Sang Kembang Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #62

Ikatan Doa

Ikatan Doa yang Menembus Batas Ruang

Matahari malam di Desa Sukamaju memancarkan pendar keperakan di balik gorden jendela kamar Shasmira. Suasana malam itu begitu sunyi, hanya diiringi suara jangkrik dari balik rerimbunan rumpun bambu di belakang asrama santri. Di tempat tidur bambunya yang sederhana, Shasmira menatap langit-langit kamar sambil memegang tasbih kayu pemberian ayahnya.

Jarak ratusan kilometer yang membentang antara ketenangan Desa Sukamaju dan hiruk-pikuk Kota Metropolitan tempat Arkan berjuang seolah melebur dalam keheningan malam yang panjang. Meski terpisah oleh jarak yang jauh dan kesibukan dunia yang kontras—Shasmira yang tenang di desa dan Arkan yang sibuk berjuang di kota—keduanya tidak pernah merasa terpisah secara batin. Mereka menyadari bahwa bahasa rindu terbaik di tengah keterbatasan ini adalah doa.

"Ya Allah, lindungilah ia di manapun ia berada," gumam Shasmira lirih, air matanya menetes pelan membasahi pipinya saat ia membayangkan letihnya hari-hari yang dilalui Arkan di perantauan.

Di belahan kota yang berbeda, di dalam kamar kos kecil yang dipenuhi tumpukan buku referensi riset dan kertas-kertas draf kurikulum, Arkan duduk bersila di atas sajadah tipisnya. Napas pemuda itu terdengar teratur, meresapi keheningan sepertiga malam yang menyelimuti kota besar yang tak pernah tidur. Ia tahu betul bahwa apa pun tantangan birokrasi dan lelahnya urusan pekerjaan di ibu kota, kekuatan utamanya bukanlah pada kemampuan akalnya, melainkan pada ikatan batin yang terjalin suci bersama wanita di desa.

"Shas, semoga kau selalu dalam lindungan-Nya di sana," ucap Arkan dalam hati, menengadahkan kedua tangannya dengan penuh khusyuk.

Setiap kali malam beranjak larut, di sepertiga malam terakhir, keduanya bersujud di atas sajadah masing-masing. Memanjatkan permohonan yang sama kepada Sang Pemilik Semesta: agar diberikan kesabaran menjaga kesucian hati, dimudahkan segala urusan di tempat masing-masing, dan disatukan kembali dalam ikatan suci yang penuh berkah pada waktu yang telah ditetapkan-Nya.

Bagi mereka, doa adalah jembatan gaib yang menghubungkan dua hati yang merindu. Tidak ada rasa cemas yang berlebihan, sebab mereka percaya bahwa Zat yang Maha Membolak-balikkan hati senantiasa menjaga ketulusan cinta di antara keduanya.

❖ ❖ ❖

Keesokan paginya, aktivitas di Madrasah Al-Hikmah kembali berjalan dengan ritme yang padat. Shasmira melangkah mantap menyusuri koridor kelas menuju ruang guru untuk menyerahkan laporan penilaian bulanan para santriwati kepada Kyai Ahmad.

"Pagi, Shasmira. Tampak wajahmu sangat segar hari ini," sapa Aminah ramah sambil merapikan tumpukan buku absensi di atas meja guru.

Shasmira tersenyum simpul, menarik kursi kayu di sebelah sahabat karibnya itu. "Alhamdulillah, Min. Tidurku semalam sangat nyenyak setelah bermunajat panjang."

"Ah, kau pasti sedang merindukan Arkan lagi ya?" goda Aminah dengan senyuman usil yang membuat pipi Shasmira merona merah muda.

"Aminah, jangan suka menggodaku," protes Shasmira lembut, berusaha menyembunyikan salah tingkahnya. "Kami berdua sama-sama tahu bahwa saat ini prioritas utama kami adalah menyelesaikan amanah di tempat masing-masing."

"Iya, aku tahu, Shas. Tapi jujur, aku sangat mengagumi cara kalian menjaga hubungan ini," puji Aminah tulus, mengubah nada suaranya menjadi lebih serius. "Terpisah jarak sejauh itu tanpa komunikasi yang berlebihan, tapi justru semakin kuat ikatan batinnya. Itu benar-benar luar biasa."

Shasmira mengangguk perlahan. Ia teringat kembali percakapannya dengan Arkan lewat telepon beberapa malam lalu. Meskipun kesibukan Arkan di kota begitu padat dengan urusan kementerian dan lembaga riset, pemuda itu selalu menyempatkan diri mengirimkan pesan singkat berisi ayat-ayat suci atau doa penenang hati.

"Jarak ini justru mengajari kami arti penting kesabaran, Min," ucap Shasmira pelan. "Bahwa cinta yang sejati tidak diukur dari seberapa sering kita bertemu, melainkan dari seberapa kuat kita saling mendoakan dalam diam."

Percakapan singkat di ruang guru itu terhenti ketika Kyai Ahmad melangkah masuk membawa setumpuk kitab kuning. Sang kiai melayangkan pandangan arif kepada putrinya, seolah mengerti betul keteguhan hati yang tengah dijaga oleh Shasmira di tengah badai kerinduan.

"Shasmira, nanti siang tolong periksa draf kurikulum perpustakaan yang dikirimkan Arkan dari kota kemarin sore," pesan Kyai Ahmad tenang.

"Baik, Ayah. Nanti Shas periksa bersama Aminah," jawab Shasmira patuh.

❖ ❖ ❖

Sementara itu, di kantor pusat riset pendidikan kota besar, Arkan sedang sibuk mendengarkan pemaparan dari kepala divisi arsip nasional mengenai jadwal uji kelayakan draf peradaban pesantren yang ia susun. Wajah pemuda itu tampak fokus, mencatat setiap poin penting di dalam buku catatan kecilnya.

"Arkan, presentasi akhir di hadapan dewan pengawas kementerian akan dilaksanakan minggu depan," ujar Pak Hartono, mentor senior Arkan di kota, dengan nada serius namun bersahabat. "Apakah semua data pendukung dari desa sudah lengkap?"

"Alhamdulillah sudah lengkap, Pak Hartono. Semua data statistik dan kurikulum integrasi dari Madrasah Al-Hikmah sudah diverifikasi bersama Kyai Ahmad," jawab Arkan mantap.

Lihat selengkapnya