Sang Kembang Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #51

Komitmen Suci

Komitmen Suci Tanpa Janji-Janji Palsu

Sore itu, di bawah temaram cahaya matahari yang mulai tenggelam di balik punggung Gunung Sukamaju, suasana di beranda rumah panggung Kyai Ahmad terasa jauh lebih syahdu dari biasanya. Aroma teh melati hangat yang baru diseduh menguar lembut di udara, berpadu dengan desiran angin pegunungan yang menyejukkan. Di sanalah Arkan duduk berhadapan langsung dengan Shasmira, memecah kesunyian yang sejak tadi menyelimuti ruang terbuka tersebut dengan ketulusan yang terpancar dari sorot matanya.

Arkan tidak menawarkan kemewahan duniawi atau janji-janji muluk tentang istana megah di kota besar yang penuh dengan fatamorgana. Dengan kerendahan hati yang luar biasa dan ketenangan suara yang menyejukkan jiwa, ia menyampaikan niat sucinya di hadapan wanita yang paling ia kagumi dalam hidupnya.

"Aku tidak membawa harta yang berlimpah, Shasmira. Aku hanya seorang pemuda yang sedang merajut masa depan dengan ilmu dan keringatku sendiri," tutur Arkan dengan penuh penghayatan, menatap lurus ke dalam mata sang gadis tanpa keraguan sedikit pun. "Namun, jika engkau berkenan, aku ingin menawarkan sebuah komitmen di jalan Allah. Aku ingin menjadi imam yang menjaga kehormatanmu, menuntun langkahmu dalam ketaatan, dan berjalan beriringan bersamamu menuju rida-Nya. Menua bersama dalam kesederhanaan yang penuh berkah."

Kata-kata itu meluncur begitu saja tanpa ada kepura-puraan atau polesan kata yang berlebihan. Di telinga Shasmira, kalimat tersebut terdengar jauh lebih indah, kokoh, dan menenangkan daripada ribuan janji manis duniawi yang pernah ia dengar dari para pelamar sebelumnya. Shasmira merasakan getaran halus yang hangat merayap di dadanya, membuat matanya berkaca-kaca menahan haru.

"Arkan..." bisik Shasmira lirih, suaranya sedikit bergetar karena luapan emosi yang membuncah di dalam hatinya. "Kamu tahu persis bahwa aku tidak pernah mencari kemewahan harta dunia. Bagi seorang perempuan, tidak ada hal yang lebih berharga di dunia ini selain mendapatkan seorang imam yang takut kepada Allah dan tulus menjaga agama serta kehormatannya."

Arkan tersenyum tulus, garis wajahnya menyiratkan kelegaan yang teramat sangat. Ia menarik napas perlahan, meresapi setiap detik kebersamaan yang penuh makna tersebut. "Alhamdulillah... mendengar jawaban itu, rasanya beban dunia yang selama ini kupikul terasa jauh lebih ringan, Shas."

Dari balik tirai pintu tengah, Kyai Ahmad dan Nyai Salmah yang sejak tadi mengawasi percakapan kedua anak muda itu dari kejauhan saling melempar senyumen penuh kebahagiaan. Kyai Ahmad mengusap jenggot putihnya perlahan, merasa sangat bersyukur atas kedewasaan dan ketulusan jiwa yang ditunjukkan oleh Arkan dalam meminang putrinya tercinta.

"Anak itu benar-benar tahu bagaimana cara menghargai seorang wanita dengan cara yang diridhai Allah," bisik Kyai Ahmad pelan kepada istrinya.

Nyai Salmah mengangguk setuju, matanya ikut berkaca-kaca menyaksikan momen berharga di beranda rumah mereka. "Ibu tidak salah merestui hubungan mereka sejak awal, Ayah. Hati Arkan bersih."

❖ ❖ ❖

Beberapa hari berselang setelah percakapan syahdu di beranda rumah panggung itu, kabar mengenai kesiapan pernikahan Arkan dan Shasmira menyebar dengan cepat di kalangan warga Desa Sukamaju. Berbeda dengan kasak-kusuk miring yang sempat beredar di sudut pasar beberapa waktu lalu, kini suasana desa dipenuhi oleh gelombang antusiasme dan kehangatan gotong royong yang tulus dari para tetangga.

