Pergumulan Batin di Balik Meja Belajar---
Malam merangkak semakin larut, membawa kesunyian yang pekat menyelimuti Desa Sukamaju. Di dalam kamar indekosnya yang sederhana di sudut desa, Arkan sering kali terjaga hingga larut malam. Cahaya kuning temaram dari lampu meja belajar berukuran kecil menjadi satu-satunya sumber penerangan di ruangan sempit itu. Di hadapannya, lembaran draf skripsi antropologi dan catatan riset lapangan tentang Desa Sukamaju berserakan tak beraturan di atas meja kayu yang mulai mengelupas catnya. Namun, pikiran pemuda itu sama sekali tidak sedang melayang pada urusan akademisnya. Tumpukan kertas berisi teori sosiologi pedesaan dan metodologi penelitian itu seolah kehilangan makna di hadapan badai batin yang sedang menghantam isi kepalanya.
Arkan sedang bergulat hebat dengan perasaannya sendiri. Di satu sisi, ia menyadari realitas statusnya: ia hanyalah seorang mahasiswa tingkat akhir yang belum sepenuhnya menyelesaikan studi, belum memiliki pekerjaan tetap, dan secara materi masih jauh dari kata mapan untuk menghidupi seorang istri. Di sisi lain, perasaannya kepada Shasmira tumbuh begitu kuat, mendesak, dan tulus hingga ia merasa tidak sanggup lagi menyimpannya seorang diri di dalam dada. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan senyum lembut wanita itu di bawah pohon sawo selalu hadir, menuntut sebuah kepastian yang nyata di tengah keterbatasan dunianya sebagai seorang pemuda perantau.
Ia menarik napas panjang, lalu menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi plastik yang berderit pelan. Tangannya memijat pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri akibat kurang tidur selama beberapa malam terakhir. Beban moral sebagai seorang intelektual muda bertabrakan keras dengan kenyataan ekonomi yang dihadapinya setiap hari.
"Bagaimana mungkin aku bisa melangkah lebih jauh meminang Shasmira jika masa depanku sendiri masih penuh dengan tanda tanya besar?" gumam Arkan pelan pada dirinya sendiri, suaranya tenggelam di antara desau angin malam yang menembus celah jendela kayu.
Di luar kamar, jangkrik mengerik bersahutan, menemani keheningan yang semakin mencekam. Arkan menatap lembar demi lembar catatan risetnya, mencari secercah kekuatan dari hasil kerja keras yang telah ia curahkan untuk tanah kelahiran itu. Namun, keraguan di dadanya tetap saja membuncah, mendesak batasan logika rasional yang selama ini ia pelajari di bangku kuliah.
❖ ❖ ❖
Pergumulan batin itu semakin menghimpit dada Arkan ketika ia teringat kembali pada pertemuannya dengan Kyai Ahmad beberapa hari lalu. Meskipun sang kiai sepuh telah memberikan restu secara lisan dan menerima kedatangannya dengan penuh kehangatan, rasa tanggung jawab sebagai seorang pria terhormat menuntutnya untuk tidak datang dengan tangan kosong. Shasmira adalah putri kesayangan seorang tokoh masyarakat yang sangat dihormati di Sukamaju—seorang wanita yang telah menunjukkan keteguhan luar biasa dalam menjaga kehormatan diri di tengah badai gosip kampung.
Arkan bangkit dari kursinya, berjalan mondar-mandir di dalam kamar indekos yang sempit itu sambil melipat kedua tangan di dada. Langkah kakinya berderap pelan di atas lantai semen kasar.
"Apakah aku harus menunggu hingga aku benar-benar mapan di kota besar, mendapatkan pekerjaan tetap, dan mengumpulkan harta yang cukup?" tanyanya dalam hati dengan nada penuh kebimbangan. "Tetapi bagaimana jika dalam masa menunggu itu, takdir berkata lain dan Shasmira dipinang oleh pria lain yang jauh lebih mapan dan siap secara materi?"
Pikiran itu langsung menghujam hatinya seperti tusukan belati yang tajam. Rasa cemburu dan ketakutan kehilangan merasuk ke dalam relung jiwanya, membuat dadanya terasa sesak. Ia menyadari bahwa cinta yang tulus tidak sekadar diukur dari seberapa banyak materi yang bisa dikumpulkan, melainkan dari seberapa besar keberanian untuk mengambil tanggung jawab di hadapan Allah SWT.
Pintu kamar indekosnya diketuk pelan dari luar, membuyarkan lamunan panjang yang menyiksa pikirannya. Arkan mengerjap beberapa kali, lalu melangkah pelan membuka pintu kayu tersebut.
Farhan berdiri di ambang pintu dengan membawa dua cangkir kopi hitam hangat di atas nampan kecil. Wajah pemuda itu tampak tenang, memancarkan aura kedewasaan yang selalu berhasil menenangkan siapa saja yang berada di dekatnya.
"Belum tidur juga, Arkan?" sapa Farhan ramah sambil melangkah masuk tanpa menunggu persetujuan, menempatkan nampan di atas meja belajar yang dipenuhi tumpukan draf skripsi. "Aku melihat lampu kamarmu masih menyala terang dari kejauhan."
Arkan menutup kembali pintu kamarnya, mengulas senyum tipis yang tampak dipaksakan. "Ah, Farhan. Masih banyak catatan riset yang harus dirapikan sebelum dikonsultasikan ke dosen pembimbing minggu depan."
❖ ❖ ❖
Farhan menarik kursi plastik di sebelah meja belajar, duduk dengan santai sambil menyeruput kopi hangatnya. Ia menatap Arkan lekat-lekat, menangkap sorot mata lelah dan beban batin yang terpancar jelas di wajah sahabatnya itu. Sebagai seorang pria yang telah lebih dulu mengarungi lika-liku kehidupan rumah tangga, Farhan membaca dengan mudah apa yang sedang berkecamuk di dalam kepala Arkan.
"Jangan berbohong padaku, Arkan," ucap Farhan tenang namun tegas. "Kertas-kertas skripsi itu tidak tersentuh sejak satu jam yang lalu. Kamu sedang memikirkan hal lain, bukan tentang kuliahmu, melainkan tentang Shasmira."
Arkan tertegun sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu duduk kembali di kursi kerjanya, menundukkan kepala sambil menatap cangkir kopi yang baru saja dibawa Farhan. "Apakah sebegitu mudahnya terbaca, Farhan?" tanya Arkan dengan suara parau.
"Sangat mudah bagi seseorang yang pernah berada di posisi yang sama," jawab Farhan bijak. "Menghadapi seorang wanita seperti Shasmira, dengan segala ketulusan dan prinsip hidupnya, memang melahirkan ketakutan tersendiri di dalam dada seorang pemuda. Kamu merasa belum cukup siap, belum cukup mapan secara materi, dan khawatir tidak bisa memberikan kehidupan yang layak."
Arkan mengangguk pelan, mengakui kebenaran ucapan sahabatnya itu tanpa ada niat untuk menutup-nutupinya lagi. "Tepat sekali, Farhan. Aku merasa seperti pria yang terlalu berani bermimpi. Aku hanya mahasiswa tingkat akhir yang hidup berpindah-pindah, sementara Shasmira adalah putri seorang kiai terhormat di desa ini. Rasanya tidak pantas jika aku memintanya menunggu tanpa kepastian materi yang jelas."