Sang Kembang Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #37

Refleksi di Balik Lembaran

Refleksi di Balik Lembaran Kitab Kuning

Suatu malam, di tengah keheningan kamarnya yang hanya diterangi cahaya lampu meja belajar, Shasmira menutup kitab kuning yang sedang ia telaah. Ia menarik napas panjang, merenungkan perjalanan batinnya selama beberapa minggu terakhir.

Lembaran-lembaran kertas catatan penelitian dan jilidan tebal tafsir Al-Qur'an berserakan rapi di atas meja kayu jati warisan ayahnya. Suara desau angin malam yang menembus celah-celah dinding kayu rumah panggung Desa Sukamaju menciptakan melodi kesunyian yang menenangkan. Di luar sana, jangkrik bersahutan di balik rimbunnya kebun pisang, mengiringi detik-detik malam yang merayap semakin larut.

Ia memikirkan kembali puluhan lamaran yang pernah datang ke rumahnya—dari anak saudagar kaya hingga pemuda dengan latar belakang mentereng. Dulu, banyak orang di desa menduga Shasmira memasang standar yang terlalu tinggi karena mendambakan kemapanan materi. Namun, malam ini, Shasmira menyadari betapa kelirunya anggapan tersebut. Hatinya tidak pernah terpikat oleh kilau harta atau tingginya status sosial para pelamar masa lalunya.

"Apakah aku dulu bersikap terlalu egois dengan menolak mereka semua?" gumam Shasmira pelan pada dirinya sendiri, jemarinya meraba sampul kulit kitab kuning yang baru saja ditutupnya.

Ia teringat masa-masa ketika ibunya, Siti, kerap membujuknya untuk mempertimbangkan lamaran dari putra seorang pemilik pabrik tekstil terkenal di kota kabupaten. Pemuda itu datang membawa mobil mewah, menjanjikan kehidupan serba berkecukupan, rumah megah, dan perhiasan berkilau. Namun, setiap kali berdialog dengan pemuda tersebut, Shasmira merasakan kekosongan yang amat dalam; tidak ada percikan ketenangan spiritual, tidak ada diskusi mengenai nilai-nilai keislaman, dan yang paling penting, tidak ada frekuensi batin yang sama.

"Harta bisa dicari, kenyamanan dunia bisa diusahakan, tapi ketenangan jiwa yang lahir dari pemahaman agama yang lurus tidak bisa dibeli dengan kekayaan apa pun," ucap Shasmira teringat pesan Kyai Ahmad kala itu, menasihatinya agar tidak terburu-buru melabuhkan pilihan hidup.

Kini, setelah Arkan hadir kembali dalam kehidupannya—membawa serta kesederhanaan, ketulusan pengabdian di desa, dan ketajaman visi keagamaan—Shasmira mengerti makna hakiki dari pilihan yang pernah ia ambil. Penolakan-penolakan di masa lalu bukanlah bentuk kesombongan, melainkan cara takdir menjaga hatinya agar tetap bersih, menanti seseorang yang seirama dalam perjuangan ilmu dan iman.

Ia bangkit dari kursi kayunya, melangkah mendekati jendela kamar yang terbuka separuh, menatap langit malam Sukamaju yang bertabur bintang gemilang. Bayangan senyum Arkan di teras rumah panggung terlintas di benaknya, menghadirkan kehangatan yang merasuk hingga ke lubuk hati paling dalam.

❖ ❖ ❖

Ketukan pelan di pintu kamar membuyarkan lamunan panjang Shasmira. Pintu berderit pelan, memperlihatkan sosok Siti yang membawa segelas susu hangat dengan nampan kecil di tangannya.

"Belum tidur juga, Shas? Ini sudah lewat tengah malam," tegur Siti ramah sambil melangkah masuk, meletakkan gelas susu di atas meja belajar putrinya.

Shasmira berbalik, tersenyum simpul menyambut kedatangan ibunya. "Belum, Bu. Masih ada beberapa catatan riset madrasah yang harus diselesaikan, sekaligus tadi sedang merenungkan banyak hal."

Siti duduk di tepi ranjang bambu berseprai putih bersih, memperhatikan wajah putrinya yang tampak menyiratkan kelelahan namun tetap tenang. "Merenungkan masa lalu lagi, ya? Ibu melihat akhir-akhir ini kau sering melamun sendiri di kamar."

Shasmira mendekati ibunya, lalu duduk bersimpuh di samping ranjang, memegang tangan Siti yang mulai keriput dimakan usia. "Ibu, apakah dulu keputusan Shasmira menolak semua lamaran yang datang ke rumah kita adalah pilihan yang tepat? Beberapa tetangga sempat berkata kalau Shasmira terlalu pemilih."

Siti tersenyum hangat, mengelus lembut rambut putrinya yang tertutup jilbab rumahan. "Nak, manusia boleh menilai dari apa yang tampak di permukaan. Mereka melihat kemewahan mobil para pelamar itu, tapi mereka tidak tahu apa yang bergejolak di dalam hatimu."

"Shas hanya merasa takut salah melangkah, Bu," aku Shasmira jujur, suaranya terdengar sedikit bergetar. "Menikah bukan sekadar hidup bersama, tapi tentang siapa yang akan menuntun langkah kita menuju surga-Nya."

"Dan Allah Maha Mengetahui ketulusan niatmu, Shasmira," timpal Siti menenangkan. "Lihatlah Arkan sekarang. Pemuda itu datang bukan membawa harta dunia yang fana, tapi membawa iman, ilmu, dan tekad nyata untuk membangun desa kita. Ayahmu dan Ibu tidak pernah salah merestui pilihanmu."

Shasmira mendengarkan kata-kata ibunya dengan mata berkaca-kaca, merasakan gelombang ketenangan yang luar biasa menghapus sisa-sisa keraguan di dadanya. Percakapan malam itu memperkuat keyakinannya bahwa jalan hidup yang ia tempuh bersama Arkan adalah takdir terindah yang telah digariskan Tuhan.

"Terima kasih, Ibu. Berkat doa dan restu kalian, Shas merasa memiliki sandaran terkuat di dunia ini," ucap Shasmira tulus sambil mencium punggung tangan ibunya takzim.

Siti tersenyum puas, memeluk pundak putrinya erat-erat sebelum akhirnya pamit kembali ke kamarnya untuk beristirahat, meninggalkan Shasmira dalam keheningan malam yang kembali merayap tenang.

❖ ❖ ❖

Keesokan paginya, kesibukan di kompleks Madrasah Al-Hikmah kembali dimulai dengan derap langkah para santri yang berbondong-bondong menuju aula utama untuk mengikuti halaqah pagi.

Arkan sudah tampak berdiri di serambi madrasah, mengenakan kemeja putih bersih berbalut rompi kain tenun lokal, tengah berdiskusi serius dengan beberapa pengurus yayasan mengenai draf kurikulum integrasi pesantren modern yang baru disahkan kementerian.

Shasmira melangkah mendekat membawa setumpuk buku referensi tebal di pelukannya. Begitu melihat suaminya, senyuman manis spontan terukir di bibirnya.

"Pagi sekali kau sudah di sini, Arkan. Apakah diskusi malam tadi dengan pengurus yayasan berjalan lancar?" sapa Shasmira ramah begitu tiba di hadapan suaminya.

Lihat selengkapnya