Di Madrasah Al-Hikmah, murid-murid santri tampak lebih bersemangat mengikuti pelajaran yang diberikan oleh Shasmira. Mereka sering kali mencuri-curi pandang sambil tersenyum geli setiap kali melihat Arkan datang membawakan buku-buku tambahan ke ruang guru.

"Ibu Guru Shasmira sebentar lagi resmi menjadi istri Kak Arkan ya?" tanya Fandi di sela-sela jam istirahat sekolah, membuat pipi Shasmira merona merah jambu seketika.

Shasmira menutup buku pelajarannya sambil tersenyum lembut kepada murid ciliknya itu. "Sudah, jangan pada usil. Ayo, kembalikan perhatian kalian ke halaman tugas masing-masing."

Di luar ruangan, Arkan yang baru saja meletakkan tumpukan kitab di meja guru tersenyum simpul mendengar percakapan di dalam kelas. Ia berjalan mendekati jendela, menyapa Shasmira dengan tatapan penuh kasih sayang. "Sepertinya murid-muridmu sudah tidak sabar melihat kita bersanding di pelaminan, Shas."

Shasmira menoleh, merapikan jilbabnya sekilas. "Kamu ini malah ikut-ikutan menggoda anak-anak. Bukannya bersiap-siap untuk memeriksa persiapan dekorasi surau bersama Joko?"

"Aku baru saja dari sana, semuanya sudah berjalan lancar berkat bantuan warga desa," jawab Arkan santai sambil menyandarkan bahunya di kusen jendela. "Ngomong-ngomong, sore ini selepas Ashar, aku berencana mengajakmu berjalan-jalan sebentar ke bukit kenangan. Ada hal kecil yang ingin kutunjukkan sebelum hari pernikahan kita tiba."

Shasmira mengerjap pelan, menatap Arkan dengan rasa penasaran yang langsung membuncah di dalam hatinya. "Ke bukit kenangan lagi? Untuk apa, Arkan? Bukankah kita sudah menuntaskan semua urusan di sana tempo hari?"

"Percayalah, ini bukan urusan tentang dokumen rahasia atau preman suruhan Hardiman," ujar Arkan meyakinkan sambil tersenyum misterius. "Ini adalah tempat di mana cerita kita benar-benar bermula belasan tahun lalu."

Seusai salat Ashar berjemaah di surau desa, Arkan dan Shasmira benar-benar melangkah mendaki jalur setapak bukit kecil di ujung desa. Sinar matahari sore memancarkan bias keemasan di antara rimbunnya pepohonan pinus, menciptakan suasana yang begitu damai dan menenangkan bagi keduanya.

Sesampainya di bawah naungan pohon beringin tua yang rindang, Arkan menuntun Shasmira duduk di atas batu besar yang permukaannya tertutup lumut tipis—tempat yang sama di mana mereka dulu menemukan kotak kayu impian masa kecil.

"Shas, duduklah sebentar di sini," ucap Arkan lembut sambil merogoh saku jaketnya. "Ada sesuatu yang ingin kuberikan kepadamu sebagai tanda pengikat komitmen suci kita."

❖ ❖ ❖

Shasmira duduk dengan tenang, menatap tangan Arkan yang perlahan mengeluarkan sebuah kotak kecil berlapis kain bludru hijau tua dari dalam saku jaketnya. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, bukan karena rasa takut, melainkan karena rasa haru yang mendalam.

Arkan membuka tutup kotak kecil tersebut, memperlihatkan sebuah cincin perak sederhana dengan ukiran motif ukir tradisional yang tampak sangat manis dan elegan di bawah temaram cahaya senja.

"Ini bukan cincin emas bermata berlian yang mahal, Shas," kata Arkan dengan suara berat yang menenangkan. "Ini adalah cincin perak buatan pengrajin lokal di kota kabupaten, yang kuukir khusus dengan inisial nama kita berdua. Sederhana, namun melambangkan ketulusan janji yang tidak akan pernah luntur termakan usia."

Lihat selengkapnya