Sang Kembang Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #29

Ujian Ketulusan

Ujian Ketulusan di Balik Tatapan Sinis

Matahari pagi di Desa Sukamaju memancarkan sinarnya yang hangat, menyapu pelataran balai desa yang bersih dari sisa-sisa daun kering. Di bawah naungan pohon trembesi yang rindang, Arkan berdiri sambil membawa gulungan peta tata ruang desa yang baru saja direvisi bersama para tokoh masyarakat. Namun, di balik suasana pagi yang tenang itu, Arkan tentu menyadari adanya perubahan sikap yang halus namun nyata dari sebagian pemuda desa terhadap dirinya. Beberapa pemuda yang tadinya sering melempar senyum akrab kini tampak menjaga jarak, sapaan ramah mereka berubah menjadi dingin, dan tatapan mata yang mereka lemparkan penuh dengan selidik serta tanda tanya besar.

Perubahan sikap itu bukanlah sesuatu yang datang tanpa sebab. Kehadiran Arkan kembali ke Sukamaju setelah sekian lama merantau di kota besar, keterlibatannya yang begitu intens dalam membongkar sindikat preman pimpinan Hardi, serta kedekatannya yang terjalin erat dengan Shasmira dan keluarganya, sempat memunculkan berbagai bisik-bisik di kalangan pemuda lokal. Sebagian dari mereka merasa tersaingi, sementara yang lain merasa asing dengan sosok Arkan yang kini tampak jauh lebih berpengalaman, berpendidikan tinggi, dan memiliki cara pandang yang berbeda dalam menghadapi masalah desa.

Saat Arkan berjalan melintasi pinggir lapangan menuju warung kopi sederhana milik Pak Cipto untuk beristirahat sejenak, ia berpapasan dengan sekelompok pemuda desa yang sedang duduk nongkrong di atas bangku bambu. Dua orang di antaranya—Bagas dan Joni, dua pemuda dusun yang dikenal cukup vokal—langsung menghentikan obrolan mereka begitu Arkan mendekat.

"Pagi, Bagas, Joni," sapa Arkan dengan senyuman ramah dan nada suara yang sangat santun, mencoba mencairkan kebekuan udara di antara mereka.

Bagas hanya melirik sekilas ke arah Arkan tanpa berdiri dari bangku bambunya. Ia mengangguk kaku, lalu berkata dengan nada sinis, "Wah, sibuk sekali kelihatannya Tuan Arkan hari ini. Mentang-mentang sudah jadi pahlawan kesiangan yang berjasa menyelamatkan desa, sekarang jalannya kelihatan gagah sekali ya."

Joni ikut tertawa kecil mengejek, menyesap kopi hitam di cangkirnya. "Iya, Bagas. Padahal dulu juga cuma anak kemarin sore yang kabur dari desa waktu ada masalah. Sekarang balik-balik langsung sok paling paham urusan kampung."

Mendengar sindiran tajam tersebut, Arkan sama sekali tidak menunjukkan rasa tersinggung, kemarahan, atau niat untuk membalas dengan kesombongan. Ia justru berhenti melangkah, merapatkan gulungan petanya, lalu berdiri tenang di hadapan mereka dengan senyuman yang tetap tersungging di bibirnya.

"Aku mengerti jika kalian merasa asing atau mungkin kurang nyaman dengan kehadiranku kembali di sini, kawan-kawan," jawab Arkan dengan suara yang sangat tenang dan sabar. "Aku memang pergi cukup lama, dan banyak hal yang sudah berubah. Tapi niatku kembali ke Sukamaju murni hanya ingin berbakti dan membantu memajukan tanah kelahiran kita bersama-sama, bukan untuk mengambil tempat siapa pun."

Bagas tertegun sejenak mendengarkan ketulusan dalam suara Arkan. Sikap tenang dan rendah hati yang ditunjukkan Arkan justru membuat sindiran mereka terasa mentah dan kekanak-kanakan.

❖ ❖ ❖

Alih-alih merasa terganggu, tersulut emosinya, atau membalas dengan kesombongan intelektual, Arkan memilih untuk bersikap semakin santun dan merangkul. Ia sadar sepenuhnya akan posisinya sebagai seorang pendatang—meskipun pada kenyataannya ia adalah anak asli desa yang lama pergi merantau. Ia tahu bahwa kepercayaan masyarakat, terutama generasi muda lokal, tidak bisa direbut hanya dengan pamer gelar atau pencapaian masa lalu di kota besar, melainkan harus dibuktikan melalui tindakan nyata dan konsistensi akhlak sehari-hari.

Sore harinya, kegiatan gotong royong perbaikan jembatan penghubung antar-dusun yang rusak akibat teror sebelumnya dilangsungkan di tepi sungai desa. Warga berbondong-bondong membawa peralatan kerja seperti cangkul, sekop, dan potongan balok kayu jati. Shasmira dan beberapa ibu-ibu PKK juga tampak sibuk menyiapkan hidangan makanan ringan dan teh manis hangat di tenda darurat tidak jauh dari lokasi kerja bakti.

Arkan tiba di lokasi dengan mengenakan kaos kerja sederhana dan celana panjang lapangan. Ia langsung bergabung bersama para pemuda desa yang sedang kesulitan mengangkat balok kayu besar untuk fondasi jembatan.

"Biar kubantu pegang sisi sebelah sini, Bagas," ujar Arkan ramah, langsung mengambil posisi di ujung balok kayu berat tanpa menunggu aba-aba.

Bagas, yang sempat menyindir Arkan tadi pagi, tampak terkejut. Ia melirik Arkan dengan rasa tidak enak hati. "Tidak usah repot-repot, Arkan. Kamu bisa kotor-kotoran nanti bajunya kena lumpur sungai," elak Bagas setengah canggung.

"Ah, tidak apa-apa. Pekerjaan berat seperti ini kalau dikerjakan bersama-sama pasti akan terasa jauh lebih ringan," balas Arkan tersenyum hangat, lalu menghitung aba-aba, "Satu... dua... tiga, angkat!"

Dengan kerja sama yang padu, balok kayu besar itu berhasil dipasang dengan kokoh pada tempatnya. Dalam setiap kesempatan gotong royong tersebut, Arkan secara aktif merangkul para pemuda lokal. Ia tidak pernah menempatkan dirinya sebagai orang yang paling pintar atau paling berjasa. Sebaliknya, ia mengajak mereka berdiskusi secara setara, mendengarkan setiap keluh kesah dan ide-ide segar dari anak-anak muda dusun tentang bagaimana cara mengembangkan potensi wisata desa atau mengelola hasil pertanian lokal agar lebih mandiri.

Shasmira, yang mengawasi dari kejauhan sambil membawakan nampan air minum bersama Hafizh suaminya, tersenyum bangga melihat bagaimana Arkan menghadapi ujian ketulusan tersebut dengan kepala dingin dan hati yang lapang.

"Arkan benar-benar sudah banyak berubah menjadi pria yang bijaksana, Mas," bisik Shasmira kepada Hafizh di sampingnya.

Hafizh mengangguk setuju, merangkul pundak istrinya dengan penuh kelembutan. "Ujian hidup di perantauan telah mendewasakannya, Shas. Ia tahu betul bagaimana meredam ego demi kebersamaan."

Lihat selengkapnya