Menanti Langkah Berani Sang Pemuda---
Suasana senja di Desa Sukamaju kembali menawarkan ketenangan yang meresap hingga ke lubuk hati paling dalam, menyapu sisa-sisa debu jalanan desa yang diterpa angin kemarau. Di teras belakang rumah Kyai Ahmad, di bawah naungan rindangnya pohon sawo tua yang setia menyaksikan perjalanan waktu, Shasmira duduk seorang diri menikmati secangkir teh poci hangat. Warna langit di ufuk barat berubah perlahan dari biru jernih menjadi jingga kemerahan, memantulkan bias cahaya yang indah di atas permukaan air sungai kecil yang mengalir di batas pekarangan. Hatinya yang dulu sempat diwarnai oleh kebimbangan kini telah menemukan muara keteduhan yang sejati.
Kini, Shasmira tidak lagi merasa gelisah menghadapi hari esok. Ia menyerahkan segalanya kepada ketentuan Sang Pencipta, sambil meyakini bahwa sebentar lagi sebuah babak baru yang sakral akan segera dimulai. Segala badai gosip dari warung kopi, tekanan surat kaleng dari pihak pemodal, hingga keraguan masa lalu telah melebur menjadi abu, menyisakan keyakinan yang kokoh bahwa takdir selalu memiliki cara yang paling indah untuk mempertemukan dua hati yang dijaga dalam kesucian niat.
Langkah kaki ringan yang sudah sangat ia kenal terdengar mendekat dari arah jalan setapak samping rumah. Arkan muncul dengan mengenakan kemeja katun putih polos dan celana bahan gelap, membawa sebuah buku catatan kecil di tangan kanannya. Pemuda itu tersenyum hangat begitu mendapati Shasmira sedang menantangnya dengan tatapan mata yang penuh ketenangan.
"Sore yang sangat tenang untuk ukuran desa yang sempat gempar beberapa waktu lalu, Shasmira," sapa Arkan ramah sambil menarik kursi bambu di seberang meja dan duduk dengan sopan.
Shasmira membalas senyuman itu dengan binar mata yang memancarkan kehangatan. "Ketenangan selalu datang setelah badai besar berlalu, Arkan. Warga desa kini sudah kembali sibuk dengan sawah dan ladang mereka masing-masing."
"Dan kita juga bisa bernapas sedikit lebih lega setelah seluruh draf riset pelestarian adat diserahkan secara resmi ke kantor kabupaten," timpal Arkan sambil meletakkan buku catatannya di atas meja. Ia menatap Shasmira lekat-lekat, menyadari betapa anggun dan teguhnya wanita di hadapannya itu.
Ia tahu, Arkan bukanlah tipe pria yang akan membiarkan waktu berlalu begitu saja tanpa kejelasan. Di balik ketenangan sikap Arkan setiap sore di teras rumah, Shasmira dapat merasakan bahwa pemuda itu sedang bersiap mengumpulkan keberanian untuk mengetuk pintu utama—bukan lagi sekadar sebagai sahabat masa kecil, melainkan sebagai seorang pria yang ingin meminta restu kepada Kyai Ahmad untuk meminangnya secara terhormat di hadapan para saksi.
❖ ❖ ❖
Keheningan sempat merayap di antara mereka selama beberapa detik, diisi hanya oleh suara desau angin lereng bukit dan kicauan burung merpati yang kembali ke sarang. Shasmira menundukkan pandangannya sejenak, merapikan lipatan kerudung abu-abunya untuk menyembunyikan rona merah yang tiba-tiba merayap di pipinya. Ia tahu betul gerak-gerik Arkan belakangan ini menyiratkan sebuah keseriusan yang luar biasa.
"Arkan," panggil Shasmira pelan, memecah kesunyian sore. "Apakah semua urusan akademikmu di kampus kota besar sudah benar-benar selesai? Tidak ada lagi urusan tertunda yang mengharuskanmu bolak-balik dalam waktu dekat?"
Arkan tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu. Ia merapikan letak buku catatannya, lalu menegakkan duduknya menghadap Shasmira. "Ujian sidang akhirku sudah dinyatakan lulus dengan predikat memuaskan, Shasmira. Wisuda tinggalku dijadwalkan bulan depan, tetapi aku memilih untuk menghabiskan lebih banyak waktu di sini, menyelesaikan apa yang seharusnya menjadi prioritas utamaku."
Jantung Shasmira berdegup sedikit lebih kencang. Ia mengangkat wajahnya, menatap manik mata Arkan yang memancarkan keteguhan hati seorang pria dewasa. "Prioritas... apa maksudmu, Arkan?"
"Kamu tahu persis apa maksudku, Shasmira," jawab Arkan dengan suara tenang namun penuh penekanan yang sarat makna. "Selama bertahun-tahun merantau, mengejar ilmu di kota besar, dan bergelut dengan berbagai teori sosiologi masyarakat, aku selalu bertanya-tanya di mana tempat peristirahatan terakhir hatiku. Dan jawabannya selalu sama: di sini, di tanah Sukamaju, di sisimu."
Pernyataan itu meluncur begitu saja tanpa keraguan sedikit pun. Udara di teras belakang terasa semakin hangat, bukan karena cuaca sore, melainkan karena kejujuran rasa yang terpancar dari setiap patah kata yang diucapkan Arkan. Shasmira merasakan dadanya bergemuruh hebat; segala penantian panjang dan kesabaran yang ia simpan rapat-rapat kini mendapati jawaban yang sangat mulia.
"Kamu tidak pernah berubah, Arkan," ucap Shasmira dengan suara sedikit bergetar. "Selalu penuh dengan kejutan ketulusan sejak kita masih berlari-lari kecil di bawah pohon sawo ini."
"Aku tidak ingin lagi menyembunyikan apa yang kurasakan, Shasmira," lanjut Arkan tulus. "Waktu perpisahan belasan tahun lalu mengajarkanku satu hal: bahwa hidup terlalu singkat untuk menunda sebuah kebaikan. Dan niat baik tidak boleh dibiarkan mengambang tanpa kejelasan."
❖ ❖ ❖
Percakapan sore itu semakin mempertegas arah hubungan mereka. Di balik dinding ruang tamu, Kyai Ahmad yang kebetulan sedang merapikan kitab-kitab tua mendengar setiap patah kata yang diucapkan oleh Arkan. Sang kiai sepuh tidak merasa terganggu; sebaliknya, senyuman tipis terukir di wajah tuanya, menyadari bahwa pemuda pilihan putrinya itu memiliki keberanian moral yang patut diacungi jempol.
"Langkah apa yang akan kamu ambil setelah ini, Arkan?" tanya Shasmira dengan nada penasaran yang lembut, mencoba menarik pembicaraan ke ranah yang lebih nyata. "Abah tentu memperhatikan setiap gerak-gerikmu selama berada di rumah ini."
Arkan menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Sorot matanya menunjukkan kesiapan mental yang matang. "Aku berencana menghadap Kyai Ahmad malam ini juga, Shasmira. Aku ingin berbicara dari hati ke hati, menyampaikan niat suciku untuk memintamu secara resmi."
Mendengar kata-kata itu, Shasmira tertegun sejenak. Meskipun ia sudah menduga arah pembicaraan tersebut, kepastian waktu yang diucapkan Arkan tetap saja mengirimkan getaran hebat ke seluruh rongga dadanya.