Janji di Bawah Langit Sukamaju
Deru mesin bus antarkota berukuran sedang itu terdengar menderu berat di area terminal kecil yang terletak di perbatasan Kabupaten Sukamaju. Udara pagi hari berbaur dengan kepulan debu tipis yang beterbangan akibat roda kendaraan yang mulai berputar perlahan. Di sekitar area pemberangkatan, suasana terasa begitu syahdu sekaligus menyayat hati bagi siapa saja yang tengah menyaksikan momen perpisahan.
Arkan berdiri tepat di anak tangga pintu bus dengan ransel kain usang tersampir di pundak kirinya. Sebelum ia melangkah naik sepenuhnya ke dalam kabin kendaraan yang akan membawanya kembali ke kota tempat kampusnya berada, pemuda itu menghentikan gerakannya.
Kepalanya menoleh sekali lagi ke belakang, menatap sosok Shasmira yang berdiri tenang di balik pagar pembatas terminal dengan balutan jilbab pastel sederhana. Ada sorot mata penuh kerinduan yang mendalam sekaligus keyakinan yang berkobar di wajah pemuda itu, mengisyaratkan bahwa perpisahan ini bukanlah akhir, melainkan sebuah jeda demi menjemput masa depan yang lebih pasti.
"Aku akan segera kembali, Shasmira," ucap Arkan dengan suara lembut namun tegas, memastikan setiap kata terdengar jelas di tengah kebisingan terminal yang dipenuhi suara para pedagang asongan dan kondektur bus.
Shasmira menatap lurus ke dalam mata Arkan, meresapi kesungguhan yang terpancar dari wajah pemuda yang selama ini telah menjadi mitra sekaligus pengisi relung hatinya dalam mengabdi di desa.
"Selesaikan urusanku di kampus, raih gelar sarjanaku, dan aku akan datang bersama keluargaku untuk meminangmu secara resmi di hadapan Ayah," lanjut Arkan menegaskan komitmen sucinya dengan intonasi yang penuh keyakinan rohaniah.
Mendengar kalimat janji suci tersebut, debar di dada Shasmira bergemuruh hebat, namun ketenangan wajahnya tetap terjaga dengan baik. Ia tahu persis betapa berat perjuangan yang harus dilalui Arkan di perantauan kota besar, bergulat dengan skripsi, ujian akhir, dan beban finansial yang terbatas. Namun, Arkan tidak pernah sedikit pun kehilangan arah karena niat lurus yang senantiasa dijaganya.
"Aku memegang kata-katamu, Arkan," bisik Shasmira lirih di dalam hatinya, sebelum ia mengangkat wajahnya untuk memberikan respon terbaik.
❖ ❖ ❖
Suasana di sekitar terminal semakin riuh ketika kondektur bus mulai meneriakkan nama-nama kota tujuan kepada para calon penumpang yang masih berlalu-lalang mencari tempat duduk. Di tengah hiruk-pikuk suara klakson kendaraan dan deru mesin diesel, Shasmira menarik napas dalam-dalam, menahan genangan air mata haru agar tidak tumpah di hadapan pria yang sangat ia hormati tersebut.
Ia mengangkat tangan kanannya perlahan, menyunggingkan senyuman terindah yang pernah ia berikan seumur hidupnya—senyuman tulus yang memancarkan ketegaran, keikhlasan, dan dukungan penuh bagi perjuangan Arkan di tanah rantau.
"Hati-hati di jalan, Arkan," kata Shasmira dengan suara yang bergetar halus namun tetap terdengar jelas di telinga Arkan. "Tunaikan amanahmu di sana dengan sebaik-baiknya. Selesaikan apa yang sudah kamu mulai di kampusmu."
Arkan mengangguk takzim, menangkap ketulusan mutlak yang terpancar dari raut wajah gadis pujaan hatinya itu.
"Insya Allah, Shasmira. Doa-doamu adalah kekuatan terbesar yang akan membimbing setiap langkahku di kota nanti," balas Arkan dengan senyuman hangat yang menenangkan.
"Aku akan tetap di sini, menjaga diri dan menjaga doa-doa kita di bawah langit Sukamaju," sambung Shasmira mempertegas janji setianya.
Keduanya berpamitan dengan menjaga batasan yang sangat terhormat. Tidak ada sentuhan fisik, tidak ada pelukan perpisahan yang melampaui norma agama; yang ada hanyalah anggukan kepala penuh takzim, tatapan mata yang berbicara jutaan bahasa cinta, serta lambaian tangan sopan yang dilandasi oleh kesucian komitmen di antara mereka berdua.
Arkan berbalik badan, melangkah masuk ke dalam kabin bus dan segera duduk di kursi dekat jendela yang menghadap langsung ke arah tempat Shasmira berdiri.
Dari balik kaca jendela bus yang berdebu tipis, Arkan kembali melambaikan tangan kepada Shasmira. Sang sopir bus memasukkan gigi persneling, menginjak pedal gas, dan perlahan-lahan kendaraan berbadan besar itu merayap meninggalkan area terminal, menyusuri jalanan desa yang dikelilingi oleh hamparan persawahan hijau membentang luas.
❖ ❖ ❖
Bus yang membawa Arkan semakin jauh meninggalkan kawasan terminal, melebur bersama debu jalanan dan latar belakang pegunungan Desa Sukamaju yang berdiri megah di cakrawala. Shasmira tetap berdiri tegak di tempatnya, melambaikan tangan secara perlahan hingga bayangan bus tersebut benar-benar hilang dari pandangan matanya.
Meskipun jarak kini akan memisahkan raga mereka selama beberapa bulan ke depan, Shasmira merasakan ketenangan batin yang luar biasa di dalam dadanya. Ia tahu betul bahwa jarak dan waktu bukanlah halangan yang mampu meruntuhkan dua hati yang telah disatukan oleh ketulusan niat dan keyakinan mutlak kepada Sang Pencipta.
"Hati-hati di perjalanan, Arkan... Semoga Allah senantiasa melindungi setiap langkahmu," doa Shasmira lirih dalam hati sambil merapikan letak jilbabnya.