Sang Kembang Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #28

Riak-Riak Kecemburuan

Riak-Riak Kecemburuan di Warung Kopi

Pagi hari di Desa Sukamaju selalu dimulai dengan kepulan asap tipis dari tungku-tungku dapur warga dan aroma kopi robusta lokal yang diseduh di warung-warung kecil pinggir jalan. Di bawah naungan pohon nangka yang rindang, Warung Kopi Pak Malik menjadi pusat informasi informal tempat para petani, buruh tani, dan pemuda desa berkumpul sebelum memulai aktivitas harian mereka di ladang atau sawah.

Namun, dalam beberapa minggu terakhir, atmosfer di warung kopi tersebut mulai mengalami pergeseran yang cukup signifikan. Riak-riak kecemburuan dan ketidaknyamanan mulai berhembus pelan seiring dengan semakin intensnya kehadiran Arkan di tengah denyut kehidupan masyarakat desa.

Arkan, dengan segala kapasitas intelektual dan kharismanya sebagai pemuda yang lama merantau di ibu kota, tidak memerlukan waktu lama untuk beradaptasi. Ia terjun langsung membantu Shasmira mengelola pusat belajar, membimbing remaja masjid, serta berdiskusi aktif dengan para tokoh masyarakat. Kedekatan Arkan yang begitu cepat dengan denyut kehidupan desa—terutama kedekatannya yang kian terlihat mesra dan seirama dengan Shasmira—tidak luput dari perhatian tajam para pemuda lokal.

Suasana di warung kopi Pak Malik mulai diwarnai oleh bisik-bisik rahasia, nada sinis, dan tatapan tajam setiap kali Arkan berlalu bersama Shasmira sepulang dari madrasah atau pusat belajar.

"Coba kalian lihat pemuda kota itu," bisik Joko, salah satu pemuda desa yang terkenal paling aktif dalam kegiatan karang taruna, sambil menyeruput kopi hitamnya dengan gestur kesal. "Belum ada setengah tahun dia kembali ke Sukamaju, tapi lagaknya sudah seperti pahlawan kesiangan yang memegang kendali atas semua urusan desa."

Beberapa pemuda desa lainnya yang duduk melingkar di bangku panjang kayu turut mengangguk-angguk setuju, menyembunyikan rasa iri di balik senyum masam mereka. Di antara kelompok pemuda itu, terselip rasa tersaingi yang begitu nyata, terutama karena beberapa di antara mereka—termasuk Joko sendiri—sebenarnya pernah memendam niat lama untuk meminang Shasmira sebelum Arkan kembali dari perantauan.

"Betul apa katamu, Jok," sahut Rian, rekan karib Joko yang juga merasa tersisih. "Dulu kita mengira Shasmira hanya akan menjadi guru madrasah biasa di desa ini. Tapi sejak Arkan datang membawa konsep rumah belajar modern itu, Shasmira seolah berpaling dan selalu berjalan berdampingan dengan pemuda kota tersebut."

Rasa tidak aman atau insecure perlahan-lahan mulai merayapi hati sebagian pemuda Sukamaju. Perbandingan sosial yang tidak imbang di mata mereka mendistorsi kenyataan. Mereka mulai membandingkan diri secara terbuka di sudut warung kopi: Arkan dipandang sebagai sosok mahasiswa ibu kota yang berpendidikan tinggi, berpakaian rapi, berwajah tampan, dan memiliki karisma modern yang memikat, sementara mereka merasa diri mereka hanyalah pemuda kampung biasa yang hidup dalam keterbatasan fisik maupun finansial.

Pak Malik, pemilik warung kopi yang sudah tua dan kenyang pengalaman hidup, hanya tersenyum tipis mendengar gerutuan para anak muda di warungnya. Ia meletakkan nampan berisi pisang goreng di atas meja bambu sebelum angkat bicara dengan suara serak namun berwibawa.

"Janganlah kalian memelihara iri hati di dalam dada, anak-anak muda," nasihat Pak Malik tenang. "Arkan datang membawa ilmu dan manfaat untuk kemajuan desa kita. Kalau kalian merasa tersaingi, bukannya sibuk menebar dengki di warung kopi, seharusnya kalian instropeksi diri dan ikut belajar memperbaiki diri agar pantas bersanding dengan kemajuan zaman."

Kata-kata Pak Malik membuat sebagian pemuda terdiam malu, namun bara kecemburuan di hati Joko dan segelintir temannya belum sepenuhnya padam.

