
Detik Waktu yang Terasa Merambat Berat
Hari-hari berlalu dengan ritme yang terasa begitu lambat di Desa Sukamaju, seolah-olah alam sendiri ikut meresapi suasana hati yang tengah berkecamuk. Bagi kedua insan yang saling merindu dalam diam namun penuh keimanan, waktu seakan kehilangan detaknya yang normal. Bagi Shasmira, menanti kedatangan kabar atau lembaran surat dari Arkan terasa seperti menghitung butiran pasir di hamparan pantai yang luas—begitu melelahkan namun tidak ada pilihan selain menjalaninya dengan tabah. Setiap kali kumandang azan Magrib berkumandang dari menara surau desa, membahana membelah keheningan senja, ia selalu teringat akan janji Arkan untuk kembali ke desa ini dengan membawa kepastian dan restu yang sempurna.
Shasmira sering kali duduk seorang diri di beranda rumah panggung, menatap kosong ke arah jalan setapak yang biasa dilewati Arkan dulu. Suara desiran angin malam yang melewati pepohonan bambu terdengar bagaikan bisikan rindu yang tak bertepi. Ia meraba buku catatan kecil bersampul kulit coklat tua pemberian Arkan, membuka lembar demi lembar tulisan tangan pemuda itu yang penuh dengan untaian doa dan semangat akademik. Di sanalah ia menemukan pelipur lara di tengah sepi yang merayap di relung hatinya.
"Kamu melamun lagi, Nduk? Sudah minum teh hangatnya?" suara lembut Nyai Salmah membuyarkan lamunan Shasmira yang tengah menatap cangkir tanah liat di atas meja kecil.
Shasmira tersenyum tipis, merapikan jilbab abu-abunya sambil menoleh ke arah ibunya. "Ah, tidak apa-apa, Bu. Shasmira hanya sedang memikirkan apakah Arkan di sana sudah makan malam dan beristirahat dengan cukup."
Nyai Salmah melangkah mendekat, lalu merangkul pundak putrinya dengan penuh kasih sayang. "Ibu sangat mengerti perasaanmu, Shas. Rasa rindu adalah ujian bagi orang-orang yang sedang merajut masa depan di jalan Allah. Bersabarlah sebentar lagi, sebentar lagi masa penantian itu akan berbuah manis."
Begitu pula dengan Arkan yang berada jauh di hiruk-pikuk ibu kota. Di sela-sela rasa penat yang luar biasa akibat menghadapi tuntutan dosen pembimbing yang ketat dan setumpuk revisi skripsi yang melelahkan, bayangan wajah Shasmira yang sabar, teduh, dan selalu menenangkan menjadi bahan bakar utamanya untuk terus bertahan. Setiap kali matanya mulai terasa berat di atas meja belajar yang dipenuhi tumpukan literatur ilmiah hingga larut malam, ia memandangi foto sederhana Shasmira yang terselip di balik sampul buku agendanya.
"Aku harus segera menyelesaikan semua ini," gumam Arkan dalam hati sambil memegang pena dengan jemari yang kaku. Ia ingin secepat mungkin merampungkan pendidikannya, agar ia dapat segera kembali berdiri di hadapan Kyai Ahmad bukan lagi sebagai seorang mahasiswa perantau yang serba kekurangan, tetapi sebagai seorang lelaki dewasa yang siap menafkahi, membimbing, dan melindungi Shasmira seumur hidupnya.
❖ ❖ ❖
Tekanan di kampus ibu kota semakin hari semakin menguji batas ketahanan mental Arkan. Sidang akhir skripsinya dijadwalkan ulang pada akhir bulan ini, dan dosen penguji dikenal sangat kritis terhadap metodologi riset lapangan yang diambil dari daerah pedesaan terpencil seperti Desa Sukamaju. Arkan harus menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan pusat universitas setiap harinya, membedah ulang data, dan memperkuat argumen ilmiahnya.
Di tengah kesibukan yang menyita seluruh tenaga dan pikirannya itu, Arkan tetap berusaha menyisihkan waktu khusus untuk mengirimkan kabar singkat kepada Shasmira melalui pesan teks atau sambungan telepon singkat setiap kali malam mulai larut.
"Bagaimana kabarmu di desa, Shas? Maaf ya belakangan ini aku jarang bisa menelepon lama karena persiapan sidang akhir semakin padat," ucap Arkan melalui sambungan telepon, suaranya terdengar lelah namun tetap lembut di telinga Shasmira.
Dari ujung sambungan sana, Shasmira menyambut suara itu dengan senyuman tulus yang langsung mencairkan keletihan di dada sang pemuda. "Aku baik-baik saja di sini, Arkan. Jangan terlalu memikirkan aku. Fokus saja pada sidang skripsimu. Kesehatanmu jauh lebih penting daripada segalanya."
"Mendengar suaramu saja sudah menjadi obat penawar lelah yang paling mujarab bagiku, Shas," balas Arkan tulus. "Sebentar lagi semua perjuangan ini akan selesai. Doakan agar sidangku diberikan kelancaran."
"Pasti, Arkan. Setiap sepertiga malam namamu selalu aku sebut dalam doa-doaku di sujud panjangku," jawab Shasmira dengan suara bergetar lembut penuh keikhlasan.
Namun, di saat Arkan tengah berjuang keras di kampus, situasi di Desa Sukamaju tiba-tiba kembali diuji oleh cuaca ekstrem. Hujan deras yang turun tanpa henti selama tiga hari berturut-turut menyebabkan aliran sungai kecil di tepi desa meluap, merendam sebagian jalan setapak dan mengancam hasil panen para petani.
Kyai Ahmad dan para pemuda desa, termasuk Joko, harus turun tangan langsung membantu warga yang terdampak banjir lumpur ringan di sekitar perkebunan. Shasmira dan ibunya di rumah panggung ikut sibuk menyiapkan makanan darurat bagi para pengungsi sementara di surau desa.
Di tengah kesibukan membantu warga tersebut, Shasmira sempat merasa khawatir bagaimana jika kabar buruk tentang cuaca di desa ini sampai ke telinga Arkan dan mengganggu konsentrasi belajarnya di kota. Oleh karena itu, dalam pesan singkatnya malam itu, Shasmira sengaja tidak menceritakan terlalu detail mengenai luapan sungai di desa, demi menjaga fokus Arkan pada ujian akademiknya yang sangat krusial.
❖ ❖ ❖
Hari-hari penantian yang menegangkan itu akhirnya membawakan hasil. Pagi hari di akhir bulan, di ruang sidang utama fakultas teknik universitas di ibu kota, Arkan berdiri tegak di hadapan tiga orang dosen penguji yang memasang wajah serius. Selama hampir dua jam, ia memaparkan hasil riset lapangan dari Desa Sukamaju dengan argumen yang tajam, terstruktur, dan didukung oleh data valid.
"Analisis metodologi yang kamu gunakan untuk studi kasus di Desa Sukamaju sangat mendalam, Saudara Arkan," puji ketua sidang sambil merapikan berkas di atas meja. "Dengan ini, kami memutuskan bahwa skripsimu dinyatakan LULUS dengan predikat pujian."
Mendengar pengumuman resmi tersebut, seketika beban berat yang selama berbulan-bulan menghimpit dada Arkan terangkat lepas. Senyuman lebar merekah di wajahnya, dan ia mengucapkan hamdalah dalam hati dengan penuh rasa syukur yang mendalam kepada Allah SWT.