Desakan Keluarga dan Lamaran Mewah di Desa
Matahari pagi baru saja menyembulkan sinarnya di balik punggung bukit Desa Sukamaju, menyapu embun yang masih menempel di pucuk-pucuk daun pisang dan halaman rumah panggung Kyai Ahmad. Suasana desa yang biasanya tenang dan damai mendadak diwarnai oleh kehebohan yang tidak biasa. Dari ujung jalan utama desa, deretan mobil mewah berpelat nomor kota kabupaten tampak beriringan memasuki kawasan perkampungan, memecah keheningan pagi dengan suara mesin mobil yang halus namun mencolok.
Warga desa yang sedang beraktivitas di sekitar balai desa sontak menghentikan pekerjaan mereka, berbisik-bisik penasaran melihat iring-iringan kendaraan elit tersebut berhenti tepat di depan halaman luas rumah panggung Kyai Ahmad. Dari dalam mobil paling depan, turunlah seorang pemuda berpakaian jas rapi bermerk terkenal, didampingi oleh kedua orang tuanya yang mengenakan perhiasan emas berkilauan di sekujur tubuh mereka. Pemuda itu adalah Bagaskara—seorang pengusaha muda sukses di bidang perkebunan dan properti dari kota kabupaten yang terkenal kaya raya.
Sementara itu, di dalam rumah panggung, Shasmira yang tengah merapikan buku-buku catatan mengajarnya di serambi mendadak tertegun mendengar suara keramaian di luar halaman. Ia mengerutkan keningnya, tidak mengira rumah ayahnya akan kedatangan tamu penting dalam jumlah besar pagi-pagi sekali tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Nyai Siti, sang ibu, bergegas keluar dari ruang dalam dengan wajah panik bercampur penasaran, merapikan jilbabnya sambil melangkah mendekati jendela serambi.
"Ada tamu penting siapa pagi-pagi begini, Shas? Ramai sekali di halaman," tanya Nyai Siti dengan nada cemas.
Shasmira menggeleng pelan, meletakkan bukunya di atas meja kayu. "Shas juga tidak tahu, Bu. Mari kita temui Abah di ruang tamu."
Belum sempat mereka melangkah lebih jauh, Kyai Ahmad sudah berjalan mendekati serambi dengan mengenakan peci hitam dan pakaian koko putih yang bersih. Sang kiai menyambut para tamu terhormat tersebut dengan senyuman tenang, meskipun sorot matanya menyiratkan keheranan atas kehadiran rombongan mewah yang datang secara mendadak ke kediamannya.
❖ ❖ ❖
Pintu utama rumah panggung dibuka lebar-lebar. Bagaskara bersama kedua orang tuanya melangkah masuk dengan senyuman percaya diri, disambut langsung oleh Kyai Ahmad di ruang tamu utama. Para kerabat dan pengawal yang mendampingi mereka menunggu dengan tertib di area teras luar, sementara beberapa kotak hantaran mewah berukuran besar mulai ditata rapi oleh pembawa acara rombongan di dekat meja tamu.
"Selamat pagi, Kyai Ahmad. Mohon maaf kedatangan kami sekeluarga pagi-pagi begini tanpa memberitahu terlebih dahulu," sapa ayah Bagaskara dengan nada suara yang lantang dan penuh wibawa.
Kyai Ahmad mengangguk ramah, mempersilakan tamunya duduk di kursi kayu jati utama. "Selamat pagi kembali. Silakan duduk, mari. Ada urusan penting apa sehingga berkunjung ke rumah kami sepagi ini?"
Bagaskara duduk di samping ayahnya, menatap sekeliling ruangan sebelum akhirnya mengarahkan pandangannya langsung kepada Kyai Ahmad. "Langsung saja, Kyai. Kedatangan kami ke sini membawa niat yang sangat serius. Saya, Bagaskara, bermaksud melamar putri Kyai Ahmad yang bernama Shasmira untuk menjadi pendamping hidup saya."
Mendengar pernyataan langsung tersebut, suasana di ruang tamu mendadak terasa senyap. Nyai Siti yang berdiri di ambang pintu bersama Shasmira terkesiap kaget. Bagaskara bukanlah pemuda sembarangan; ia dikenal sebagai salah satu pengusaha muda paling berpengaruh di wilayah kabupaten dengan aset kekayaan yang melimpah ruah.
Tidak lama kemudian, ayah Bagaskara membuka koper kecil berisi dokumen kepemilikan aset dan perhiasan berharga tinggi, lalu menawarkannya sebagai simbol keseriusan lamaran. "Sebagai bukti kesungguhan kami, lamaran ini datang dengan tawaran mahar istimewa berupa kepemilikan lahan perkebunan luas di kota kabupaten, satu unit rumah mewah, serta fasilitas kemewahan finansial yang akan menjamin masa depan Shasmira seumur hidup tanpa kekurangan suatu apa pun."
Warga desa yang mengintip dari luar pagar rumah panggung sontak berdecak kagum melihat kemewahan mahar yang ditawarkan oleh sang pengusaha muda. Di tengah gelombang desas-desus kekaguman warga tersebut, ketenangan jiwa Shasmira kembali diuji oleh gelombang godaan duniawi yang datang secara tiba-tiba di depan matanya.
❖ ❖ ❖
Suasana ruang tamu terasa semakin berat oleh beban penawaran fantastis yang baru saja dilontarkan. Nyai Siti, yang berdiri di samping Shasmira, sempat tertegun sejenak, merenung dalam hati membayangkan masa depan putrinya yang akan terjamin secara materi apabila menerima lamaran dari pengusaha sukses tersebut. Di dunia yang penuh dengan himpitan ekonomi, tawaran seperti itu tentu menjadi impian bagi banyak orang tua di desa.
Namun, Shasmira tetap berdiri tegak dengan ketenangan luar biasa di balik balutan jilbab sederhananya. Ia menarik napas dalam-dalam, menyadari bahwa ketenangan batinnya sedang diuji bukan oleh fitnah kemiskinan, melainkan oleh kilau kemewahan dunia yang dapat melenyapkan prinsip hidup seseorang.