Sang Kembang Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #35

Janji di Bawah Langit

Janji di Bawah Langit Sukamaju---

Sore hari di Desa Sukamaju selalu menghadirkan lukisan alam yang begitu memukau, seolah sang pencipta menumpahkan seluruh keindahannya ke atas bumi pertiwi. Mentari perlahan tenggelam di balik horizon bukit, memancarkan bias cahaya jingga keemasan yang memantul di permukaan air sungai jernih, membelai lembut pepohonan rindang di sekitarnya. Angin pegunungan berhembus pelan, membawa aroma khas dedaunan basah dan kesegaran tanah yang baru disiram hujan kemarin. Di atas dataran tinggi bukit kecil yang menghadap langsung ke hamparan sawah bertingkat, suasana terasa begitu khidmat, seolah alam semesta turut merestui pertemuan dua hati yang telah lama terikat oleh takdir.

Arkan berdiri berdampingan dengan Shasmira di tempat favorit mereka sejak masa kanak-kanak dulu—di bawah naungan rindangnya pohon sawo tua yang kokoh menahan gempuran zaman. Setelah rangkaian riset akademis selesai, sidang penolakan proyek komersialisasi swasta dimenangkan, dan segala badai gosip kampung mereda, hari ini adalah momen ketenangan yang sesungguhnya. Mereka menikmati detik-detik terakhir sebelum Arkan harus kembali ke kota besar untuk merampungkan urusan wisuda dan administrasi akhir kuliahnya.

"Tidak terasa, semua perjuangan panjang kita di desa ini akhirnya membuahkan hasil yang sangat indah, Shasmira," ucap Arkan membuka percakapan, suaranya terdengar lembut namun penuh wibawa di tengah kesunyian senja.

Shasmira menoleh, membalas senyuman pemuda di sampingnya dengan binar mata yang memancarkan keteduhan. Ia merapikan ujung kerudungnya yang terhembus angin senja. "Perjuangan ini terasa ringan karena kita menjalaninya bersama, Arkan. Tanpa kerja keras dan dedikasimu, Desa Sukamaju mungkin sudah kehilangan bentuk aslinya."

Arkan menatap Shasmira dengan pandangan penuh ketulusan, tanpa ragu atau canggung lagi. Di tempat mereka merajut persahabatan masa kecil dulu, Arkan berjanji dalam hatinya untuk segera melangkah lebih serius menghadap Kyai Ahmad. Sorot matanya memancarkan keteguhan seorang pria dewasa yang siap bertanggung jawab atas masa depan wanita yang telah lama mengisi relung hatinya.

"Shasmira," panggil Arkan dengan nada suara yang sedikit bergetar karena menahan debaran rasa di dadanya. "Selama bertahun-tahun merantau jauh dari tanah kelahiran, hatiku selalu tertinggal di sini. Di tempat ini, di sisimu, aku menemukan arti rumah yang sesungguhnya."

Shasmira menundukkan pandangannya sejenak, merasakan aliran kehangatan merayap di sekujur tubuhnya. "Kamu selalu punya tempat di desa ini, Arkan. Kiprahmu telah menyelamatkan masa depan kami semua."

❖ ❖ ❖

Keheningan sempat merayap di antara mereka berdua, diisi hanya oleh suara desau angin bukit dan kicauan burung-burung kecil yang kembali ke sarang. Jarak di antara mereka terasa begitu dekat, bukan sekadar jarak fisik, melainkan kedekatan frekuensi jiwa yang telah teruji oleh waktu, jarak, dan berbagai ujian sosial yang menerpa. Farhan, suami sah Shasmira yang telah lama menjadi sahabat sejati mereka, dengan lapang dada memberikan ruang bagi keduanya untuk menyelesaikan lembaran masa lalu dan merajut jembatan masa depan yang bersih dari noda keraguan.

Bagi mereka berdua, sore di bukit itu bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan titik awal di mana dua kepingan takdir yang sempat terpisah kini siap disatukan dalam sebuah ikatan suci yang diridai Sang Pencipta. Segala kerumitan hidup, tragedi kebakaran pesantren di masa kecil, hingga kepedihan pengungsian antar-kota, lebur menjadi hikmah yang agung.

"Aku ingat hari-hari ketika kita berlari di bawah pohon ini sambil membawa buku-buku ngaji," kenang Shasmira sambil tersenyum tipis, menerawang jauh ke masa belia mereka. "Tidak pernah terlintas dalam benakku bahwa takdir akan membawamu pergi jauh, lalu mengembalikanmu dalam wujud seorang pemuda yang membela tanah airnya dengan ilmu."

"Semua itu adalah bagian dari skenario agung-Nya, Shasmira," jawab Arkan tulus. "Setiap tikungan tajam dalam hidupku membimbingku kembali kepadamu. Dan sekarang, sebelum aku melangkah pergi ke kota untuk menyelesaikan urusan terakhirku, ada satu hal penting yang harus kukatakan padamu dan kepada Kyai Ahmad."

Shasmira menatap Arkan dengan rasa penasaran yang lembut. "Apa itu, Arkan?"

"Aku ingin meminta restu dari ayahmu untuk melamar dan menjagamu dalam ikatan pernikahan yang sah," ucap Arkan mantap, suaranya terdengar tegas tanpa ada keraguan sedikit pun. "Farhan telah memberikannya keikhlasan, dan aku ingin menyempurnakan separuh agamaku dengan perempuan yang telah menjaga hati ini selama belasan tahun."

Mendengar pernyataan yang sangat jantan dan tulus itu, jantung Shasmira berdegup kencang. Ia tahu bahwa Arkan tidak sedang bermain-main. Hubungan mereka dilandasi oleh ketaatan kepada syariat, dan langkah yang diambil Arkan adalah wujud tertinggi dari rasa tanggung jawab seorang laki-laki terhormat.

"Abah pasti akan mendengarkan niat baikmu, Arkan," jawab Shasmira dengan suara lembut penuh keharuan. "Datanglah kepada beliau dengan kejujuran yang sama seperti hari ini."

❖ ❖ ❖

Matahari kian terbenam, menyisakan garis merah menyala di ufuk barat yang memantulkan keindahan magis di atas langit Desa Sukamaju. Di teras belakang rumah Kyai Ahmad, lampu minyak tanah mulai dinyalakan, memancarkan cahaya kekuningan yang hangat menyambut kepulangan Arkan dan Shasmira dari bukit. Farhan sudah lebih dulu duduk di kursi bambu, menikmati secangkir teh panas sambil membaca kitab kecil peninggalan pesantren.

Begitu Arkan dan Shasmira melangkah masuk ke halaman belakang, Farhan langsung menyambut mereka dengan senyuman ramah yang menenangkan. Tidak ada rasa cemburu atau kecurigaan di wajah Farhan; yang terpancar hanyalah keikhlasan seorang hamba Allah yang memahami indahnya berbagi kasih sayang dalam koridor rida Ilahi.

"Bagaimana pemandangan senja di bukit tadi, Arkan? Apakah cukup menginspirasi bab penutup risetmu?" tanya Farhan bercanda ringan mencairkan suasana.

Lihat selengkapnya