
Bisik-Bisik di Sudut Pasar Desa
Kedekatan antara Shasmira dan Arkan yang kian intens menghabiskan sore bersama di teras rumah panggung dan berjalan beriringan pulang dari Madrasah Al-Hikmah tidak luput dari pengamatan mata jeli warga Desa Sukamaju. Seperti angin yang membawa debu halus di musim kemarau, rumor mulai berembus di antara deretan lapak pedagang di pasar desa, dari lapak sayur Mbok Minah hingga kios kelontong milik Pak Haji Umar, dan terus berlanjut ke beranda-beranda rumah warga menjelang maghrib.
Beberapa warga mulai membicarakan intensitas pertemuan kedua anak muda tersebut dengan berbagai sudut pandang yang beragam. Ada yang memandang dengan senyuman restu penuh kehangatan, mengingat bagaimana Arkan telah berjuang melindungi desa dari ancaman sindikat beberapa waktu lalu. Namun, tidak sedikit pula yang melontarkan kasak-kusuk bernada miring dan penuh prasangka. Mengingat status Shasmira sebagai putri seorang Kyai sekaligus tokoh agama yang sangat dihormati di desa itu, setiap gerak-geriknya selalu menjadi sorotan publik yang sangat ketat dan tanpa ampun. Bisik-bisik mulai mempertanyakan apakah kedekatan itu masih berada dalam batas-batas syariat atau sudah melampaui norma adat setempat yang menjunjung tinggi kehormatan keluarga.
"Kamu dengar sendiri kan apa kata orang-orang di pasar tadi pagi, Shas?" bisik Laras, teman akrab Shasmira, saat mereka sedang membereskan buku-buku di kantor madrasah.
Shasmira menghentikan sejenak tangannya yang sedang merapikan tumpukan absensi santri. Wajahnya tampak tenang, meskipun ada sedikit tarikan garis kekhawatiran di sudut bibirnya. "Biarkan saja, Laras. Orang boleh berbicara apa saja sesuai sudut pandang mereka. Yang terpenting, niat kami berdua bersih dan selalu dijaga dalam koridor yang benar."
"Tapi tetap saja, Shas. Namamu dan nama keluargamu sedang jadi bahan gunjingan di warung kopi dekat balai desa," lanjut Laras dengan nada prihatin. "Bibi Surti bahkan bilang kalian terlalu sering berdua tanpa ada pendamping."
Shasmira menghela napas panjang, mencoba meredam gemuruh di dalam dadanya. "Ayah dan Ibu sudah tahu persis batasan-batasan kami. Arkan juga berniat melamar secara resmi dalam waktu dekat. Jadi, aku tidak perlu ambil pusing dengan omongan di luar sana."
Di tempat terpisah, di sebuah kedai kopi sederhana di sudut pasar desa, Arkan mendapati dirinya menjadi topik utama pembicaraan beberapa orang warga paruh baya yang duduk di meja sebelah. Meskipun mereka tidak menyebut namanya secara langsung, nada suara menyindir itu cukup jelas terdengar oleh telinga tajam sang pemuda.
"Zaman sekarang anak muda memang bebas ya, ke sana-kemari berduaan terus padahal belum sah," ucap salah seorang warga bernama Mardani dengan suara disengaja agar terdengar oleh Arkan.
Joko, yang duduk semeja dengan Arkan, mengepal tangan di atas meja karena emosi hampir meledak. "Kurang ajar sekali mereka. Biar aku beri pelajaran bapak-bapak itu, Arkan!"
Arkan dengan cepat menahan lengan Joko, menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum tenang. "Sudah, Jok, biarkan saja. Kita tidak bisa menutup mulut semua orang di desa ini. Biarlah tindakan nyata kita nanti yang membuktikan kebenarannya."
