Sang Kembang Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #30

Keteguhan Shasmira

Keteguhan Shasmira Menghadapi Gosip Desa---

Matahari pagi di Desa Sukamaju memancarkan bias keemasan yang menembus sela-sela dedaunan pohon kelapa, membawa kehangatan yang menyapa setiap sudut perkampungan. Di teras depan rumah Kyai Ahmad, suasana tampak tenang seperti biasanya. Suara anak-anak mengaji dari surau kecil di ujung jalan terdengar bersahutan dengan deru angin lereng gunung yang menyejukkan. Namun, di balik kedamaian fisik perkampungan tersebut, dinamika sosial warga mulai menunjukkan riak-riak kecil yang tidak sedap dipandang. Keberhasilan Arkan bersama Shasmira dan Farhan dalam mempertahankan desa adat dari cengkeraman investor swasta ternyata tidak sepenuhnya mendatangkan pujian murni dari seluruh warga. Sebagian kecil warga yang merasa kepentingannya terganggu mulai menyebarkan narasi miring di warung-warung kopi pinggir desa.

Kecemburuan yang berhembus di warung kopi perlahan-lahan mulai melahirkan gosip-gosip kecil di antara para ibu-ibu pengajian yang berkumpul setiap hari Selasa. Di bawah naungan pohon kersen di dekat balai desa, bisik-bisik mulai terdengar setiap kali Shasmira melintas berjalan kaki menuju surau. Ada yang berbisik bahwa Shasmira sengaja menolak semua lamaran pemuda desa karena sudah terpikat oleh pemuda kota berpendidikan tinggi yang datang membawa misi riset, melupakan tata krama tradisional yang selama ini dijunjung tinggi oleh para leluhur kampung. Desas-desus itu bergulir bagaikan bola liar, dibumbui oleh bumbu-bumbu kecemburuan sosial dan rasa penasaran yang berlebihan terhadap kedekatan antara Shasmira dan Arkan.

Shasmira, yang sering kali mendengar potongan kalimat tajam tersebut saat berbelanja di warung kelontong Mbok Minah, memilih untuk tidak menunjukkan reaksi emosional yang berlebihan. Ia berjalan dengan langkah anggun, mengenakan kerudung abu-abu yang menjuntai rapi menutupi dadanya, membawa keranjang bambu berisi sayuran segar. Di dalam hatinya, ia sangat memahami watak masyarakat pedesaan yang terkadang mudah diombang-ambingkan oleh informasi yang tidak utuh. Orang-orang melihat kebersamaan mereka di lapangan saat menyusun draf riset, namun mereka gagal melihat batasan-batasan syariat dan niat tulus yang melandasi setiap langkah kolaborasi tersebut.

Sore harinya, ketika Shasmira sedang merapikan buku-buku catatan pengajian di teras belakang rumah, Farhan datang mendekatinya dengan membawa secangkir teh jahe hangat. Wajah pemuda itu tampak tenang, namun sorot matanya menyiratkan kepedulian yang mendalam terhadap apa yang sedang beredar di tengah warga desa akhir-akhir ini. Farhan meletakkan cangkir tersebut di atas meja kayu, lalu duduk di kursi bambu di sebelah istrinya dengan senyuman yang menenangkan.

"Kamu tampak lebih banyak merenung sore ini, Shasmira," ucap Farhan lembut, memecah kesunyian sore yang diisi oleh suara jangkrik dari semak-semak pekarangan. "Apakah angin dari warung kopi di ujung desa itu sampai juga ke telingamu?"

Shasmira menoleh, menatap suaminya dengan sorot mata yang jernih dan penuh ketulusan. Ia tidak merasa perlu menutup-nutupi kenyataan yang sedang terjadi di luar sana. "Aku mendengar beberapa bisikan saat pulang dari pasar tadi siang, Farhan. Para ibu-ibu membicarakan kedekatan kita dan Arkan dengan cara pandang yang keliru."

Farhan mengangguk pelan, menyesap teh jahe di cangkirnya sebelum kembali berbicara. "Lidah manusia memang hal paling sulit untuk diikat, Shasmira. Mereka melihat apa yang ingin mereka lihat, bukan apa yang sebenarnya terjadi di balik layar perjuangan kita menyelamatkan desa ini."

"Biarlah mereka berbicara sesuka hati mereka," jawab Shasmira mantap, tanpa ada secercah rasa dendam atau sakit hati dalam suaranya. "Mendengar bisikan-bisikan tersebut, Shasmira tetap tenang. Ia tidak pernah ambil pusing dengan opini publik yang keliru."

