Menyelami Arti Asmara yang Suci
Matahari sore di Desa Sukamaju perlahan-lahan mulai condong ke barat, membiaskan cahaya keemasan yang hangat di atas pelataran serambi belakang rumah panggung Kepala Desa Kyai Ahmad. Angin pegunungan berhembus lembut, menggoyang-goyangkan daun-daun pisang di kebun belakang dan menyebarkan aroma khas tanah basah yang menyegarkan. Di bawah naungan atap kayu jati yang teduh, Shasmira duduk di kursi rotan berhadapan langsung dengan Arkan, di atas meja kecil terhidang sepiring pisang goreng hangat dan dua cangkir teh poci tanah liat yang mengepulkan uap tipis.
Setelah berbagai badai ancaman sindikat preman dan ujian ketulusan yang berhasil mereka lalui bersama warga desa, suasana sore itu terasa begitu tenang dan penuh kedamaian. Dari obrolan ringan mengenai perkembangan program pemberdayaan ekonomi pemuda desa, topik pembicaraan di antara mereka bergeser secara alami pada prinsip asmara, hakikat cinta, dan kesakralan ikatan pernikahan. Di tengah dunia modern saat ini yang kerap memandang cinta sebagai komoditas instan, bebas aturan, dan mudah berganti, keduanya ternyata memiliki pandangan hidup yang sangat teguh dan sakral.
Arkan menyesap teh hangat di cangkirnya perlahan, lalu meletakkannya kembali ke atas piring kecil dengan gerakan tenang. Sorot matanya menerawang sejenak ke arah hamparan sawah hijau di kejauhan, seolah sedang merangkai kepingan memori masa lalu yang membimbing langkah hidupnya selama bertahun-tahun merantau di kota besar.
"Di kota besar sana, Shas, aku sering melihat bagaimana anak-anak muda mengartikan cinta dengan sangat bebas dan menggampangkan komitmen," ucap Arkan membuka percakapan dengan nada suara yang berat namun penuh perenungan. "Hubungan terjalin begitu cepat, lalu putus dengan alasan yang sepele. Cinta direduksi sekadar menjadi pelarian rasa kesepian."
Shasmira mendengarkan dengan saksama, menatap lurus ke arah sahabat masa kecilnya itu tanpa memotong kalimatnya. Ia tahu betul bahwa merantau di kota metropolitan dengan segala gemerlap budayanya adalah ujian yang sangat berat bagi seorang pemuda.
Arkan menoleh, menatap Shasmira dengan pandangan yang teduh dan penuh kejujuran. "Itulah alasan mengapa aku memilih untuk menjaga hatiku selama bertahun-tahun di perantauan, Shasmira. Bagi diriku, cinta sejati bukanlah sekadar ketertarikan fisik sesaat atau gelora emosi masa muda, melainkan sebuah amanah agung yang harus dijaga."
"Sebuah amanah untuk saling menjaga kehormatan, menuntun dalam ketaatan kepada agama, dan berjalan beriringan mengarungi liku kehidupan semata-mata demi mencari ridha Allah SWT," lanjut Arkan menegaskan prinsip hidup yang ia pegang teguh selama ini.
❖ ❖ ❖
Shasmira mengangguk pelan, merasakan resonansi jiwa yang luar biasa kuat dari setiap kata yang diucapkan oleh Arkan. Kalimat-kalimat tersebut seolah memantul langsung ke dalam relung hatinya yang paling dalam, menyadarkannya bahwa prinsip hidup yang mereka miliki ternyata seirama, meskipun mereka sempat terpisah oleh jarak dan waktu selama dua dekade.
"Aku sangat memahami apa yang kamu rasakan, Arkan," ucap Shasmira tulus, suaranya terdengar lembut namun tegas memecah keheningan sore. Ia menarik napas panjang, lalu melanjutkan, "Itulah mengapa dulu aku selalu menolak banyak pinangan dari para saudagar kaya dan pemuda terpandang yang datang ke rumah ini."
Arkan mendengarkan dengan penuh perhatian, menyimak pengakuan jujur dari wanita yang dulu menjadi teman bermain perahu kertas di sungai desa.
"Banyak orang di desa mengira aku terlalu pemilih atau sombong karena menolak lamaran-lamaran megah itu," tutur Shasmira dengan senyuman tipis penuh kelegaan. "Tapi jauh di lubuk hatiku, aku percaya satu hal: hati yang dijaga dengan ikhlas untuk seseorang yang tepat tidak akan pernah merasa lelah menanti waktu yang telah diizinkan dan diberkahi oleh-Nya."
Pernyataan itu membuat suasana di serambi belakang rumah panggung mendadak terasa semakin sakral. Tidak ada kecanggungan di antara mereka; yang ada hanyalah kejujuran batin dan kemurnian pandangan tentang bagaimana sebuah ikatan rumah tangga harus dibangun di atas fondasi takwa yang kokoh.
"Menikah bukan sekadar menyatukan dua rupa atau menggabungkan status sosial keluarga, ya Shas?" timpal Arkan tersenyum hangat menyetujui pemikiran Shasmira. "Melainkan sebuah perjanjian berat di hadapan Allah—mitsaqan ghalizha—yang menuntut kesiapan mental, spiritual, dan tanggung jawab moral seumur hidup."
"Benar sekali, Arkan," jawab Shasmira mengamini. "Dan bersyukur kepada Allah, aku dipertemukan dengan Mas Hafizh—suami yang tidak hanya menjadi imam rumah tanggaku, tapi juga membimbingku berjalan di atas jalan yang diridhai-Nya."
Meskipun Shasmira kini telah bersuami dan Arkan tetap memposisikan dirinya sebagai sahabat sekaligus saudara seiman yang menjaga batasan norma, percakapan mendalam sore itu justru memperkuat rasa saling menghormati di antara mereka berdua secara luar biasa.
❖ ❖ ❖
Obrolan sarat makna tentang hakikat asmara dan kesucian pernikahan itu tiba-tiba terhenti ketika suara langkah kaki terdengar menaiki tangga kayu serambi belakang rumah panggung. Hafizh muncul dari arah ruang dalam dengan membawa setumpuk berkas laporan desa di tangan kanannya. Ia tersenyum hangat melihat istri dan sahabat masa kecilnya sedang duduk berbincang santai menikmati senja.