Cinta yang Terlalu Besar untuk Dipendam
Matahari sore di Desa Sukamaju memancarkan bias keemasan yang menembus celah-celah daun pohon beringin tua di tepi lapangan desa. Suasana sore itu terasa begitu tenang, diiringi angin sepoi-sepoi yang membawa aroma khas jerami kering dari sawah-sawah penduduk yang baru saja selesai dipanen. Di teras rumah panggung Kyai Ahmad, Arkan duduk termenung seorang diri, menatap cangkir teh jahe yang uapnya perlahan menipis di udara.
Pikiran pemuda itu berkecamuk di antara rasa takut akan ketidakpastian masa depan dan desakan perasaan yang sudah lama ia simpan rapat-rapat di lubuk hatinya. Namun, setiap kali keraguan itu merayap, bayangan senyum teduh Shasmira dan keteguhan iman gadis itu saat mengajar di madrasah melintas di benaknya. Arkan menyadari bahwa cinta yang ia miliki bukanlah sekadar ketertarikan sesaat, melainkan sebuah panggilan jiwa yang terikat sejak masa kanak-kanak di bawah pohon beringin desa.
"Apa yang sedang kau pikirkan sedalam itu, Arkan?" suara lembut Siti memecah keheningan sore, membuyarkan lamunan Arkan saat ibu Shasmira itu datang membawa sepiring pisang goreng hangat.
Arkan tersentak kecil, lalu segera berdiri membungkuk takzim menyambut kedatangan Siti. "Ah, tidak apa-apa, Nyai. Saya hanya sedang merenungkan beberapa program riset madrasah dan arah masa depan desa ini."
Siti meletakkan piring di atas meja rotan, lalu tersenyum arif menatap pemuda yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri itu. "Jangan terlalu membebani pikiranmu, Nak. Hidup di desa ini mengajarkan kita untuk ikhlas dan tawakal, tapi juga berani mengambil keputusan saat waktunya tiba."
Arkan mengangguk pelan, mencerna setiap kata yang diucapkan oleh ibu Shasmira. Ia teringat petuah bijak orang tua terdahulu bahwa rezeki dan kemapanan adalah urusan Sang Pencipta, sementara keberanian mengambil langkah dalam ikatan yang halal adalah kewajiban seorang lelaki. Menunda niat baik hanya karena merasa belum sempurna secara materi justru dikhawatirkan membuka celah bagi keraguan atau fitnah yang lebih besar. Cinta Arkan pada Shasmira sudah terlampau besar untuk terus dibungkam di balik kedok persahabatan.
"Nyai," ucap Arkan ragu-ragu namun penuh ketegasan di dalam suaranya. "Selama ini saya selalu merasa tidak pantas bersanding dengan Shasmira yang begitu mulia ilmunya. Tapi diam-diam menyimpan rasa ini justru membuat jiwa saya tidak pernah tenang."
Siti tersenyum hangat, menepuk pelan pundak Arkan. "Ketulusan niatmu sudah lama terbaca oleh kami, Arkan. Tinggal bagaimana keberanianmu menyatakannya secara langsung kepada Kyai Ahmad."
Percakapan sore itu memberi dorongan batin yang luar biasa bagi Arkan. Bayang-bayang keraguan yang sempat menggelayuti pikirannya seketika menguap, bergantikan tekad baja untuk melangkah menuju gerbang takdir yang halal.
❖ ❖ ❖
Menjelang maghrib, sesaat setelah salat ashar berjemaah di surau madrasah, Arkan memutuskan untuk menemui Shasmira yang sedang merapikan buku-buku catatan kurikulum di serambi perpustakaan. Langkah kakinya terasa mantap, membawa serta degup jantung yang berpacu lebih cepat dari biasanya.
Shasmira, yang sedang fokus memilah lembaran arsip riset digital, mendongak saat mendengar derap langkah mendekat. Ia menyunggingkan senyum ramah begitu melihat Arkan berdiri di ambang pintu perpustakaan.
"Sore sekali kau selesai dengan urusan karang taruna, Arkan? Biasanya sampai menjelang maghrib baru kembali ke madrasah," sapa Shasmira lembut sambil merapikan jilbab abu-abunya.
Arkan melangkah masuk, menarik kursi kayu di seberang meja Shasmira, lalu duduk dengan pandangan lurus menatap wanita di hadapannya itu. "Pekerjaan lapangan sudah beres, Shas. Dan ada hal penting yang ingin aku bicarakan, hal yang sudah lama ingin aku utarakan tanpa penghalang apa pun."
Shasmira menghentikan gerakannya, merasakan ada ketegangan halus yang tiba-tiba menyergap udara perpustakaan. Sorot mata Arkan sore ini berbeda; jauh lebih serius, dalam, dan penuh kepastian.
"Bicara tentang apa, Arkan? Tampak sangat penting sekali," tanya Shasmira dengan suara agak bergetar, mencoba menyembunyikan rasa salah tingkahnya.
Arkan menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh keberanian yang ia kumpulkan sepanjang sore di teras rumah panggung. "Shas, kita sudah bertahun-tahun bersahabat, berbagi mimpi, berdiskusi di bawah temaram senja, hingga bersama-sama membangun desa ini. Tapi aku sadar, aku tidak bisa selamanya bersembunyi di balik status sebagai rekan diskusimu."
Shasmira menunduk, meremas ujung jemarinya di atas tumpukan buku catatan. Jantungnya berdegup kencang, seolah bisa mendengar detaknya sendiri.
"Arkan..." bisik Shasmira tertahan, mencoba mencari kalimat untuk merespons.
"Aku mencintaimu, Shasmira," ucap Arkan tegas, tanpa sedikit pun keraguan di dalam suaranya. "Bukan sekadar rasa kagum masa kecil, tapi cinta yang matang karena Allah. Aku ingin memintamu kepada Kyai Ahmad untuk menjadi pendamping hidupku secara sah."
Suasana di dalam perpustakaan mendadak senyap. Angin sore berembus pelan menembus jendela kaca, membawa suara gemericik air surau dari kejauhan. Shasmira terpaku, air matanya tiba-tiba menetes perlahan membasahi pipinya—bukan karena sedih, melainkan karena kelegaan luar biasa mendapati ketulusan yang selama ini ia nantikan akhirnya terucap nyata.
❖ ❖ ❖
Shasmira mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam mata Arkan. Kilau ketulusan dan kejujuran terpancar jelas dari pandangan pemuda tersebut, menghapus segala sisa-sisa keraguan yang pernah singgah di hatinya.
"Arkan, kau tahu bahwa pernikahan bukanlah keputusan yang ringan," ucap Shasmira dengan suara lembut namun tegas. "Kita tidak hanya menyatukan dua hati, tapi juga menyatukan visi pengabdian untuk umat dan madrasah ini."
Arkan mengangguk penuh takzim. "Aku sangat tahu itu, Shas. Justru karena aku ingin membersamai perjuanganmu di jalan Allah, aku berani melangkah menghadap ayahmu malam ini juga."