
Menyusuri Jalan Setapak Menuju Bukit Kenangan
Sore itu, di sela-sela jeda riset lapangan Arkan dan rutinitas madrasah Shasmira, keduanya memutuskan untuk memenuhi ajakan nostalgia masa kecil yang telah lama tertunda. Ditemani angin senja yang bertiup lembut membawa aroma khas tanah basah dan daun pinus, Arkan mengajak Shasmira melangkah mendaki bukit kecil di ujung Desa Sukamaju—tempat di mana mereka sering menghabiskan waktu bersama belasan tahun silam sebelum jarak dan takdir memisahkan jalan hidup mereka.
Langit sore memancarkan gradasi warna jingga kemerahan yang perlahan berpadu dengan kelamnya senja di ufuk barat. Jalan setapak tanah liat yang dulu sering mereka lewati kini ditumbuhi rumput liar yang subur dan bunga-bunga liar berwarna kuning keemasan. Sepanjang perjalanan, langkah kaki mereka beriringan dalam keheningan yang nyaman, diiringi suara desir angin di antara pepohonan bambu yang bergesekan dan nyanyian burung sore hari yang pulang ke sarang.
"Rasanya seperti baru kemarin kita berlari-lari di jalur ini sambil membawa ranting pohon untuk dijadikan pedang-pedangan," kenang Arkan pelan, memecah kesunyian sambil tersenyum hangat ke arah Shasmira.
Shasmira menoleh, membalas senyuman itu dengan binar mata yang memancarkan kehangatan masa lalu. "Kamu benar, Arkan. Dulu bukit ini terasa begitu luas dan misterius bagi kita yang masih anak-anak. Sekarang, setelah kita dewasa, jalurnya tampak lebih pendek, tapi kenangannya justru semakin dalam."
"Karena kenangan itu kita ukir bersama orang yang tepat, Shas," balas Arkan lembut, membuat pipi Shasmira merona kemerahan di balik kerudung abu-abunya.
Mereka terus melangkah menyusuri jalan setapak yang menanjak. Arkan dengan sigap beberapa kali mengulurkan tangan untuk membantu Shasmira menyelewati akar pohon besar yang melintang di tengah jalan. Sentuhan tangan mereka yang sekilas menghadirkan aliran rasa aman dan kedekatan yang sudah terjalin sejak kecil, menguatkan ikatan batin yang tidak pernah luntur oleh hempasan waktu.
Sesampainya di puncak bukit, hamparan pemandangan Desa Sukamaju terlihat begitu memesona dari ketinggian. Petak-petak sawah hijau membentang luas bagaikan permadani permata, dikelilingi oleh barisan rumah panggung penduduk desa yang mengepulkan asap tipis dari dapur-dapur sore. Di kejauhan, kubah surau desa tampak berkilau memantulkan cahaya matahari terakhir.
"Masya Allah... keindahan ini tidak pernah berubah sedikit pun," bisik Shasmira takjub, memejamkan mata sejenak menikmati hembusan angin bukit yang menerpa wajahnya.
"Sama sepertimu, Shas," ucap Arkan tulus sambil menatap lekat gadis di sampingnya. "Waktu boleh mengubah fisik kita, tapi ketulusan jiwamu tidak pernah bergeser sejak hari pertama kita berkenalan di bawah pohon beringin tua itu."
❖ ❖ ❖
Di bawah naungan pohon beringin tua yang rindang di puncak bukit, Arkan dan Shasmira duduk beristirahat di atas sebuah batu besar yang permukaannya sudah ditumbuhi lumut tipis. Tempat itu dulunya adalah tempat persembunyian rahasia mereka saat menghindari omelan orang tua karena terlalu lama bermain di luar rumah menjelang maghrib.
"Kamu masih ingat, Arkan, dulu kita pernah meninggalkan sebuah kotak kayu kecil berisi surat-surat impian kita di bawah akar pohon ini?" tanya Shasmira sambil menunjuk ke arah akar besar beringin yang mencuat ke permukaan tanah.
