perubahan zaman secara langsung. Aku melihat bagaimana teknologi berkembang pesat, bagaimana cara berpikir manusia berubah, dan bagaimana budaya luar masuk menggerus tradisi lokal. Dari situ, aku mengamati bahwa semakin modern suatu peradaban, semakin tinggi pula tingkat keterasingan batin manusia di dalamnya."

Shasmira menyimak dengan seksama, mengagumi cara Arkan menganalisis realitas sosial dengan sudut pandang yang matang dan berbobot.

"Banyak orang di kota yang sukses secara materi, memiliki apartemen mewah dan kendaraan bergengsi, tapi hidup mereka hampa karena kehilangan pegangan hidup," lanjut Arkan. "Dari pengamatan itulah aku menyadari betapa rapuhnya manusia tanpa fondasi iman yang kokoh."

Arkan menceritakan bagaimana ia mulai membentengi dirinya dengan aktif mengikuti kajian-kajian keislaman kampus, memilih lingkaran pertemanan yang positif, serta tetap menjaga komunikasi dengan Kyai Ahmad melalui sambungan telepon setiap kali ia merasa bimbang menghadapi tekanan hidup di ibu kota.

"Kyai Ahmad pernah berpesan kepadaku sebelum aku berangkat merantau," kenang Arkan dengan mata berkaca-kaca penuh takzim. "Beliau bilang, 'Arkan, jadilah bagaikan batu karang di tengah lautan. Ombak boleh menghantam dari segala penjuru dengan ganasnya, tapi karang tidak akan pernah bergeser dari tempatnya karena ia memiliki akar yang menghunjam kuat ke dasar bumi.' Pesan itulah yang selalu menjadi pengingatku setiap kali aku hampir tergiur oleh gaya hidup bebas di kota."

Shasmira merasakan kehangatan yang menjalar di dadanya. Ia sangat bersyukur bahwa didikan sang kiai telah melahirkan pemuda-pemuda tangguh seperti Arkan, yang mampu merantau jauh tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai keagamaannya.

"Dan hebatnya, Arkan, kamu tidak hanya bertahan untuk dirimu sendiri, tapi kamu juga berhasil membuktikan bahwa nilai-nilai pesantren desa mampu bersaing di kancah pendidikan tinggi perkotaan," puji Shasmira tulus.

Arkan tertawa kecil mendengar pujian tersebut, merendah. "Semua itu bukan karena aku hebat, Shasmira. Itu karena berkah doa dari orang-orang saleh di desa ini, termasuk doa dari Kyai Ahmad dan kamu sendiri."

Percakapan sore itu terasa semakin mengalir, mempererat ikatan batin di antara mereka berdua yang sama-sama berjuang menjaga prinsip di tengah dunia yang terus bergerak cepat.

❖ ❖ ❖

Suasana serambi rumah panggung mendadak diselingi oleh suara derap langkah kaki dari arah pintu dalam. Ibu Shasmira muncul membawa sepiring pisang goreng hangat yang baru saja diangkat dari penggorengan, ditemani oleh Kyai Ahmad yang berjalan perlahan menggunakan tongkat kayunya.

Lihat selengkapnya