Riuh Rendah Tinta dan Kertas di Kamar Indekos Kota---
Suasana metropolitan selalu menghadirkan ritme hidup yang tak kenal lempah, berputar dalam poros kecepatan tinggi yang seolah menuntut setiap manusia di dalamnya untuk berlari tanpa henti. Di sisi lain, ribuan kilometer dari Desa Sukamaju, Arkan hidup dalam dunia yang bergerak dengan kecepatan penuh. Di dalam kamar indekosnya yang sempit di sudut ibu kota, pemuda itu dikelilingi oleh tumpukan buku referensi antropologi, draf skripsi yang tebal, dan cahaya lampu belajar yang menyala hingga larut malam. Ruangan berukuran tiga kali tiga meter itu penuh sesak oleh lembaran kertas catatan lapangan, cangkir kopi yang telah dingin, serta tumpukan diktat kuliah yang berserakan di atas lantai semen.
Meskipun dunia di luar jendela kamar indekosnya dipenuhi oleh deru knalpot kendaraan dan hiruk-pikuk manusia yang mengejar waktu, Arkan tetap duduk tenang di balik meja kayunya yang mulai rapuh. Jemarinya menari lincah di atas papan tik laptop tua, menuangkan gagasan demi gagasan mengenai kearifan lokal masyarakat agraris pedesaan. Arkan mendedikasikan seluruh waktunya untuk menyelesaikan bab demi bab penelitian lapangannya dengan ketelitian tingkat tinggi. Setiap kata yang ia ketik bukan sekadar syarat formalitas untuk meraih gelar sarjana, melainkan wujud nyata dari dedikasi dan rasa cintanya yang mendalam terhadap tanah kelahirannya di lereng bukit.
Namun, di tengah kesibukan akademis yang menguras tenaga dan pikiran itu, ada satu ruang di dalam benaknya yang tidak pernah tersentuh oleh hiruk-pikuk kota besar. Di tengah kebisingan kota besar yang tak pernah tidur—mulai dari deru kendaraan bermotor hingga kesibukan mahasiswa lain—pikiran Arkan sering kali melayang jauh menembus jarak, kembali ke ketenangan udara pegunungan dan sejuknya angin sawah di tempat Shasmira berada. Ia sering kali berhenti mengetik, menatap kosong ke arah dinding kamar yang ditempeli sketsa sederhana peta Desa Sukamaju, lalu menghela napas panjang untuk meredakan rasa rindu yang kian hari kian membuncah di dalam dadanya.
"Apakah Shasmira sedang memandangi langit senja yang sama di bawah pohon sawo?" gumam Arkan pelan pada dirinya sendiri, suaranya tenggelam di antara suara bising lalu lintas jalan raya di luar sana.
Ia meraih cangkir kopi hitamnya yang sudah dingin, meneguknya sekadar untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering, lalu kembali memfokuskan pandangannya pada layar monitor yang berpendar terang. Batas waktu pengumpulan draf akhir semakin dekat, dan ia bertekad untuk menyelesaikannya secepat mungkin agar bisa segera melangkah pulang membawa kepastian.
❖ ❖ ❖
Keheningan malam di kamar indekos itu kembali pecah ketika suara ketukan pintu terdengar berirama dari luar. Arkan mengerjap beberapa kali, melepaskan pandangannya dari layar laptop, lalu bangkit perlahan dari kursi plastik untuk membuka pintu. Di ambang pintu, berdiri sahabat sekaligus rekan satu jurusannya, Bayu, yang membawa sebungkus nasi bungkus dan dua botol air mineral dingin.
"Belum tidur juga, Arkan? Kamu bisa tumbang kalau terus menerus begadang sampai pagi setiap hari," sapa Bayu langsung sambil melangkah masuk tanpa menunggu undangan, lalu meletakkan bungkusan makanan di atas tumpukan diktat antropologi.
Arkan menutup kembali pintu kamarnya, mengulas senyum tipis yang tampak lelah namun tulus. "Sebentar lagi bab kesimpulan selesai, Bayu. Aku ingin segera merampungkan draf ini agar minggu depan bisa langsung dikonsultasikan ke dosen pembimbing."
Bayu menarik kursi plastik di seberang meja belajar, duduk sambil membuka bungkusan makanan. "Kamu terlalu memforsir dirimu untuk desa itu, Arkan. Padahal risetmu sudah sangat luar biasa dan dipuji oleh dosen penguji dalam seminar proposal kemarin. Apa yang sebenarnya membuatmu begitu terburu-buru?"
Arkan ikut duduk, mengambil nasi bungkus yang disodorkan sahabatnya itu. Ia menatap lurus ke arah Bayu dengan sorot mata yang menyiratkan keteguhan prinsip. "Bukan sekadar soal laporan akademik, Bayu. Ada janji yang harus kutepati di sana. Ada seseorang yang sedang menanti kepulanganku dengan doa dan kesabaran yang luar biasa."
Bayu tertawa kecil, menggelengkan kepala pelan. "Ah, Shasmira lagi. Perempuan desa yang selalu berhasil membuat mahasiswa antropologi paling cerdas di kampus ini kehilangan konsentrasi belajar."
"Kamu tidak akan mengerti, Bayu," jawab Arkan tenang sambil tersenyum. "Ketika kamu menemukan seseorang yang menjadi jangkar hidupmu di saat dunia terasa runtuh, jarak ribuan kilometer dan tumpukan skripsi ini terasa begitu kecil untuk diperjuangkan."
"Baiklah, pahlawan cinta," canda Bayu meledek. "Tetap saja, kalau kamu jatuh sakit sebelum sidang akhir, siapa yang akan pulang membawa gelar sarjana dan melamar gadis itu?"
Pernyataan Bayu meskipun bernada gurauan, berhasil menyadarkan Arkan akan realitas pentingnya menjaga kesehatan fisik di tengah kerja keras yang tiada henti. Arkan mengangguk menyetujui nasihat sahabatnya, lalu melahap makan malam yang sudah mulai mendingin itu dengan lahap.
❖ ❖ ❖
Setelah makan malam singkat bersama Bayu dan berdiskusi sejenak mengenai teknis penjilidan draf skripsi, Arkan kembali menyendiri di kamar indekosnya. Bayu telah pamit pulang ke kamarnya di lantai bawah, meninggalkan Arkan seorang diri bersama tumpukan kertas dan cahaya lampu belajar yang setia menemani hingga larut malam. Suasana kembali sunyi, memberikan ruang bagi Arkan untuk melanjutkan perenungan batinnya yang sempat tertunda.
Ia membuka kembali buku catatan lapangan bersampul kulit cokelat tua pemberian mendiang ayahnya dulu. Di halaman pertama catatan itu, terselip sebuah foto polaroid usang yang merekam momen kebersamaannya dengan Shasmira di bawah pohon sawo tua saat mereka masih anak-anak. Memandang foto itu selalu berhasil memberikan suntikan energi emosional yang luar biasa bagi Arkan, menghapus segala rasa lelah akibat lembur berjam-jam di depan laptop.
"Tunggu aku sebentar lagi, Shasmira," bisik Arkan pelan pada foto tersebut, jemarinya mengusap lembut permukaan gambar yang mulai memudar dimakan usia. "Tinta dan kertas ini adalah saksi perjuanganku untuk membuktikan bahwa aku layak berdiri di hadapan Abahmu."