Sang Kembang Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #49

Sore yang Syahdu

Sore yang Syahdu di Serambi Rumah Panggung

Matahari perlahan bergerak turun ke ufuk barat, membiaskan cahaya keemasan yang hangat dan lembut ke seluruh penjuru Desa Sukamaju. Sore itu, Desa Sukamaju diselimuti oleh ketenangan yang tidak biasa—sebuah kedamaian hakiki setelah sekian lama diuji oleh berbagai teror, fitnah, prasangka, dan pergulatan batin yang melelahkan. Angin pegunungan berhembus pelan dari arah bukit pinus, membawa kesejukan yang menyapu dahan-dahan pohon kelapa dan halaman luas rumah panggung Kyai Ahmad. Suasana terasa begitu syahdu, seolah alam semesta pun turut bersujud mensyukuri ketenteraman yang kini kembali bertahta di tanah kelahiran tercinta.

Di serambi depan rumah panggung yang beralaskan papan kayu jati tua, Shasmira duduk tenang di kursi rotan kesayangannya. Di hadapannya, sebuah meja kayu kecil menampakkan beberapa buku catatan mengajarnya di Madrasah Al-Hikmah yang sedang ia rapikan dengan teliti. Di samping tumpukan buku itu, secangkir teh poci hangat mengepulkan uap tipis, menyebarkan aroma melati yang menenangkan jiwa. Shasmira menarik napas dalam-dalam, meresapi setiap detik keheningan sore yang menghadirkan rasa syukur luar biasa di dalam dadanya. Hidupnya kini telah kembali pada jalurnya—penuh berkah, bersih dari segala fitnah, dan dinaungi oleh keridhaan Sang Pencipta.

"Alhamdulillah..." bisik Shasmira pelan pada dirinya sendiri, merapikan helai jilbabnya yang sempat tertiup angin sore.

Tidak berselang lama, di tengah keheningan sore yang menenteramkan itu, terdengar derap langkah kaki yang mantap namun terdengar berhati-hati mendekati area tangga teras rumah panggung. Shasmira mendongak perlahan dari meja catatannya, mengalihkan pandangannya ke arah tangga kayu.

Di ambang batas teras, Shasmira mendapati Arkan berdiri di hadapannya dengan postur tegap dan senyuman tipis yang menyungging di bibirnya. Ada binar ketegasan yang sangat berbeda di mata pemuda itu hari ini—bukan lagi kilatan keraguan atau kecemasan seorang pemuda perantauan yang cemas akan masa depan, melainkan ketenangan mutlak dari seorang lelaki dewasa yang telah membulatkan tekad secara penuh karena Allah SWT.

"Assalamu’alaikum, Shasmira," sapa Arkan dengan nada suara yang terdengar sangat lembut, tenang, dan sarat akan penghormatan.

"Wa’alaikumussalam warahmatullah, Arkan," jawab Shasmira menyambut dengan anggukan kepala dan senyuman ramah yang tak kalah tulus. "Silakan naik, mari silakan duduk."

Arkan melangkah pelan menaiki anak tangga kayu, lalu mengambil tempat duduk di kursi rotan berhadapan langsung dengan meja tempat Shasmira merapikan buku catatannya. Suasana sore itu langsung terasa begitu hangat, diwarnai oleh kedewasaan sikap dan kematangan jiwa di antara keduanya.

❖ ❖ ❖

Arkan meletakkan sebuah map tipis di atas meja kayu, lalu menatap lurus ke arah Shasmira dengan tatapan yang memancarkan kejujuran mendalam. Selama beberapa saat, keheningan sempat menyelimuti serambi rumah panggung, hanya ditemani oleh suara desau angin sore yang menggesek dedaunan di halaman.

"Kelihatannya ada hal penting yang ingin kamu bicarakan sore ini, Arkan," buka Shasmira memecah keheningan, menatap manik mata sahabat masa kecilnya itu dengan sorot mata tenang penuh pengertian.

Arkan mengangguk pelan, menarik napas sejenak untuk menata kalimatnya. "Iya, Shas. Aku datang ke sini menemui Abah dan juga dirimu untuk menyampaikan sebuah keputusan besar dalam hidupku. Keputusan yang sudah kupikirkan matang-matang di sepertiga malam, memohon petunjuk langsung kepada Allah."

Shasmira mendengarkan dengan penuh saksama. Ia tahu betul bahwa Arkan adalah tipe pria yang tidak pernah mengambil keputusan secara gegabah. Setiap langkah yang diambil selalu dipikirkan dengan landasan moral dan agama yang sangat kuat.

"Selama aku kembali ke desa ini, Shas," lanjut Arkan dengan suara yang terdengar semakin mantap, "aku menyadari bahwa akar hidupku memang ada di Sukamaju. Tapi perjalananku di kota besar kemarin juga memberikan amanah dan jaringan relasi yang luas. Dan sekarang, tugasku dalam merintis program riset ekonomi kreatif desa serta membina para pemuda dusun telah sampai pada tahap yang stabil."

"Alhamdulillah, semua itu berkat kerja keras dan keikhlasanmu membimbing anak-anak muda kita, Arkan," puji Shasmira tulus. "Warga desa sangat berterima kasih atas semua dedikasi yang kamu berikan."

"Tapi bukan itu satu-satunya hal yang ingin kusampaikan hari ini, Shasmira," potong Arkan lembut, membuat jantung Shasmira berdegup sedikit lebih kencang, bukan karena rasa cemas, melainkan karena ia menangkap keseriusan mutlak dari pancaran mata Arkan.

Arkan menundukkan pandangannya sejenak sebelum kembali menatap tajam namun teduh ke arah Shasmira. "Aku ingin menuntaskan sebuah babak panjang dalam hidupku dengan cara yang diridhai Allah. Aku ingin berpamitan secara resmi dari peran sahabat masa kecilmu, untuk melangkah ke babak baru dengan niat yang suci, menjaga batasan, dan melanjutkan pengabdian di jalan-Nya dengan lembaran hidup yang bersih."

Shasmira terpaku sejenak, meresapi setiap makna di balik kalimat-kalimat yang diucapkan oleh Arkan. Ia tahu persis ke mana arah pembicaraan tersebut bermuara, dan di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasakan kedamaian yang luar biasa karena ia tahu bahwa Arkan berbicara dengan kejujuran mutlak seorang lelaki sejati.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya