Kilas Balik di Tepi Sungai dan Batu Besar
Mentari sore perlahan condong ke barat, memantulkan bias cahaya keemasan di atas permukaan air yang tenang. Deru angin sepoi-sepoi membelai dedaunan bambu yang tumbuh subur di sepanjang bantaran sungai desa. Di jalan setapak berbatu yang mengarah ke pinggiran desa, langkah kaki Shasmira dan Arkan terayun beriringan, menikmati ketenangan suasana setelah seharian berkutat dengan kesibukan madrasah dan urusan pembangunan desa.
Mereka berhenti sejenak di dekat aliran sungai kecil yang airnya tetap jernih, mengalir di antara bebatuan besar tempat mereka dulu sering membuat perahu kertas. Shasmira menyunggingkan senyum kecil, membiarkan ingatannya melayang ke masa di mana beban hidup hanyalah sebatas bagaimana menjaga mainan agar tidak terbawa arus air.
"Kau masih ingat, Arkan, dulu kita sering menghabiskan waktu berjam-jam di sini hanya untuk adu cepat perahu dari daun pisang?" kenang Shasmira lembut, menatap bongkahan batu kali yang ditumbuhi lumut hijau di tepi aliran air.
Arkan ikut tersenyum, melipat kedua tangannya di dada sambil memperhatikan aliran air yang bergemericik lembut. "Tentu saja aku ingat, Shas. Bahkan aku pernah menangis tersedu-sedu karena perahu kertas buatanku hancur diterjang arus deras, lalu kau memberikan perahu buatanmu padaku."
Shasmira tertawa kecil, suara tawanya memecah keheningan sore yang syahdu. "Kau waktu itu memang cengeng sekali. Padahal kita hanya anak-anak yang belajar mengeja huruf hijaiyah di surau."
"Dan sekarang, lihatlah kita," lanjut Arkan dengan nada suara yang berubah lebih tenang dan berwibawa. Ia memandang batu besar di hadapan mereka, lalu menoleh menatap Shasmira lekat-lekat. "Tempat ini tidak banyak berubah, Shasmira," ucap Arkan pelan. "Tapi waktu telah mendewasakan kita. Rasanya luar biasa bisa berdiri di sini lagi, bersamamu, setelah sekian lama terpisah oleh dunia luar yang begitu bising."
Shasmira menunduk sejenak, merasakan kehangatan yang menjalar di dadanya mendengar kalimat itu. "Dunia luar memang bising, Arkan. Tapi sejauh apa pun kaki melangkah, hati ini selalu tahu ke mana ia harus pulang."
Suasana di tepi sungai mendadak terasa begitu intim. Suara gemericik air seolah menjadi latar musik alami yang mengiringi napas nostalgia di antara mereka berdua. Bagi Shasmira dan Arkan, batu besar dan aliran sungai ini adalah saksi bisu dari lembaran awal kisah persahabatan yang kini telah bertransformasi menjadi ikatan suci pernikahan.
"Dulu, setiap kali aku merasa lelah dengan kerasnya persaingan di kota besar, bayangan batu besar ini dan nasihat-nasihatmu selalu menjadi tempatku 'pulang' secara batin," aku Arkan jujur, menatap lurus ke dalam mata istrinya.
Shasmira meraih tangan Arkan, menggenggamnya erat penuh kasih. "Kita tidak pernah benar-benar terpisah, Arkan. Sebab doa-doa yang dipanjatkan di sepertiga malam selalu berhasil menjembatani jarak apa pun."
❖ ❖ ❖
Perbincangan santai di tepi sungai itu mendadak terhenti tatkala derap langkah kaki seseorang mendekati arah mereka dari jalan setapak kebun salak. Seorang pemuda desa bernama Hasan, salah satu kader karang taruna binaan Arkan, datang dengan napas agak terengah-engah membawa sebuah map plastik merah.
"Assalamu'alaikum, Bang Arkan, Mbak Shasmira," sapa Hasan sopan begitu tiba di dekat batu besar.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah, Hasan. Ada apa tampak tergesa-gesa begitu?" tanya Arkan melepaskan genggaman tangannya, berbalik menghadap sang pemuda desa.
Hasan merapikan posisinya, menyerahkan map plastik merah kepada Arkan. "Begini, Bang. Laporan akhir evaluasi program penerangan tenaga surya dan perbaikan irigasi desa sudah selesai direkap. Tapi ada kendala teknis kecil terkait unit baterai di blok utara yang mulai menurun dayanya akibat cuaca ekstrem kemarin."
Shasmira mendengarkan laporan tersebut dengan cermat, menunjukkan ketertarikannya sebagai bagian dari komunitas pendidik dan penggerak desa. "Apakah penurunan dayanya cukup signifikan sampai mengganggu penerangan jalan utama di malam hari, Hasan?"
"Tidak terlalu parah, Mbak Shas. Tapi warga khawatir kalau dibiarkan, lampu-lampu itu akan padam total sebelum akhir bulan," jawab Hasan menjelaskan rinci.
Arkan membuka map merah tersebut, memeriksa lembar demi lembar catatan teknis di bawah temaram cahaya matahari sore. "Baiklah, Hasan. Besok pagi kita jadwalkan pengecekan langsung ke lokasi blok utara bersama tim teknis karang taruna. Siapkan peralatan perbaikan cadangan yang kemarin kita simpan di gudang madrasah."
"Siap, Bang! Besok pagi selepas subuh saya kumpulkan anak-anak di balai desa," balas Hasan penuh semangat, lalu pamit undur diri melanjutkan perjalanan.
Kehadiran Hasan seketika mengingatkan keduanya bahwa di balik kedamaian Desa Sukamaju, tanggung jawab besar untuk menjaga keberlanjutan pembangunan tetap berada di pundak mereka.
Shasmira menatap suaminya dengan sorot mata penuh bangga. "Kau tidak pernah kehabisan energi untuk mengurus desa ini, Arkan. Padahal tugas mengajarmu di madrasah juga sangat padat."
"Ilmu dan tenaga yang kita miliki akan lebih barokah jika langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar, Shas," jawab Arkan tersenyum hangat, merangkul bahu istrinya dengan penuh kelembutan.
Namun, di balik kehangatan sore itu, bayang-bayang tantangan baru mulai merayap dalam pikiran Shasmira, terkait masa depan program pendidikan integrasi pesantren yang tengah mereka rintis bersama kementerian pusat.
❖ ❖ ❖
Mereka melanjutkan langkah perlahan menyusuri jalan setapak menuju halaman belakang kompleks Madrasah Al-Hikmah. Suara santri-santri cilik yang sedang melafalkan hafalan Al-Qur'an dari ruang asrama terdengar merdu, melengkapi keindahan senja Desa Sukamaju.
"Arkan," panggil Shasmira pelan di tengah perjalanan, memecah keheningan langkah kaki mereka. "Mengenai undangan penunjukan Desa Sukamaju sebagai percontohan nasional dari kementerian pendidikan kemarin... apakah kita benar-benar siap memikul amanah sebesar itu?"