Sang Kembang Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #27

Bahu-Bahu yang Bekerja

Bahu-Bahu yang Bekerja untuk Sukamaju

Matahari pagi baru saja menampakkan sinarnya, memantulkan bias keemasan di atas hamparan embun yang menempel pada daun-daun padi di Desa Sukamaju. Suasana desa yang tenang langsung dipecahkan oleh suara cangkul beradu dengan tanah dan gelak tawa para warga yang berkumpul di pinggir saluran irigasi utama.

Selain mengajar di madrasah, Arkan juga aktif membaur dalam kegiatan gotong royong warga. Ia turun langsung membantu perbaikan saluran irigasi sawah dan merancang sistem penerangan jalan sederhana menggunakan tenaga surya bersama para pemuda karang taruna setempat.

"Hati-hati mengarahkan batu penyangganya, Pak Amat, biar airnya bisa mengalir lancar ke petak sawah sebelah utara," seru Arkan sambil mengangkat karung pasir bersama beberapa pemuda desa dengan peluh yang membasahi kemeja flanelnya.

Pak Amat, seorang petani sepuh berkaus oblong lusuh, menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil lalu tersenyum lebar. "Wah, kalau pemuda kota seperti Nak Arkan ini tidak jijik turun ke lumpur, kami jadi malu kalau hanya duduk berpangku tangan. Terima kasih banyak sudah mau meluangkan waktu membantu kami, Nak."

"Sama-sama, Pak. Ini sudah kewajiban kita bersama untuk merawat fasilitas desa. Lagipula, sawah-sawah inilah yang menghidupi keluarga kita di Sukamaju," jawab Arkan ramah seraya merapikan tumpukan batu kali di tepi saluran air.

Bagi warga desa, Arkan adalah contoh pemuda merantau yang sukses namun tetap rendah hati dan tidak melupakan akarnya. Ia mendengarkan keluh kesah para petani dengan saksama, mencatat berbagai persoalan desa untuk bahan riset akademisnya, sekaligus memberikan solusi praktis yang bisa langsung diterapkan oleh warga.

Tidak jauh dari lokasi gotong royong, Shasmira berjalan membawa nampan berisi teko teh hangat dan beberapa piring pisang goreng untuk para pekerja. Langkah kakinya terhenti sejenak, menatap ke arah Arkan yang tengah berdiskusi serius namun santai dengan para pemuda karang taruna mengenai pemasangan panel surya jalanan.

"Masya Allah, Arkan benar-benar membuktikan ucapannya untuk mengabdi pada desa ini," gumam Shasmira pelan penuh rasa bangga.

Aminah, yang kebetulan ikut membawakan gelas bersama Shasmira, menyenggol lengan sahabatnya itu sambil tersenyum usil. "Calon suamimu itu memang luar biasa, Shas. Bukan cuma pintar di atas meja akademik, tapi juga tangguh di lumpur sawah. Beruntung sekali dirimu."

Shasmira merona merah, tersenyum simpul menanggapi godaan Aminah. "Hus, jangan menggoda terus, Min. Ayo bantu aku bagikan teh hangat ini ke bapak-bapak yang sedang istirahat."

❖ ❖ ❖

Menjelang tengah hari, kegiatan gotong royong di saluran irigasi selesai dengan baik. Arkan berjalan mendekati teras rumah panggung tempat Shasmira dan ibunya sedang menyiapkan makan siang sederhana beralaskan daun pisang.

"Alhamdulillah, saluran irigasinya sudah rampung diperbaiki. Musim panen berikutnya dipastikan tidak akan kekurangan pasokan air lagi," ucap Arkan penuh semangat sambil mencuci tangan di gentong air depan pintu.

Siti, ibu Shasmira, tersenyum hangat menyambut kedatangan pemuda itu. "Pekerjaan berat kalau dikerjakan bersama-sama jadi terasa ringan ya, Nak Arkan. Silakan duduk, mari kita makan siang seadanya dulu."

Arkan mengambil tempat duduk di sebelah Shasmira di atas tikar pandan. "Wah, menu hari ini luar biasa, Nyai. Ada ikan asin, sambal terasi, dan sayur asem buatan Nyai yang paling dirindukan."

"Makanlah yang banyak, Arkan. Kamu sudah bekerja keras seharian di sawah," timpal Shasmira sambil menyendokkan nasi ke piring Arkan dengan penuh perhatian.

Di tengah suasana makan siang yang hangat dan penuh keakraban itu, tiba-tiba Pak RT setempat datang menghampiri teras rumah panggung dengan napas sedikit tersengal-sengal membawa selembar surat laporan warga.

"Assalamu'alaikum, Kyai Ahmad, Nak Arkan, dan Shasmira," sapa Pak RT langsung mengambil tempat di anak tangga bawah.

"Wa'alaikumussalam warahmatullah, Pak RT. Ada hal penting apa sampai berlari-lari begitu?" tanya Siti mempersilakan duduk.

Pak RT mengusap pelipisnya. "Begini, laporan dari warga blok barat, ada kendala serius terkait aliran listrik dari genset desa yang sering padam di malam hari, mengganggu kegiatan mengaji anak-anak di surau kecil."

Arkan langsung merespons dengan cepat. Ia meletakkan piringnya, mengambil buku catatan kecil dari saku celananya. "Kendala genset tua itu memang sudah saya perkirakan sejak minggu lalu, Pak RT. Solusi jangka panjangnya kita harus mempercepat instalasi lampu tenaga surya mandiri yang sedang dirancang oleh pemuda karang taruna."

"Berapa lama kira-kira instalasi itu bisa rampung, Nak Arkan? Mengapa warga cemas kegiatan santri malam terganggu," tanya Pak RT dengan nada cemas.

"Jika material tambahan dari kota bisa datang lusa, kita bisa mulai pemasangan akhir pekan ini," jawab Arkan mantap, menunjukkan ketegasan dalam memecahkan masalah di hadapan para warga.

Shasmira menatap Arkan dengan sorot mata penuh kekaguman. Di balik sosok lembut seorang akademisi, Arkan memiliki kepemimpinan lapangan yang sangat diandalkan oleh masyarakat desa.

❖ ❖ ❖

Dua hari berselang, kesibukan di balai desa dan sudut-sudut jalan Sukamaju tampak luar biasa. Arkan memimpin langsung tim pemuda karang taruna memasang tiang-tiang lampu tenaga surya portabel di sepanjang jalan menuju surau dan madrasah.

Shasmira turut hadir di lokasi bersama beberapa santriwati, membawakan konsumsi ringan dan membantu mencatat logistik perangkat elektronik yang dibagikan.

Lihat selengkapnya