Arkan mengangguk antusias, matanya berbinar cerah. "Tentu saja aku ingat. Surat impian tentang cita-cita kita saat dewasa nanti. Aku menulis ingin menjadi insinyur yang membangun desa, dan kamu menulis ingin menjadi guru yang mencerdaskan anak-anak bangsa."
"Dan alhamdulillah, Allah mengabulkan doa dan impian kita berdua dengan cara-Nya yang indah," sahut Shasmira penuh rasa syukur.
Arkan berlutut di dekat akar pohon beringin tersebut, mencoba meraba tumpukan tanah gembur di sela-sela akar. Dengan bantuan sebilah ranting kecil, ia menggali perlahan hingga ujung jarinya menyentuh permukaan benda keras yang terkubur di dalam tanah.
"Shas, lihat... kotak itu masih ada di sini!" seru Arkan gembira sambil menarik sebuah kotak kayu berukuran kecil yang sudah tampak usang dan berkarat di bagian engselnya.
Shasmira mendekat, menutup mulutnya karena takjub. "Ya Allah, sungguh luar biasa kotak itu bisa bertahan selama bertahun-tahun di dalam tanah."
Arkan membuka kunci kotak kayu tersebut dengan hati-hati. Di dalamnya terdapat gulungan kertas kusam berisi tulisan tangan masa kecil mereka yang masih bisa dibaca dengan cukup jelas. Arkan membuka gulungan kertas miliknya, sementara Shasmira membaca miliknya sendiri.
Suasana hening sejenak, digantikan oleh suara tawa kecil mereka yang bernostalgia mengenang kepolosan masa lalu. Namun, di tengah gelak tawa tersebut, ekspresi wajah Arkan tiba-tiba berubah serius saat ia menemukan secarik kertas kecil tambahan di bagian paling dasar kotak kayu—kertas yang tidak pernah ia ingat pernah ia tulis sebelumnya.
"Ada apa, Arkan? Mengapa wajahmu mendadak serius begitu?" tanya Shasmira penasaran melihat perubahan ekspresi di wajah sang pemuda.
Arkan mengangkat kertas kecil itu dengan jari telunjuk dan ibu jarinya. "Shas, kertas ini... tulisan tangan almarhum ayahku. Tapi isinya bukan tentang impian masa kecil, melainkan sebuah pesan rahasia yang ditujukan untukku saat aku dewasa nanti."
❖ ❖ ❖
Shasmira mengerjap pelan, rasa penasarannya langsung membuncah seketika. "Pesan rahasia dari ayahmu? Apa isinya, Arkan?"
Arkan menarik napas dalam-dalam sebelum membacakan tulisan tangan ayahnya yang mulai memudar termakan usia.
"Wahai anakku Arkan, jika kamu membaca surat ini di masa depan saat kamu kembali ke Bukit Kenangan di Desa Sukamaju, ketahuilah bahwa kunci perdamaian keluarga kita tidak terletak pada harta warisan, melainkan pada lembaran manuskrip kuno leluhur yang disembunyikan di balik dinding surau tua desa."
Mendengar isi surat tersebut, Shasmira tertegun hebat. Jantungnya berdegup kencang. "Manuskrip kuno leluhur? Apa maksud ayahmu, Arkan? Apakah itu ada hubungannya dengan sengketa tanah yang selama ini dipermasalahkan oleh pamanmu?"
Arkan merenung sejenak, mengelus permukaan kertas tua itu dengan ibu jarinya. "Ayahku menyembunyikan dokumen asli kepemilikan tanah adat yang memuat wasiat kakek buyut kita, agar tidak jatuh ke tangan orang-orang serakah seperti Hardiman. Dan tempat penyimpanannya ternyata ada di surau tempat ayahmu mengabdi."