Sang Kembang Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #36

Getaran Halus di Ujung Senja

Getaran Halus di Ujung Senja

Hari-hari setelah perjalanan yang menegangkan ke bukit kenangan, ritme hidup Shasmira terasa sedikit berbeda. Suasana Desa Sukamaju kembali berjalan dengan tenang, namun di dalam diri gadis itu, ada sesuatu yang telah bergeser secara perlahan. Setiap kali bayangan matahari sore mulai condong ke barat dan memancarkan warna jingga keemasan di ufuk, serta suara derap langkah kaki yang akrab mendekati serambi rumah, ada getaran halus yang tiba-tiba merayap di dadanya—sebuah sensasi hangat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Shasmira mendapati dirinya sering berdiri lebih lama di depan cermin kecil di kamarnya, merapikan lipatan jilbabnya dengan sangat hati-hati, atau dengan sengaja menyeduh teh melati sedikit lebih awal sebelum waktu kunjungan tiba. Ia tidak lagi bisa membohongi diri sendiri bahwa kedatangan Arkan ke rumah panggung itu kini bukan sekadar kunjungan biasa dari seorang sahabat masa kecil yang baru kembali dari perantauan. Ruang kosong di hatinya yang dulu kerap dipenuhi oleh tanda tanya tentang masa depan dan kenangan masa lalu, kini perlahan terisi oleh debar yang menenangkan.

"Sedang apa kamu di sini, Shas? Dari tadi Ibu perhatikan kamu bolak-balik terus ke dapur," suara Nyai Salmah membuyarkan lamunan Shasmira yang sedang memegang teko tanah liat.

Shasmira sedikit tersentak, merona malu di hadapan ibunya. "Ah, tidak apa-apa, Bu. Shasmira hanya menyiapkan teh hangat untuk Ayah dan... untuk tamu di depan."

Nyai Salmah tersenyum penuh arti sambil menggelengkan kepala pelan. Beliau sudah sangat paham apa yang sedang bergolak di dalam hati putri tercintanya itu. "Tamu di depan? Maksudmu Nak Arkan? Bilang saja kalau kamu sedang menunggu kehadirannya, tidak usah malu-malu begitu."

Pipi Shasmira seketika berubah merah padam bagaikan kepiting rebus. Ia menundukkan pandangannya, memainkan ujung kerudungnya dengan jemari yang sedikit gemetar. "Ibu bisa saja... Shasmira kan hanya menjalankan kewajiban sebagai tuan rumah yang baik."

"Ibu tahu anak gadis Ibu ini sedang jatuh cinta," goda Nyai Salmah lembut, lalu menepuk pelan pundak Shasmira. "Dan Ibu ikut bahagia melihat ketulusan yang ada pada diri Arkan. Dia pemuda yang bertanggung jawab."

Selepas ibunya berlalu ke ruang belakang membawa keranjang cucian, Shasmira menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debar jantungnya yang tidak karuan. Ia berjalan keluar menuju serambi rumah panggung sambil membawa nampan berisi dua cangkir teh melati hangat dan sepiring jajanan pasar tradisional.

Benar saja, beberapa saat kemudian, sosok Arkan muncul di balik pagar halaman. Pemuda itu mengenakan kemeja koko putih bersih dengan lengan digulung sebatas siku, memancarkan wibawa dan kesederhanaan yang selalu berhasil membuat Shasmira terpesona.

"Assalamu'alaikum, Shasmira," sapa Arkan dengan senyuman paling manis yang pernah ia persembahkan sore itu.

Shasmira membalas sapaan itu dengan suara lembut yang sedikit bergetar. "Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Silakan masuk, Arkan. Ayah sedang berada di surau sebentar lagi pulang."

Arkan menaiki tangga kayu panggung, lalu duduk di kursi bambu yang biasa ia tempati. "Terima kasih, Shas. Senang rasanya bisa melihatmu tersenyum menyambut sore ini."