❖ ❖ ❖
Kasak-kusuk di sudut pasar desa itu akhirnya sampai juga ke telinga Kyai Ahmad melalui laporan Pak RT yang merasa tidak enak hati. Sore itu, seusai salat Ashar berjemaah di surau, Pak RT mendekati Kyai Ahmad di serambi surau dengan wajah serba salah.
"Assalamu'alaikum, Kyai. Maaf kalau kelancangan saya ini membuat tidak nyaman," ucap Pak RT memulai pembicaraan dengan nada berhati-hati.
Kyai Ahmad menoleh, tersenyum ramah sambil melipat sajadah kecilnya. "Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Pak RT. Silakan duduk. Ada hal penting apa yang ingin disampaikan sampai wajahmu tampak begitu muram?"
Pak RT menarik napas panjang, merapikan duduknya di atas balai-balai bambu. "Begini, Kyai... akhir-akhir ini di pasar dan pos ronda mulai ramai kasak-kusuk warga mengenai kedekatan Nak Arkan dan Shasmira. Ada beberapa warga yang merasa risih melihat mereka sering berjalan beriringan dari madrasah."
Mendengar laporan itu, Kyai Ahmad tidak lantas marah atau tersinggung. Wajah pria paruh baya itu tetap tenang, memancarkan kearifan seorang pemimpin spiritual desa.
"Namanya juga manusia, Pak RT. Selalu ada yang melihat dengan kacamata prasangka, dan ada pula yang melihat dengan kacamata kasih sayang," tanggap Kyai Ahmad lembut. "Apakah ada pelanggaran syariat yang mereka lakukan selama ini?"
"Oh, tentu saja tidak ada, Kyai!" jawab Pak RT cepat membela. "Saya tahu persis Nak Arkan pemuda yang baik dan menjunjung tinggi norma agama. Hanya saja, omongan di luar sana mulai liar, dan saya khawatir hal itu mencoreng nama baik keluarga Kyai."
"Terima kasih atas kepedulian dan peringatannya, Pak RT," ujar Kyai Ahmad tulus. "Insya Allah, saya dan keluarga tahu betul batasannya. Dan justru karena itulah, niat baik Nak Arkan untuk segera melamar secara resmi akan segera kita wujudkan dalam waktu dekat, agar fitnah-fitnah itu padam dengan sendirinya."
Sementara itu, di halaman rumah panggung, Shasmira sedang menyiram tanaman bunga di pot bambu ketika Arkan datang membawa dokumen administrasi madrasah. Langkah pemuda itu tampak lebih cepat dari biasanya, menyiratkan ada hal yang mengganggu pikirannya.
"Assalamu'alaikum, Shas," sapa Arkan pelan saat berdiri di dekat pagar bambu.
Shasmira meletakkan gembor airnya, lalu menyambut Arkan dengan senyuman tipis. "Wa'alaikumussalam. Wajahmu tampak tegang, Arkan. Ada apa? Apakah ada masalah lagi di madrasah?"
Arkan menggeleng perlahan, meletakkan dokumen di atas meja teras. "Bukan soal madrasah, Shas. Tadi di perjalanan ke sini, aku mendengar beberapa orang di warung pasar membicarakan kedekatan kita dengan nada miring. Aku tidak suka kalau namamu jadi bahan gunjingan orang banyak."
Shasmira justru tersenyum menenangkan, mendekati Arkan dengan tatapan mata yang penuh keyakinan. "Kamu terganggu dengan omongan mereka? Bukankah kita sudah membahas ini? Orang-orang hanya melihat apa yang tampak di permukaan tanpa tahu niat suci kita."
"Aku tidak peduli omongan mereka tentang diriku, Shas. Tapi aku peduli pada kehormatanmu dan keluargamu di desa ini," tegas Arkan dengan rahang mengeras.
❖ ❖ ❖
Kekhawatiran Arkan beralasan, namun Shasmira memiliki keteguhan mental yang luar biasa berkat didikan ayahnya. Gadis itu menyentuh pelan lengan jaket Arkan, menenangkan gejolak emosi di dada sang pemuda.