Hari-Hari Terakhir di Desa Sukamaju
Waktu berjalan begitu cepat di sela-sela deburan angin pegunungan dan kehangatan tradisi desa. Tanpa terasa, masa libur semester dan durasi riset lapangan Arkan di Desa Sukamaju telah sampai di penghujungnya. Tugas akademik yang menumpuk di kampus menuntutnya untuk segera kembali ke ibu kota guna merampungkan persiapan sidang akhir skripsinya, sebuah gerbang penutup bagi masa kuliahnya sebelum ia melangkah sepenuhnya ke jenjang kehidupan profesional yang sebenarnya.
Meskipun status hubungan antara Arkan dan Shasmira kini telah terikat dalam sebuah komitmen suci dan restu awal dari Kyai Ahmad telah dikantongi dengan penuh kehangatan, kenyataan bahwa mereka harus kembali terpisahkan oleh jarak ribuan kilometer menghadirkan keheningan yang sedikit sendu di antara keduanya. Hari-hari terakhir sebelum keberangkatan Arkan dihabiskan dengan khidmat—menguatkan doa di sepertiga malam, merapikan catatan riset lapangan di beranda rumah panggung, dan menitipkan harapan besar pada masa depan yang sedang mereka bangun bersama secara perlahan.
"Rasanya baru kemarin kamu datang ke desa ini membawa ransel besar dan rasa penasaran tentang sejarah lokal," ucap Shasmira pelan sambil menyuguhkan secangkir teh melati hangat di atas meja kayu beranda. Matanya menatap lurus ke arah halaman yang mulai basah oleh embun sore.
Arkan meletakkan dokumen laporan risetnya di atas meja, lalu tersenyum tipis menatap calon pendamping hidupnya itu. "Waktu memang terasa begitu cepat berlalu kalau kita menghabiskannya dengan orang-orang yang tepat, Shas. Tapi perpisahan ini sifatnya hanya sementara, bukan akhir dari segalanya."
"Aku tahu, Arkan," balas Shasmira lirih, mencoba menahan rasa berat di dadanya. "Hanya saja, terbiasa melihatmu datang setiap sore ke madrasah atau berdiskusi di beranda ini membuatku harus kembali beradaptasi dengan kesunyian saat kamu kembali ke kota nanti."
Arkan merogoh saku kemejanya, lalu mengeluarkan sebuah buku catatan kecil berSampul kulit coklat tua, lalu menyerahkannya kepada Shasmira. "Setiap kali kamu merasa sepi di sini, bacalah catatan harian ini. Aku menuliskan seluruh isi hatiku dan progres skripsiku di dalamnya, seolah-olah aku sedang duduk di sebelahmu."
Shasmira menerima buku catatan kecil itu dengan kedua tangannya, jemarinya sedikit bergetar menyentuh sampul kulit yang hangat. "Terima kasih, Arkan. Ini akan menjadi teman setpaku selama kamu jauh di sana."
Dari balik tirai pintu tengah, Nyai Salmah mengawasi interaksi kedua anak muda itu dengan senyuman penuh keibuan. Beliau sangat memahami betapa tidak mudahnya merajut cinta di tengah ujian jarak dan waktu, namun beliau juga melihat keteguhan yang luar biasa terpancar dari mata keduanya.
"Sudah, jangan terlalu bersedih, Nduk," ucap Nyai Salmah lembut sambil melangkah keluar membawa piring kecil berisi pisang goreng hangat. "Perpisahan dalam menuntut ilmu dan mencari nafkah adalah bagian dari perjuangan hidup yang mulia."
❖ ❖ ❖
Matahari sore perlahan-lahan tenggelam di balik punggung Gunung Sukamaju, menyisakan bias warna kemerahan yang memantul indah di atas atap-atap rumah panggung penduduk desa. Di malam terakhir sebelum keberangkatannya, Arkan menyempatkan diri untuk menemui Kyai Ahmad di ruang kerja pribadinya yang dipenuhi oleh rak-rak kitab kuning klasik.
Kyai Ahmad sedang merapikan beberapa berkas administrasi surau ketika Arkan mengetuk kusen pintu kayu secara perlahan.
"Silakan masuk, Nak Arkan," sapa Kyai Ahmad ramah tanpa mengangkat kepalanya dari tumpukan kertas. "Duduklah di sini."
Arkan melangkah masuk dengan takzim, lalu duduk di kursi kayu berpelapis busa tipis di hadapan ayah Shasmira. "Terima kasih, Kyai. Maaf mengganggu waktu istirahat Kyai malam-malam begini."
Kyai Ahmad menutup berkas di depannya, lalu menatap Arkan dengan sorot mata yang penuh kearifan dan pengalaman hidup. "Tidak mengganggu sama sekali, Arkan. Justru saya menduga kamu datang untuk membicarakan rencana keberangkatanmu besok pagi ke ibu kota."
"Benar, Kyai," aku Arkan jujur. "Besok pagi bus pertama dari terminal desa akan membawa saya kembali ke kota untuk menyelesaikan sidang akhir skripsi. Sebelum saya pergi, saya ingin memohon doa restu dan titip diri untuk menjaga Shasmira di sini."
Kyai Ahmad tersenyum tenang, mengelus jenggot putihnya perlahan. "Arkan, seorang laki-laki diuji keteguhannya saat ia harus merantau demi masa depan keluarganya. Saya dan ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk urusan studimu. Amanah untuk menjaga Shasmira sudah menjadi bagian dari ikatan kita."
"Terima kasih banyak atas nasihat dan dukungan Kyai selama ini. Dukungan Kyai adalah kekuatan terbesar bagi saya," ucap Arkan penuh rasa syukur.
Sementara itu di kamar tidurnya, Shasmira sedang merapikan barang-barang pribadi miliknya ke dalam kotak kenangan kecil, termasuk surat-surat lama dan cinderamata pemberian Arkan selama mereka bersama di desa. Hatinya diliputi perasaan bercampur aduk antara bangga atas pencapaian Arkan dan rasa kehilangan yang teramat sangat menjelang hari esok.
Pintu kamarnya diketuk pelan dari luar, lalu Nyai Salmah melangkah masuk membawa segelas air putih hangat.
"Belum tidur, Shas?" tanya ibunya lembut sambil duduk di tepi tempat tidur.
Shasmira menggeleng pelan, merapikan jilbab rumahannya. "Belum, Bu. Rasanya masih tidak menyangka besok Arkan sudah harus kembali ke kampus."
"Waktu berjalan cepat bagi orang-orang yang bersiap menjemput masa depan," hibur Nyai Salmah bijak sambil membelai rambut putrinya. "Doakan agar studinya lancar dan urusannya dimudahkan oleh Allah."
❖ ❖ ❖
Keesokan paginya, suasana terminal kecil Desa Sukamaju tampak cukup sibuk oleh aktivitas para warga yang hendak pergi berdagang ke kota kabupaten. Udara pagi pegunungan masih menyisakan embun tipis yang menempel di daun-daun perdu pinggir jalan.
Arkan berdiri di samping bus antarkota berwarna biru tua yang mesinnya sudah menderu perlahan, siap diberangkatkan. Di sampingnya berdiri Shasmira, Kyai Ahmad, dan Nyai Salmah yang mengantarkan kepergian sang pemuda.
"Ingat pesan Ayah, Arkan. Jaga kesehatan di sana, selesaikan kewajiban akademismu dengan tuntas, dan jangan lupa untuk selalu mengabari keluarga di desa," pesan Kyai Ahmad sambil menjabat tangan Arkan erat-erat.