Sang Kembang Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #59

Kesunyian yang Kembali

Kesunyian yang Kembali Menyapa Serambi Desa

Matahari pagi perlahan naik, membiaskan cahaya keemasan di balik pucuk-pucuk pohon pinus yang mengelilingi Desa Sukamaju. Sisa-sisa kemeriahan acara pertunangan dan kunjungan keluarga besar Arkan beberapa waktu lalu kini telah berganti dengan ritme kehidupan desa yang kembali tenang, damai, dan bersahaja. Sepeninggal Arkan kembali ke ibu kota untuk menyelesaikan urusan pekerjaannya sebelum hari pernikahan mereka dilangsungkan, serambi rumah panggung Kyai Ahmad terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Kursi rotan tempat Arkan biasa duduk kini tampak kosong, menyisakan jejak kenangan perbincangan sarat makna yang pernah terukir di sana.

Rutinitas harian Shasmira kembali berjalan seperti sediakala tanpa ada perubahan yang berarti. Setiap pagi hingga siang hari, ia mendedikasikan seluruh waktunya untuk mengajar para santri di Madrasah Al-Hikmah dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Selepas dzuhur, ia kembali ke rumah panggung untuk membantu ibunya, Nyai Siti, merawat rumah dan menyiapkan keperluan rumah tangga. Dan ketika sore hari menjelang, Shasmira terbiasa menghabiskan waktu di serambi rumah panggung dengan secangkir teh hangat melati yang mengepul di atas meja kayu jati, menikmati hembusan angin pegunungan yang sejuk.

Namun, ada suatu rasa yang sangat berbeda dari kesunyian kali ini. Jika dulu kesunyian sore di desa sering kali memberinya ruang untuk merenung, merasa cemas, atau bertanya-tanya tentang teka-teki masa lalu yang belum terpecahkan, kini kesunyian itu diisi oleh nuansa yang jauh lebih hangat dan tenteram. Setiap sudut serambi seolah merekam bayangan seorang pemuda berwawasan luas yang telah melamar hatinya secara terhormat—Arkan. Bayangan senyuman tulus dan tatapan teduh pemuda itu senantiasa menemani hari-hari sepinya, diiringi oleh debar doa yang tulus yang senantiasa Shasmira selipkan di setiap sujud malamnya di sepertiga malam terakhir.

"Ya Allah, lindungilah ia di manapun ia berada, dan mudahkanlah jalan kami menuju ikatan suci-Mu," bisik Shasmira lirih dalam hatinya saat ia menyeruput teh hangat di cangkirnya, menatap jauh ke arah jalan setapak desa yang lengang.

Shasmira menyadari sepenuhnya bahwa hatinya kini telah sepenuhnya tertambat kepada Arkan. Keterpisahan jarak sementara antara desa dan ibu kota membuat hari-hari penantian terasa berjalan jauh lebih lambat dari biasanya, namun di balik kelambatan itu, tersimpan rindu dan keteguhan iman yang semakin mengakar kuat di dalam dadanya.

❖ ❖ ❖

Keheningan sore di serambi rumah panggung itu tidak berlangsung lama ketika langkah kaki perlahan terdengar menaiki tangga kayu. Nyai Siti muncul dari ruang dalam membawa nampan berisi pisang goreng hangat yang baru saja diangkat dari penggorengan dapur tradisional. Ibu paruh baya itu tersenyum lembut melihat putrinya sedang termenung memandangi cangkir teh sambil tersenyum sendiri.

"Melamunkan apa, Shas? Kelihatan serius sekali dari dalam tadi," sapa Nyai Siti ramah, meletakkan nampan pisang goreng di atas meja kecil dekat Shasmira.

Shasmira tersipu malu, pipinya merona merah seketika menyadari ibunya memergoki dirinya sedang melamun. Ia segera merapikan duduknya dan tersenyum simpul. "Tidak apa-apa, Bu. Shas hanya sedang menikmati angin sore saja, rasanya sejuk sekali."

Nyai Siti menarik kursi rotan di samping putrinya, lalu duduk sambil ikut menuangkan teh hangat ke dalam cangkirnya sendiri. "Ibu tahu kamu sedang merindukan Arkan, Nak. Wajar saja, pengantin baru masa persiapan memang biasanya diuji dengan jarak dan waktu."

"Ibu bisa saja," jawab Shasmira lembut, menundukkan pandangannya ke arah cangkir teh. "Shas hanya mendoakan agar urusan pekerjaan Arkan di ibu kota cepat selesai, supaya ia bisa kembali ke Sukamaju tanpa ada beban apa pun."

Nyai Siti mengelus lembut pundak putrinya dengan penuh kasih sayang seorang ibu. "Insya Allah, Nak. Arkan adalah pemuda yang bertanggung jawab. Jarak ini adalah ujian kesabaran bagi kalian berdua untuk menguji seberapa besar ketulusan niat kalian sebelum melangkah ke gerbang pernikahan yang sakral."

Percakapan ibu dan anak itu terhenti sejenak ketika suara deru motor berhenti di depan halaman rumah panggung. Pak RT setempat berjalan tergesa-gesa menaiki tangga teras membawa selembar surat pos kilat berwarna biru terang yang ditujukan khusus kepada Kyai Ahmad selaku kepala desa.

"Assalamu’alaikum, Nyai, Shasmira," sapa Pak RT setengah bergesa-gesa. "Maaf mengganggu sore hari kalian. Ada kiriman surat penting dari kantor kecamatan yang harus segera diserahkan kepada Kyai Ahmad."

Shasmira segera berdiri menyambut Pak RT dengan sopan. "Wa’alaikumussalam warahmatullah, Pak RT. Silakan duduk sebentar. Abah kebetulan sedang berada di surau belakang memeriksa persiapan pengajian ba'da magrib."

❖ ❖ ❖

Pak RT menerima uluran teh hangat dari Nyai Siti sambil menghela napas pendek. "Terima kasih, Nyai. Surat ini kelihatannya cukup mendesak karena menyangkut perizinan akhir pembangunan koperasi pemuda desa yang diinisiasi oleh Arkan kemarin."

Mendengar nama Arkan disebut, perhatian Shasmira langsung tertuju pada amplop surat di tangan Pak RT. "Ada masalah apa dengan perizinan koperasi pemuda itu, Pak RT?" tanya Shasmira dengan nada suara yang sedikit menyembunyikan rasa cemasnya.

Lihat selengkapnya