Isyarat Restu dari Sang Kepala Desa
Malam di Desa Sukamaju turun perlahan, membawa serta keheningan malam pegunungan yang menyejukkan jiwa setiap penduduknya. Selepas salat Isya berjemaah di surau desa, jamaah satu persatu mulai membubarkan diri kembali ke rumah masing-masing, meninggalkan pelataran surau yang bersih dengan temaram lampu minyak di setiap sudutnya. Di antara para warga yang berjalan pulang, Arkan berdiri diam sejenak di dekat pintu gerbang surau, menarik napas dalam-dalam untuk menata debar jantungnya yang berdegup jauh lebih kencang dari biasanya. Malam ini, ia telah membulatkan tekad bulat untuk mengambil langkah paling menentukan dalam hidupnya.
Arkan melangkah pasti menuju rumah panggung Kepala Desa Kyai Ahmad. Langkah kakinya membawa kenangan masa lalu saat ia masih menjadi bocah ingusan yang sering bermain perahu kertas di sungai desa bersama Shasmira. Namun malam ini, posisinya sangat berbeda. Ia datang bukan sebagai anak kecil yang mencari pelarian, melainkan sebagai seorang lelaki dewasa yang siap memikul amanah agung di hadapan Sang Pencipta dan keluarga besar sang kiai. Sesampainya di halaman rumah panggung, ia mendapati lampu ruang kerja Kyai Ahmad masih menyala terang, memantulkan bayangan hangat dari balik jendela kayu jati.
Dengan sopan, santun, dan dada yang berdebar hebat, Arkan memberanikan diri mengetuk daun pintu ruang kerja Kyai Ahmad pelan.
Tok... tok... tok.
"Masuklah, pintu tidak dikunci," suara paruh baya yang tenang dan berwibawa terdengar dari dalam ruangan.
Arkan mendorong daun pintu perlahan, melangkah masuk ke dalam ruang kerja yang dipenuhi oleh rak-rak buku kitab kuning dan catatan arsip desa. Kyai Ahmad tampak duduk di kursi kayu jati di balik meja kerjanya, mengenakan peci hitam kesayangannya sambil merapikan beberapa lembar kertas laporan. Sang kiai mendongak, menyambut kedatangan Arkan dengan senyuman ramah yang langsung mencairkan sedikit ketegangan di wajah pemuda perantauan itu.
"Ada apa malam-malam begini, Arkan? Duduklah, Nak," sambut Kyai Ahmad mempersilakan, menunjuk kursi kosong di hadapan meja kerjanya.
Arkan mengangguk takzim, lalu duduk dengan sikap tegap dan sopan. "Terima kasih, Abah," ucapnya lirih. Ia menarik napas sekali lagi sebelum menyampaikan maksud utama kedatangannya malam itu secara empat mata di ruang kerja sang kepala desa.
❖ ❖ ❖
Suasana di dalam ruang kerja mendadak terasa begitu hening, hanya ditemani oleh suara detak jam dinding kayu dan desau angin malam yang melintasi celah jendela. Arkan menatap lurus ke arah Kyai Ahmad, menyusun setiap kata di kepalanya agar terdengar sangat berhati-hati namun sarat akan ketulusan mutlak.
"Abah... kedatangan saya malam ini menghadap secara empat mata karena ada hal sangat penting dan sakral yang ingin saya sampaikan," buka Arkan dengan suara yang sedikit bergetar namun tegas.
Kyai Ahmad meletakkan bolpoin di atas meja, melipat kedua tangannya di depan dada, lalu menatap Arkan dengan saksama lewat kacamata minus yang membingkai matanya. "Silakan katakan, Arkan. Ab mendengarkan dengan penuh perhatian."
Dengan dada yang semakin berdebar, Arkan menyampaikan niat tulusnya kepada sang kiai untuk melamar Shasmira secara resmi dalam waktu dekat. Ia mengutarakan bagaimana perasaannya tumbuh bukan sekadar karena kenangan masa kecil, melainkan karena kekaguman mendalam pada keteguhan iman, adab, dan kesucian akhlak Shasmira selama menghadapi berbagai badai cobaan di desa.
"Saya menyadari sepenuhnya bahwa saya hanyalah seorang pemuda perantauan yang sempat tersesat di kota besar, Abah," tutur Arkan dengan jujur dan rendah hati. "Tapi selama saya kembali mengabdikan diri di Sukamaju, saya bertekad untuk menjaga dan membimbing Shasmira dalam ketaatan kepada Allah SWT. Karena itulah, malam ini saya datang memohon izin dan restu Abah untuk meminang Shasmira."
Kyai Ahmad tidak langsung memberikan jawaban panjang atau sambutan yang meledak-ledak. Ia mengambil kitab kecil di dekat mejanya, meletakkannya perlahan, lalu menatap Arkan lekat-lekat tanpa mengedipkan mata. Di balik garis wajah yang tegas dan wibawa seorang tokoh desa yang disegani, sepasang mata Kyai Ahmad justru menyiratkan kelegaan yang amat mendalam. Ia melihat kesungguhan, kejujuran, dan keteguhan iman yang luar biasa pada diri Arkan—karakter tangguh yang sama yang selama ini ia amati selama sang pemuda berjuang memajukan ekonomi kerakyatan desa.
❖ ❖ ❖
Keheningan sempat menguasai ruangan kerja itu selama beberapa detik sebelum Kyai Ahmad akhirnya menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis penuh ketenangan. Senyuman itu menghapus seluruh kecemasan yang sempat bergemuruh di dada Arkan sejak ia melangkah masuk ke rumah panggung tersebut.