Pagi di Terminal Desa dan Debar Perpisahan
Matahari pagi baru saja mengintip di balik deretan bukit hijau, menyebarkan kehangatan lembut di atas hamparan sawah Desa Sukamaju. Udara segar pegunungan berpadu dengan aroma embun pagi, menciptakan suasana yang menenangkan bagi siapa saja yang menghirupnya. Namun, di balik ketenangan alam tersebut, terselip debar perasaan yang berlapis-lapis di dada dua insan yang tengah berdiri berdampingan di sudut jalan utama desa.
Pagi itu, suasana di terminal bus antar-kecamatan Desa Sukamaju tampak cukup sibuk. Bus berbadan sedang berwarna biru yang akan membawa Arkan ke stasiun kota besar sudah terparkir di tepi jalan, menderu pelan dengan kepulan asap tipis dari knalpotnya. Para penumpang mulai naik satu persatu, sementara para pedagang asongan hilir mudik menawarkan barang dagangan mereka.
Shasmira berdiri di bawah naungan atap halte terminal, mengenakan jilbab panjang berwarna senada dengan gamis sederhananya. Di sampingnya, Kyai Ahmad turut hadir untuk melepas kepergian sang calon menantu dengan senyuman hangat dan jabat tangan yang erat. Tidak ada air mata yang berlebihan, melainkan ketegaran seorang wanita salihah yang memahami bahwa perpisahan ini adalah bagian dari ikhtiar mulia Arkan untuk menyempurnakan tanggung jawabnya.
"Perjalanan ke kota cukup jauh, Arkan. Pastikan jaga kesehatan dan niatkan setiap langkahmu semata-mata mencari ridha Allah," pesan Kyai Ahmad sambil menepuk pelan pundak pemuda di hadapannya.
"Insya Allah, Kiai. Mohon doa restu selalu agar urusan penyelesaian administrasi riset dan persiapan akad kita di kota dimudahkan oleh Allah SWT," jawab Arkan dengan takzim, mencium punggung tangan ayah Shasmira penuh hormat.
Shasmira menatap Arkan lekat-lekat, mencoba menyimpan setiap detail wajah pemuda itu dalam ingatannya sebelum bus biru tersebut membawa pergi sang kekasih hati. Meski berat melepas kepergian dalam jarak yang memisahkan, ia tahu betul bahwa keteguhan sikap adalah perisai terbaik bagi seorang wanita salihah.
"Hati-hati di jalan, Arkan," ucap Shasmira lembut, menyunggingkan senyuman tipis untuk menguatkan suaminya kelak. "Jangan terlalu memforsir tenaga. Selesaikan apa yang harus diselesaikan, lalu segeralah kembali ke Sukamaju."
Arkan membalas tatapan itu dengan binar mata penuh cinta yang mendalam. "Pasti, Shas. Begitu urusan di kota rampung, aku akan langsung pulang membawa kabar baik untuk kita berdua."
Meski perpisahan ini hanya bersifat sementara, debar di dada Shasmira tetap menyisakan getaran halus. Terminal kecil desa itu menjadi saksi bisu betapa setiap detik kebersamaan harus dibayar dengan kesabaran menanti dalam doa.
❖ ❖ ❖
Konjak kondektur bus meneriakkan panggilan terakhir bagi para penumpang agar segera naik ke dalam kendaraan. Suara bising mesin diesel dan deru angin pagi seolah mendesak waktu kebersamaan mereka yang kian menipis di area terminal.
"Kernet sudah memberi aba-aba, Nak. Sebaiknya kau segera naik sebelum busnya berangkat," ujar Kyai Ahmad mengingatkan dengan nada kebapakan yang menenangkan.
Arkan mengangguk pelan, lalu merapikan tas ransel di bahunya. Sebelum melangkah menuju pintu bus, ia menoleh sekali lagi menatap Shasmira yang berdiri tenang di samping sang ayah. Ada sejumput rasa berat di rongga dadanya meninggalkan gadis yang telah menjadi pelabuhan terakhir hatinya.
"Aku berangkat ya, Kiai... Shas," pamit Arkan dengan suara sedikit bergetar menahan rindu yang bahkan belum sepenuhnya tercipta.
"Ya, jalanlah dengan iringan doa kami," balas Kyai Ahmad merestui.
Shasmira mengangguk mantap, melambaikan tangan perlahan tanpa meneteskan air mata. "Hati-hati di jalan, Arkan. Jangan lupa mengabari jika sudah tiba di stasiun kota."
Arkan membalas lambaian tangan itu dengan senyuman tulus, lalu berbalik melangkah cepat menaiki tangga bus biru. Ia memilih kursi di dekat jendela sebelah kanan, tepat menghadap ke arah halte tempat Shasmira berdiri.
Dari balik kaca jendela bus yang berembun tipis, Arkan melihat siluet Shasmira dan Kyai Ahmad yang masih berdiri tegap mengantarnya. Bus mulai bergerak perlahan, meninggalkan pelataran terminal menuju jalan raya beraspal yang membelah persawahan hijau.
Di dalam bus, Arkan menarik napas dalam-dalam, menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi sambil memejamkan mata sejenak. Pikirannya langsung melayang pada setumpuk tugas riset madrasah dan urusan persiapan pernikahan yang menantinya di kota besar. Jarak fisik antara Sukamaju dan kota metropolitan mendadak terasa begitu membentang, menguji kesabaran dan keteguhan komitmen yang telah mereka bangun bersama.
"Bismillah... semoga Allah menjaga hatiku dan hatinya dalam ikatan iman," gumam Arkan lirih di dalam hati, membiarkan deru mesin bus menghantarkan perjalanannya menuju babak perjuangan baru.
❖ ❖ ❖
Sepeninggal bus yang membawa Arkan, suasana di terminal perlahan kembali normal. Kyai Ahmad melirik putrinya yang masih terpaku menatap ujung jalan raya tempat bus biru tadi menghilang dari pandangan.
"Mari pulang, Shasmira. Pekerjaan di madrasah sudah menanti kita," ajak Kyai Ahmad lembut, memahami betul gejolak halus di hati sang anak.
Shasmira mengerjap perlahan, lalu mengangguk patuh. "Baik, Ayah. Mari kita kembali."