❖ ❖ ❖

Obrolan di serambi sore itu mengalir begitu natural, diselingi desiran angin pegunungan yang menyejukkan. Namun, di balik kehangatan percakapan mereka, ada rona kegelisahan kecil yang tersimpan di mata Arkan. Pemuda itu beberapa kali terlihat menatap cangkir tehnya sebelum akhirnya mengangkat wajah menatap Shasmira lekat-lekat.

"Shas, ada hal penting yang sebenarnya ingin kubicarakan denganmu sejak kemarin," ucap Arkan dengan nada suara yang sedikit serius namun tetap lembut.

Jantung Shasmira mendadak berdegup lebih kencang. Ia menghentikan tangannya yang hendak menuangkan tambahan air panas. "Hal penting apa, Arkan? Apakah ada masalah baru lagi di desa atau dari urusan di kota?"

Arkan menggeleng perlahan, lalu tersenyum tipis untuk menenangkan kekhawatiran di wajah gadis itu. "Bukan masalah buruk, Shas. Justru sebaliknya. Ini tentang masa depan kita berdua setelah semua badai kemarin reda."

Shasmira menunduk, merasakan pipinya kembali menghangat. Ia tahu arah pembicaraan Arkan sudah mulai mengerucut pada niat suci yang pernah disinggung oleh Kyai Ahmad beberapa pekan lalu.

"Kamu tahu, Shas," lanjut Arkan dengan suara baritonnya yang menenangkan. "Selama aku berkelana menuntut ilmu di kota besar, aku mencari banyak hal—pengetahuan, pengalaman, dan jati diri. Tapi begitu aku menginjakkan kaki kembali di Desa Sukamaju dan melihat matamu di bawah pohon beringin itu, aku sadar ke mana sebenarnya hatiku selama ini berlabuh."

Shasmira mengangkat wajahnya, menatap sepasang mata Arkan yang memancarkan kejujuran tanpa batas. Getaran halus di dadanya kian terasa nyata, membuat tenggorokannya mendadak kelu untuk berkata-kata.

"Aku tidak ingin hubungan kita sekadar digantung oleh waktu dan jarak lagi, Shas," tutur Arkan penuh keyakinan. "Aku ingin meminta izin resmi kepada Kyai Ahmad untuk melamarmu secara sah di hadapan keluarga dan warga desa."

Mendengar kalimat itu, dunia Shasmira seakan berhenti berputar sejenak. Segala penantian panjang, doa-doa di sepertiga malam, dan kenangan masa kecil mereka berputar dalam kilasan yang indah di kepalanya. Air mata kebahagiaan nyaris menetes di sudut matanya, namun ia berusaha menahannya dengan senyuman tulus.

"Arkan... kamu serius dengan ucapanmu?" tanya Shasmira lirih, memastikan bahwa apa yang ia dengar bukanlah sebuah mimpi di senja hari.

Sebelum Arkan sempat menjawab pertanyaan Shasmira, suara deheman yang akrab terdengar dari arah pintu depan. Kyai Ahmad baru saja pulang dari surau, melangkah masuk ke serambi sambil melepas peci hitamnya.

"Sepertinya ada percakapan yang sangat serius di sini antara kalian berdua," sapa Kyai Ahmad ramah, tersenyum penuh makna melihat raut wajah kedua anak muda itu yang tampak salah tingkah.

❖ ❖ ❖

Arkan langsung berdiri dari kursi bambunya, membungkuk hormat kepada Kyai Ahmad. "Assalamu'alaikum, Kyai. Maaf jika kedatangan saya sore ini lancang, tapi ada niat baik dan hajat besar yang ingin saya sampaikan langsung kepada Kyai selaku orang tua Shasmira."

Kyai Ahmad mengangguk tenang, lalu mendudukkan dirinya di kursi utama serambi. "Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Silakan duduk kembali, Nak Arkan. Tidak ada yang lancang dari sebuah niat baik. Katakan apa yang ingin kamu sampaikan."

Lihat selengkapnya