❖ ❖ ❖

Bagi Shasmira, opini publik yang keliru ibarat buih di atas permukaan air sungai—ia akan datang dan pergi terbawa arus, sementara batu karang prinsip hidupnya akan tetap kokoh di tempatnya. Sepanjang hidupnya, ia telah terbiasa menghadapi berbagai macam penilaian manusia, mulai dari para pelamar kaya raya yang menganggapnya sombong hingga warga desa yang kini salah paham terhadap hubungannya dengan Arkan. Namun, semua itu tidak pernah sedikit pun menggoyahkan fondasi batin yang telah ia bangun bersama keluarganya.

Bagi Shasmira, yang terpenting adalah menjaga batasan syariat dalam setiap interaksinya dengan Arkan, serta menyerahkan urusan hati kepada Yang Maha Kuasa. Selama ini, setiap kali ia dan Arkan membahas draf riset pelestarian desa atau merumuskan strategi pelestarian lingkungan, Farhan selalu berada di dekat mereka, atau pertemuan tersebut dilangsungkan di tempat terbuka yang disaksikan oleh banyak orang. Tidak pernah ada ruang bagi keraguan atau celah bagi fitnah, kecuali di dalam pikiran orang-orang yang memang sengaja ingin mencari-cari keburukan.

Keesokan paginya, suasana di balai dusun terasa lebih padat dari biasanya. Para ibu-ibu PKK berkumpul untuk menghadiri penyuluhan kesehatan dan pengajian bulanan. Shasmira, sebagai salah satu pengurus pengajian wanita, hadir tepat waktu mengenakan gamis sederhana. Begitu ia melangkah masuk ke dalam aula balai dusun, beberapa ibu yang duduk di barisan belakang tampak saling menyenggol siku, berbisik-bisik sambil melemparkan pandangan sinis ke arahnya.

"Lihatlah itu," bisik Bu Marta, istri salah satu tokoh dusun yang sempat mendukung proyek investor swasta beberapa waktu lalu. "Mentang-mentang sudah menyelamatkan desa bersama pemuda kota, sekarang jalannya makin tegak. Padahal sudah punya suami, tapi ke mana-mana selalu ditemani pemuda lain."

Bisikan itu sengaja dikeraskan sedikit agar dapat tertangkap oleh indra pendengaran Shasmira. Beberapa wanita di sekitar Bu Marta tampak tersenyum canggung, merasa tidak enak hati, sementara sebagian lainnya terhasut oleh provokasi tersebut.

Shasmira menghentikan langkahnya sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menoleh ke arah sumber suara dengan senyuman paling tulus yang ia miliki. Ia tidak menunjukkan kemarahan, tidak pula memasang wajah ketus. Dengan langkah anggun, ia justru mendekati barisan tempat Bu Marta duduk bersama beberapa warga lainnya.

"Assalamu'alaikum, Bu Marta," sapa Shasmira dengan suara yang sangat santun dan terjaga. "Wah, kerudung baru ya? Warnanya sangat cocok dengan suasana pengajian hari ini."

Bu Marta tertegun, wajahnya mendadak merona merah karena merasa tertangkap basah sedang membicarakan keburukan orang lain secara langsung. Ia menelan ludah dengan susah payah, membalas sapaan itu dengan suara terbata-bata. "Wa... Wa'alaikumussalam, Shasmira. Ya, ini beli dari kota kemarin."

"Alhamdulillah kalau berkenan di hati," lanjut Shasmira dengan tenang tanpa menyinggung sedikit pun gosip yang baru saja ia dengar. "Mari kita ikuti pengajian hari ini dengan hati yang bersih, agar ilmu yang disampaikan membawa berkah untuk keluarga kita di rumah."

Sikap Shasmira yang sangat elegan dan jauh dari kesan defensif membuat para ibu-ibu di sekitar aula merasa kagum sekaligus malu sendiri atas prasangka buruk yang sempat mereka lemparkan. Bu Marta hanya bisa menundukkan kepala, meresapi betapa mulia akhlak gadis yang baru saja ia gunjingkan beberapa detik lalu.

❖ ❖ ❖

Kisah mengenai kejadian di balai dusun itu menyebar dengan cepat keesokan harinya, namun kali ini dengan nuansa yang jauh berbeda. Alih-alih semakin menyudutkan Shasmira, cerita tentang bagaimana ia menghadapi sindiran Bu Marta dengan senyuman dan kelembutan justru membuat banyak warga merasa tersadar akan kekeliruan gosip yang selama ini beredar di warung kopi.

Di teras belakang rumah Kyai Ahmad, Arkan yang baru saja datang membawa berkas tambahan hasil revisi riset tata ruang desa mendengarkan cerita tersebut dari Kyai Ahmad sambil tersenyum bangga. Pria paruh baya itu menggelengkan kepala perlahan, mengagumi keteguhan mental putri tunggalnya dalam menghadapi badai sosial di tengah masyarakat.

Lihat selengkapnya