❖ ❖ ❖

Matahari perlahan meninggi, memancarkan panas terik yang mulai menyengat kulit para pekerja di ladang. Di serambi pusat belajar desa, Shasmira sedang merapikan beberapa buku perpustakaan bersama Deni dan beberapa remaja masjid yang setia membantu. Suasana di dalam ruangan tampak tenang, diisi oleh canda tawa ringan anak-anak yang sedang membaca buku cerita bergambar.

Namun, di luar halaman pusat belajar, ketegangan kecil mulai terasa ketika Joko dan Rian tiba-tiba muncul berjalan santai menghampiri pintu masuk. Ekspresi wajah mereka tampak kaku, menyembunyikan rasa penasaran bercampur jengkel.

Shasmira, yang melihat kedatangan Joko dari balik jendela kaca, menarik napas pelan lalu melangkah keluar untuk menyambut mereka dengan ramah.

"Pagi, Joko, Rian. Ada yang bisa dibantu? Kenapa kalian mampir ke pusat belajar hari ini?" tanya Shasmira sopan seraya merapikan jilbabnya.

Joko memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya, tersenyum sinis sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang tertata rapi. "Pagi, Shasmira. Kami hanya kebetulan lewat dan ingin melihat-lihat bagaimana megahnya tempat belajar baru yang sekarang kamu kelola bersama pahlawan kesiangan kita si Arkan itu."

Nada bicara Joko yang menyindir membuat Shasmira mengernyitkan dahi. Ia menangkap ketidaksukaan yang jelas dari gerak-gerik pemuda tersebut.

"Pusat belajar ini dibangun untuk kemajuan anak-anak kita semua di desa, Joko, bukan untuk ajang pamer," jawab Shasmira tegas, mencoba menjaga nada suaranya tetap sabar. "Kalau kalian ingin ikut berkontribusi membimbing adik-adik di sini, pintu kami selalu terbuka lebar."

Sebelum Joko sempat membalas ucapan Shasmira, Arkan keluar dari ruang administrasi membawa tumpokan modul literasi digital. Melihat kehadiran Joko dan Rian yang berdiri di depan pintu dengan gestur menantang, Arkan melangkah tenang menghampiri mereka sambil tersenyum ramah.

"Assalamualaikum, Joko, Rian," sapa Arkan tulus, mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman. "Senang sekali melihat kalian mampir ke sini. Mari masuk, kita bisa berdiskusi tentang program pelatihan komputer untuk karang taruna."

Joko menatap uluran tangan Arkan dengan pandangan sinis. Ia enggan menyambut tangan tersebut, melipat kedua tangannya di dada dengan gaya menantang. "Tidak usah repot-repot, Arkan. Kami ke sini bukan untuk jadi murid di kelas komputer kalian. Kami hanya ingin memastikan bahwa kehadiranmu di desa ini tidak membawa pengaruh buruk bagi tradisi pemuda lokal."

Suasana di depan pintu pusat belajar mendadak menegang. Deni dan beberapa remaja masjid yang mendengar percakapan itu langsung keluar menghampiri, bersiap siaga melindungi Arkan jika situasi memburuk.

"Jaga mulutmu, Joko!" tegur Deni dengan nada suara tinggi dan tajam. "Arkan datang untuk membantu memajukan desa kita, bukan untuk mencari musuh. Kenapa tiba-tiba kamu bersikap sinis seperti ini?"

Joko mendengkus kesal, menatap Deni dan Arkan secara bergantian dengan sorot mata penuh kecemburuan yang tertutupi amarah. "Kamu tidak tahu apa-apa, Den! Dia hanya memanfaatkan posisinya sebagai anak kota untuk mengambil perhatian semua orang di desa ini, termasuk Shasmira!"

Shasmira terperanjat kaget mendengar ucapan blak-blakan Joko yang membawa-bawa namanya. Rona merah kemarahan seketika merayap di pipinya.

❖ ❖ ❖

Arkan mengangkat tangan kanannya memberi isyarat kepada Deni untuk menahan diri, mencegah pertikaian verbal itu agar tidak semakin memanas di depan anak-anak yang sedang belajar di dalam ruangan. Dengan senyum yang tetap tenang dan pembawaan diri yang sangat terkontrol, Arkan menatap langsung ke dalam mata Joko.

"Joko, kalau keberadaanku di desa ini membuatmu merasa tersaingi atau tidak nyaman, aku minta maaf yang sebesar-besarnya," ucap Arkan dengan suara tenang namun penuh wibawa. "Tujuanku kembali ke Sukamaju bukan untuk merebut tempat siapa pun, melainkan untuk mendedikasikan ilmu yang kudapat di kota demi kemajuan bersama."

Lihat selengkapnya